Air Lancar, Hidup Lebih Nyaman

Pendahuluan

Enam puluh persen tubuh manusia tersusun dari air. Untuk menjaga keseimbangan komposisi tubuh, setiap hari manusia disarankan mengkonsumsi minimal empat liter air per hari. Air minum menjadi kebutuhan utama manusia, disamping itu manusia juga memerlukan air bersih dalam kehidupan sehari-hari untuk masak, mandi, cuci, dan keperluan rumah tangga lainnya. Kebutuhan ini sudah menjadi kebutuhan dasar manusia sejak jaman dulu. Tidak banyak isu mengenai kelangkaan persediaan air bersih di jaman dulu, kebanyakan disediakan alam melalui sungai dan air tanah. Namun dalam perkembangan peradaban manusia yang ditandai oleh perkembangan industrialisasi dan eksploitasi sumber daya alam (bahan tambang dan hutan), berbagai macam bentuk pencemaran dan polusi menyerang ketersediaan air bersih untuk dikonsumsi. Limbah industri berupa bahan-bahan beracun mencemari air sungai dan air tanah. Eksploitasi hutan menyebabkan pengurangan daya serap bumi terhadap air.

Kondisi ini diperburuk dengan lonjakan jumlah penduduk yang otomatis memperbesar tingkat kebutuhan akan air minum dan air bersih. Menurut data World Health Organization (WHO) diperkirakan 1.1 milyar orang di negara miskin tidak memiliki akses ke air minum, dan diperkirakan 508 juta penduduk tinggal di 31 negara kekurangan air (water-stressed country: penyediaan air bersih sebanyak 1000 – 1700 meter kubik per penduduk atau water-scarce country: penyediaan air bersih kurang dari 1000 meter kubik per penduduk). [1]

Indonesia masuk dalam kelompok water-stressed country. Penyediaan air minum dan air bersih bagi penduduk masih belum tersebar merata ke seluruh negeri, masih terpusat pada perkotaan. Di wilayah kota pun kebanyakan belum 100 persen kebutuhan rumah tangga bisa dilayani oleh pihak penyedia yaitu perusahaan air minum baik yang dikelola pemerintah daerah maupun swasta. Masih bisa dilihat penduduk kota menggunakan sumber air tanah dan air sungai yang tercemar untuk kebutuhan rumah tangga. Berdasarkan data dari WHO (2002) penyebaran air minum dan bersih di Indonesia sudah mencakup 78 persen dari 217 juta populasi yaitu bisa diakses oleh 89 persen penduduk perkotaan (44 persen populasi) dan 69 persen penduduk pedesaan (56 persen populasi). [1] Kualitas air yang dihasilkan oleh perusahaan air tersebut pun belum bisa memenuhi kriteria yang diharapkan, bisa dilihat dari nama perusahaan yang mengacu pada air minum namun air yang dihasilkan masih belum layak untuk langsung minum. Belum lagi masalah lain di luar distribusi, seperti penentuan tingkat harga jual air yang lebih sering menimbulkan konflik sosial horisontal yang ditandai dengan demo penolakan oleh penduduk terhadap perusahaan air minum yang berencana menaikkan biaya [2][3][4].

Dalam tulisan ini akan dibahas beberapa usulan aksi yang dapat meningkatkan penyediaan air minum dan bersih bagi seluruh penduduk kota baik penduduk kaya maupun penduduk miskin. Pembahasan dimulai dengan penyediaan air baku yang merupakan syarat pertama yang harus dipenuhi agar bisa menghasilkan air minum dan bersih dalam jumlah yang dibutuhkan. Pembahasan berlanjut dengan pengelolaan dan penggunaan air minum dan bersih yang efisien yang merupakan syarat kedua agar sumber daya yang sekarang langka ini bisa secara optimal dimanfaatkan. Bila kedua syarat di atas bisa dilaksanakan dan dipenuhi maka masalah akses terhadap air minum dan bersih oleh semua golongan penduduk bisa diatasi. Dengan tersedianya pasokan air minum dan bersih yang cukup akan berdampak langsung terhdap kesehatan dan status ekonomi rumah tangga, yang secara lebih luas lagi akan meningkatkan status sosial dan ekonomi kota dan negara.

