AIPA Sebagai Akselerator ASEAN Community 2020

ASEAN sebagai organisasi negara-negara di Asia Tenggara saat ini sedang bergerak maju menuju integrasi ekonomi, keamanan, dan sosial budaya yang pada tujuan akhirnya adalah terbentuknya ASEAN Community pada tahun 2020. ASEAN Community merupakan komunitas antar bangsa yaitu komunitas yang tersusun dari bangsa dan negara yang berbeda. Melalui ASEAN Community, ASEAN bisa lebih pasti dalam mewujudkan perdamaian, stabilitas keamanan, dan keadilan ekonomi dalam lingkup Asia Tenggara, dan sekaligus memperkuat posisinya dalam lingkup Asia Pasifik. Membentuk komunitas bangsa ini pastinya bukan pekerjaan yang mudah sehingga diperlukan waktu lama dan usaha yang keras dan serius dari berbagai pihak yang terlibat: organisasi ASEAN sendiri sebagai penggagas, berbagai kalangan di masing-masing negara anggota (pemerintah, swasta, badan negara, dan rakyat), dan organisasi lingkup Asia Tenggara lainnya seperti AIPA.

Di kalangan pemerintah negara anggota ASEAN sudah jelas ke arah mana ASEAN Community 2020 bergerak karena ASEAN sendiri memang menjadi representasi perkumpulan pemerintah negara di Asia Tenggara. Tugas yang berat adalah bahwa pemerintah masing-masing negara tidak bergerak sendiri dalam menentukan kebijakan yang mendukung realisasi ASEAN Community 2020 melainkan tergantung juga pada badan penentu kebijakan lainnya di dalam negara tersebut. Seperti di Indonesia, pemerintah tidak bisa secara sendiri menentukan kebijakan seperti undang-undang dan peraturan, tetapi harus bekerjasama dengan DPR. Dari kasus ini menjadi cukup jelas bahwa kalangan parlemen di masing-masing negara anggota ASEAN perlu mendapat sosialisasi dan bahkan terlibat langsung dalam isu-isu regional tersebut. Dari titik ini sudah cukup terlihat peran strategis dari AIPA.

ASEAN Inter-Parliamentary Assembly yang disingkat AIPA merupakan nama baru dari ASEAN Inter-Parliamentary Organization (AIPO). AIPO dibentuk pada tahun 1977 mengikuti deklarasi pembentukan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) 10 tahun sebelumnya dengan tujuan untuk menyatukan parlemen-parlemen atau lembaga legislatif negara-negara anggota ASEAN. Dalam perjalanannya AIPO sudah banyak menghasilkan resolusi mengenai isu bersama di lingkup ASEAN. Resolusi ini kemudian lewat parlemen atau badan legislatif masing-masing negara anggota disosialisasikan dan direkomendasikan kepada pemerintah masing-masing negara dan pihak terkait untuk melaksanakan resolusi tersebut. Melalui perubahan O menjadi A, AIPA ditujukan menjadi institusi yang lebih efektif dan terintegrasi terutama dalam usaha memfasilitasi pencapaian Visi ASEAN 2020 yang mengarah pada pembentukan ASEAN Community.

AIPA merupakan mitra ASEAN. ASEAN dan AIPA berkomunikasi melalui saling menghadiri Sidang Umum masing-masing organisasi. Demikian pula masing-masing organisasi sudah memiliki perwakilan untuk saling berkomunikasi: AIPA melalui Presiden AIPA dan ASEAN melalui Sekretaris Jenderal ASEAN. Melalui komunikasi yang baik antara 2 organisasi tingkat Asia Tenggara ini akan didapatkan kerjasama yang efektif dan sinergis.

Melalui AIPA arus informasi mengenai ASEAN Community bisa lebih cepat mengalir ke masing-masing negara. Bila di tingkat Asia Tenggara, ASEAN dan AIPA bermitra dengan tujuan yang sama, maka dengan aliran informasi yang sama dari ASEAN ke pemerintah dan dari AIPA ke parlemen masing-masing negara anggota maka pemerintah dan parlemen atau badan legislatif masing-masing negara juga memiliki tujuan yang sama juga. Parlemen atau badan legislatif yang nota bene merupakan perwakilan rakyat di masing-masing negara pastinya memiliki akses yang lebih baik dalam menjaring suara rakyat konstituennya dan sebaliknya juga bisa menjadi jalur komunikasi yang baik dari atas ke bawah yang bisa digunakan untuk mensosialisasikan informasi dan kebijakan menuju ASEAN Community ini. Dengan jalur ini AIPA bisa mendobrak mindset dari “ASEAN hanya untuk kalangan elit pemerintah dan pejabatnya yang mengerti kegiatan ASEAN”, menjadi “ASEAN untuk seluruh penduduk yang bermukim di Asia Tenggara baik pelaksana bisnis, pemuda, petani, dan semua rakyat sipil”, karena memang ini yang sebenarnya terjadi nanti setelah ASEAN Community terbentuk: individu penduduk lah yang menjadi subyek dari ASEAN Community.