Meningkatkan Ketersediaan Air Baku

Sumber utama air baku untuk diolah berasal dari sungai, danau, dan waduk/dam. Sungai dan danau menerima air dari sumber air pegunungan, sumber air tanah, maupun sumber air hujan. Konservasi alam seperti penghijauan, penetapan daerah cagar alam, pembersihan sampah dan tanaman pengganggu, dan pemindahan endapan lumpur merupakan salah satu langkah yang bisa ditempuh untuk mempertahankan pasokan air baku yang sudah ada. Penambahan pasokan air bisa dilakukan dengan memperluas areal penampungan seperti pengerukan dasar sungai, memperpanjang anak sungai, dan membuat waduk/dam baru; namun konsekuensinya adalah adanya penambahan alokasi lahan untuk penampung air baku ini dan yang selama ini sudah dibuktikan bahwa pembangunan waduk/dam akan berhadapan dengan proses pembebasan tanah seperti pembangunan waduk Kedung Ombo yang menenggelamkan 37 desa dan 7 kecamatan berpenghuni 5268 keluarga [5] dan waduk Three Gorges di China yang harus memindahkan 1,13 juta orang [6]. Diperlukan biaya yang sangat besar baik dalam nilai uang, nilai kemanusiaan, dampak lingkungan maupun dampak sosial budaya. Ada juga pendekatan serupa namun dalam skala lebih kecil yaitu dengan membangun area penangkapan air hujan sebanyak mungkin. Air hujan yang ditangkap kemudian ditampung dalam waduk-waduk kecil atau melalui sistem terowongan bawah tanah dihubungkan ke sumber air.

Diperlukan cara-cara baru yang dapat memperbanyak alternatif penyediaan air baku untuk diolah menjadi air bersih. Cara terbaru untuk menambah daya tangkap dan resap air yang paling baru adalah lubang resapan biopori yang dicetuskan oleh Kamir R. Brata dari Institut Pertanian Bogor. [9] Lubang resapan biopori ini bisa menjadi alternatif yang murah dan efektif. Lubang resapan ini seperti namanya akan membantu kemampuan tanah untuk menghisap dan menyimpan air. Lubang berdiameter 10 centimeter diisi dengan sampah organik yang kemudian bisa menjadi tempat hidup makhluk hidup tanah yang kemudian akan membuat lubang-lubang di dalam tanah yang kemudian bisa menjadi jalur masuk air ke dalam tanah. Seperti cerita pencetusnya lubang biopori buatan ini diilhami oleh kondisi alam di hutan yang ternyata memiliki banyak lubang di dalam tanahnya sehingga mampu menjadi daerah resapan air.

Satu pendekatan lain yang bisa dipilih adalah “to get the most from the water we have”, yaitu menggunakan air yang ada secara berulang. Sebagai prasyarat untuk bisa menggunakan air yang ada secara berulang adalah bahwa:

· sebelum air yang bekas pakai dikembalikan ke sumber air (sungai, danau, dam) harus melewati proses tambahan yang mengolah air bekas pakai menjadi air baku yang siap diolah menjadi air minum.

· Perlu ada infrastruktur yang memungkinkan air yang bekas pakai dan dibuang oleh penduduk akan dialirkan ke pusat pengolahan dan dari sana dikembalikan ke saluran yang mengalir ke sumber air.

· Penduduk perlu disosialisasikan dengan penggunaan air secara benar, sama seperti sosialisasi pembuangan sampah yang memisahkan antara sampah basah dan kering, sampah rumah tangga dan sampah beracun, demikian pula dengan pembuangan air bekas pakai. Hanya air yang bekas pakai untuk keperluan rumah tangga (mandi, cuci, masak) yang bisa dibuang ke saluran yang akan kembali ke sumber air.

Beberapa negara telah memanfaatkan pendekatan ini yang dikenal dengan sebutan water reclamation seperti proyek Water Factory 21 di California, Amerika Serikat sudah dimulai sejak pertengahan tahun 1960-an [7] dan proyek NEWater di Singapura yang dimulai sejak tahun 1998 [8]. Pemakaian kembali air yang ada secara langsung memutar siklus air sehingga seperti siklus energi yang menyatakan tidak ada energi yang hilang melainkan berubah bentuk bisa didekati oleh air sehingga otomatis jumlah air yang beredar diusahakan pada jumlah yang konstan. Pendekatan ini juga bisa mengurangi kebutuhan untuk mencari sumber air baru yang relatif lebih mahal dalam pembiayaan.

Pendekatan lainnya adalah dengan jalan sebaliknya yaitu tidak menambah persediaan air baku, namun dengan cara mengurangi konsumsi air, seperti slogan yang dibunyikan oleh pihak pengelola air di Batam “Air Sumber Daya Langka, Hemat Penggunaannya “. Pendekatan ini sangatlah “people oriented” jadi diperlukan pendekatan dan pengiklanan yang efektif untuk mensosialisasikan apa-apa yang perlu dilakukan penduduk untuk hemat menggunakan air.

Efisiensi Pengelolaan dan Penggunaan Air Minum dan Bersih

Setelah ketersediaan air baku aman dibandingkan dengan kebutuhan sesuai dengan jumlah penduduk yang dilayani, maka pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang baiknya mengelola pengolahan air dan mendistribusikannya sehingga bisa efisien dan efektif dan merata ke seluruh penduduk kota. Selama ini ada 2 argumen yaitu baiknya pemerintah dan baiknya swasta. Penyokong pemerintah sebagai pengelola pengolahan dan pendistribusian air menonjolkan pada argumen bahwa air merupakan benda yang menguasai hajat hidup orang banyak yang dikumandangkan dalam UUD 1945 untuk dikuasai oleh negara., dan diharapkan dengan dikuasai oleh negara maka pengaturan distribusi kepada penduduk dapat dilakukan secara merata, sementara bila dipegang oleh swasta mereka kuatir bahwa akan terjadi monopoli dan ekonomisasi air sehingga golongan miskin akan tersisihkan dalam mendapatkan air bersih. Sementara penyokong pengelolaan oleh swasta bermula dari kekecewaan terhadap pemerintah yang tidak dapat mengelola secara baik dan kemudian didukung oleh argumentasi bahwa swasta memiliki modal finansial dan modal teknikal yang lebih baik dari pemerintah, namun kembali ke prinsip ekonomi maka hal ini harus diimbangi dengan pemberian harga jual air yang menguntungkan bagi swasta untuk menutup investasi yang mereka tanamkan. Namun subsidi oleh pemerintah maupun harga “relatif tinggi” oleh swasta, temuan WHO menyatakan bahwa penduduk kaya menggunakan air minum dan bersih dua kali lebih banyak dari penduduk miskin [1]. Hal ini mengindikasikan bahwa memang diperlukan suatu sistem yang dapat secara ‘adil’ membuka akses air minum dan bersih kepada semua penduduk, khususnya lagi sistem yang dapat menyediakan air secara efisien, air yang berkualitas dengan harga yang terjangkau bagi penduduk miskin.

Membuka akses air minum dan bersih kepada semua penduduk dapat dimulai dengan membangun infrastruktur perpipaan yang dapat mengalirkan air ke seluruh pelosok kota. Pembangunan infrastruktur yang ideal ini memang akan memakan waktu yang lama dan biaya yang cukup besar, namun sebenarnya kunci keberhasilannya ada di tahap perencanaan dan perancangannya (plan & design). Di tahap ini seharusnya sudah melibatkan semua pihak atau instansi yang berkaitan seperti Departemen Pekerjaan Umum dan dinasnya, Departemen Lingkungan Hidup dan dinasnya, pengelola air minum dan bersih, Dinas Tata Kota, Badan Pertanahan, dan yang terkait lainnya; jadi bukan hanya pengelola air minum dan bersih saja. Karena selain perancangan sistem perpipaan juga perlu ditentukan titik-titik sumber air yang digunakan, mana daerah resapan dan konservasi pendukungnya, apakah diperlukan pembebasan tanah, dan lain sebagainya. Bila diperhatikan pengelolaan air ini kenyataannya banyak bersinggungan dengan isu-isu lain misalnya sungai yang menjadi sumber air juga menjadi sumber irigasi dan pencegah banjir di perkotaan dan penanaman pipa jaringan air harus disesuaikan dengan rancangan tata kota hingga bisa tepat memasok ke daerah pemukiman, pasar dan industri.