Melalui AIPA, anggota parlemen atau badan legislatif masing-masing negara anggota secara tidak langsung dipersenjatai dengan pandangan yang jelas tentang ASEAN Community. Anggota parlemen atau badan legislatif bisa sepaham dengan pemerintah dalam membahas isu regional maupun nasional yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung perwujudan ASEAN Community, dan dilain sisi juga bisa mengawasi kebijakan pemerintah bila tidak sejalan dengan perwujudan ASEAN Community. Tantangan besar dalam mewujudkan ASEAN Community pada dasarnya berada pada tingkat nasional yaitu bagaimana kondisi negara bisa memberi kontribusi yang sejalan terhadap tercapainya ASEAN Community; atau istilahnya bagaimana mensinkronkan implementasi di tingkat nasional dengan kebijakan tingkat regional atau sebaliknya bagaimana kebijakan tingkat regional yang sudah diputuskan bisa diimplementasikan secara bagus di tingkat nasional. Penyesuaian pertumbuhan negara yang sejalan dengan ASEAN Community merupakan hal yang diharapkan, dan ini hanya bisa terwujud bila penentu kebijakan di tingkat nasional juga memahami konsep dan kebijakan ASEAN Community. Di sinilah peran besar AIPA dalam mengedukasi dan menginformasi anggotanya dalam isu ASEAN Community.

Melalui AIPA jalur komunikasi dari atas ke bawah juga dimungkinkan. Masukan dari masing-masing negara anggota atau lebih kecil lagi dari masyarakat atau organisasi di luar pemerintah bisa dibawa ke forum regional sehingga bisa menjadi pertimbangan bagi Sidang Umum dalam memutuskan suatu kebijakan. Dalam kasus komunitas bangsa yang pastinya masing-masing bangsa memiliki pandangan politik berbeda, latar belakang berbeda, tingkat ekonomi berbeda, sosial budaya berbeda, dan perbedaan lainnya maka aliran aspirasi dari masing-masing bangsa atau negara perlu dikanalisasi sehingga bisa ditampung dan diproses lebih lanjut. Keikutsertaan rakyat secara langsung dalam proses menuju ASEAN Community ini pasti akan bisa mempercepat perwujudannya. Dengan demikian praktek demokrasi secara benar bisa dilaksanakan dalam menuju ASEAN Community ini.

Secara singkat memang tepat transformasi AIPO menjadi AIPA. Dalam beberapa uraian di atas secara jelas menguraikan bagaimana AIPA sebagai organisasi antar-parlemen tingkat Asia Tenggara bisa mengakselerasi pencapaian tujuan ASEAN Community 2020. AIPA memungkinkan ASEAN Community 2020 yang merupakan inisiatif regional dilaksanakan oleh pihak nasional secara lebih efektif, dan sebaliknya memungkinkan inisiatif nasional menjadi bagian dari inisiatif regional.

Sebagai penutup ingin diajukan yang masih menjadi pertanyaan setelah ASEAN Community terwujud di tahun 2020 adalah bagaimana kelanjutan dari AIPA. Ada 2 kemungkinan yaitu pertama: secara organisasi AIPA tetap seperti sekarang namun dengan tujuan dan tugas yang diperluas; kedua: AIPA berubah menjadi seperti Parlemen Uni Eropa. Kemungkinan pertama didukung oleh perbedaan kondisi politik negara anggota yang mempersulit terbentuknya kemungkinan kedua, namun perluasan tujuan dan tugas organisasi secara tepat sudah bisa memenuhi kebutuhan terhadap proses pengambilan keputusan bersama baik dalam memutuskan hal baru maupun dalam membicarakan perbedaan pendapat yang timbul antar anggota. Bila melihat kepada keberhasilan Parlemen Uni Eropa maka kemungkinan kedua menunjukkan kinerja yang efektif dalam mengelola suatu komunitas antar bangsa. Apapun arah dan pilihannya, bagaimanapun ini merupakan pekerjaan rumah selanjutnya dari AIPA yang harus mulai dipikirkan dan dirumuskan mulai dari sekarang.

(Julius Hermawan, disertakan pada Lomba Karya Tulis Tentang Asean Inter-Parliamentary Organization – 2007)

Advertisements