Ketidak merataan akses air minum dan bersih juga bisa disebabkan adanya kebocoran atau kehilangan air antara jalur air keluar dari pusat pengolahan sampai digunakan oleh penduduk. Kebocoran bisa terjadi karena infrastruktur yang rusak seperti pipa yang bocor atau akibat ‘dibajak’ oleh pihak lain yang tidak bertanggung jawab, atau bisa juga karena disedot oleh konsumen dengan tujuan menimbun untuk diperjual-belikan. Kehilangan air karena pipa bocor seharusnya bisa dideteksi secara dini oleh pengelola air bersih melalui sistem monitoring yang baik, dan memang seharusnya kehilangan akibat pipa bocor bisa ditekan sampai titik nol karena bila sekali terjadi dan tidak terdeteksi secara dini maka bisa dibayangkan banyaknya jumlah air yang sudah ‘susah payah’ diolah hilang begitu saja tanpa digunakan. Sementara kebocoran karena pembajakan dan penimbunan sebaiknya diatasi dengan menetapkan peraturan yang memberikan sangsi yang berat kepada pelaku pembajakan dan penimbunan, dan kemudian peraturan ini dilaksanakan secara ketat dan disiplin oleh instansi yang berwenang.

Pemakaian air minum dan bersih yang lebih banyak oleh penduduk kaya dibandingkan oleh penduduk miskin memang wajar, karena kegiatan yang dilakukan oleh penduduk kaya akan lebih banyak. Mereka memerlukan air tidak hanya untuk minum, mandi, cuci dan memasak, tetapi juga untuk mencuci mobil yang berapa banyak jumlahnya minimum satu kali sehari, menyiram taman yang entah berapa ratus meter persegi luasnya, mengisi kolam renang, mengisi kolam ikan hias dengan pancuran atau dekorasi air terjunnya, dan lain sebagainya. Untuk menyiasati penggunaan yang berlebih ini memang telah umum diterapkan sistem harga bertingkat misalnya 10 meter kubik pertama harga termurah, 10 meter kubik kedua dua kali dari harga 10 meter kubik pertama, harga 10 meter kubik ketiga tiga kali dari harga 10 meter kubik pertama, dan seterusnya. Namun kondisi ini tidak akan mengurangi penggunaan air secara berlebih oleh penduduk yang kaya bila mereka sanggup membayarnya. Pendekatan yang lain yang bisa menghemat penggunaan air bersih dan minum yang berasal dari sumber yang mulai langka, diolah dengan teknologi yang bagus, dan dengan mengeluarkan biaya yang besar sehingga dihasilkan air yang berkriteria bersih dan siap minum adalah dengan memprioritaskan penggunaan air minum dan bersih tersebut untuk kegiatan yang memang memerlukan air berkualitas misalnya untuk keperluan minum, masak, dan mandi. Untuk keperluan lain misalnya seperti untuk membilas kakus (yang bilang dihitung-hitung cukup banyak mengkonsumsi air) yang sebenarnya memerlukan air dengan kualitas di bawah kualitas air minum dan bersih, sebaiknya menggunakan air dengan kualitas di bawahnya juga. Namun menjadi pertanyaan bagaimana mendapatkan air kualitas dua ini?

Ada dikenal teknologi penggunaan ulang air bekas pakai yang kebanyakan sudah dipakai oleh industri secara internal untuk mengolah air bekas pakai keperluan manusia (minum, makan, mandi, cuci dan pembersihan) menjadi air yang memenuhi kualitas industri untuk selanjutnya dipakai bagi keperluan yang berhubungan dengan mesin: air pendingin, air pencuci mesin, dan bahkan untuk pembilas kakus. Untuk keperluan rumah tangga, air bekas yang dimaksud adalah air bekas pakai masak, mandi, dan cuci rumah tangga. Air bekas ini kemudian ditampung di saluran pembuangan yang diarahkan ke pusat pengolahan air bekas. Pusat pengolahan ini bisa dibangun per rumah tangga ataupun persektoral wilayah. Per-rumah tangga ideal diterapkan untuk rumah yang mengkonsumsi air sangat besar, per-sektoral wilayan ideal diterapkan untuk sejumlah rumah yang menggunakan air sedikit dan menengah (namun untuk tujuan ini diperlukan kesepakatan yang baik antara pengguna). Setelah diolah, air kemudian disalurkan lewat perpipaan yang terpisah dari perpipaan air minum dan bersih yang sudah ada. Jadi di dalam rumah tangga tersendiri akan ada 2 sistem pipa yaitu pipa air minum dan bersih yang dialirkan untuk keperluan minum, makan, mandi dan cuci; dan pipa air hasil olahan air bekas yang dialirkan untuk keperluan bilas kakus, siram tanaman, dan lain-lain. Secara teknologi memang perlu dicarikan teknologi tepat guna (sederhana, murah, dan efektif) yang bisa diterapkan di dalam lingkup rumah tangga.

Kesimpulan

Hidup di kota sekarang ini memang serba rumit: macet, polusi, banjir, dan yang sering membuat pusing bila pasokan air minum dan bersih terhenti. Hidup akan lebih nyaman bila kekhawatiran kekurangan air minum dan bersih bisa dihilangkan. Tapi untuk itu diperlukan beberapa usaha keras dan disiplin dari berbagai pihak: pemerintah, swasta, dan masyarakat sendiri untuk peduli pada air. Bagaimana bisa berpartisipasi dalam menjaga dan meningkatkan pasokan air baku: misalnya dengan menjaga dan menambah daerah resapan air, menggunakan air secara hemat, dan menggunakan kembali air bekas. Bagaimana semua instansi yang terkait dengan air bisa bekerjasama dan dikoordinasikan untuk merencanakan dan merancang sistem pengelolaan air minum dan bersih yang komprehensif. Bagaimana pengelolaan air minum dan bersih bisa diusahakan secara efisien dan benar tidak tergantung pada siapa yang mengelola (pemerintah atau swasta) namun lebih kepada output yang dihasilkan yaitu air minum dan bersih yang berkualitas, murah, dan terjangkau oleh penduduk miskin sekalipun. Hasil akhirnya adalah satu masalah yang membuat hidup di kota kurang nyaman bisa teratasi bersama.

Referensi

[1] UNICEF and WHO, Meeting the MDG Drinking Waters and Sanitation Target: A Mid-Term Assessment of Progress, http://www.who.int/entity/water_sanitation_health/monitoring/jmp04.pdf, 2004.

[2] LSM Ancam Gugat OB Jika Nekat Keluarkan SK Kenaikan Tarif Air, Batam Pos, Juli, 2007

[3] Rini Kustiani, Warga Depok Demo Kenaikan Tarif Air, Tempo Interaktif, Desember, 2005.

[4] YLKI: Audit Pengelola Air Minum, Republika Online, Januari, 2006.

[5] Wikipedia, Kasus Kedung Ombo, http://id.wikipedia.org/wiki/Kasus_Kedung_Ombo , Desember, 2006.

[6] Wikipedia, Three Gorges Dam, http://en.wikipedia.org/wiki/Three_Gorges_Dam , Juli, 2007.

[7] Orange Country Water District, http://www.ocwd.com/_html/wf21.htm .

[8] Singapore Public Utilities Board, http://www.pub.gov.sg/NEWater_files/index.html .

[9] Adek Media & Deffan Purnama, Lubang Mini Penyerap Air, http://digilib.ampl.or.id/detail/detail.php?row=0&tp=artikel&ktg=airminum&kd_link=&kode=1674 , Juni, 2007.

(Julius Hermawan, disertakan untuk Sayembara Karya Tulis Ilmiah “Menuju Kota yang Lebih Manusiawi di Indonesia” The Institute for Science and Technology Studies, Chapter Japan (ISTECS Japan) Bekerja sama dengan PPI Jepang dan The Humane City Foundation Juni-Agustus 2007)

Advertisements