Menghindari Episode: Ice Age the Meltdown

Pernah lihat film box office “Ice Age: the Meltdown” yang diproduksi tahun 2006 ? Di film animasi ini digambarkan migrasi mahkluk hidup menghindari mencairnya salju es di bumi. Mencairnya salju es dibesar-besarkan dengan lepasnya dua reptil laut dari jaman Mesozoic yang bentuknya mirip buaya sekarang dari sangkar es-nya dan memburu para migran tersebut untuk menutup rasa laparnya setelah ratusan tahun membeku di dalam perangkap es. Film ini juga diwarnai dengan isu punahnya kelompok mammoth atau gajah raksasa akibat cairnya es dan hanya tersisa satu yang menjadi tokoh utama dari film ini, dia bermigrasi sambil berusaha menemukan kembali kawanannya.

Setelah alur ceritanya yang perlu diperhatikan adalah animasi dari film tersebut dalam menggambarkan cairnya salju es dan dampaknya terhadap lingkungan. Efek filmnya menunjukkan dampak yang mendebarkan dan menakutkan. Nah mungkin itu yang bisa menggambarkan bagaimana bila pemanasan global terus berlanjut dan mengakibatkan salju es di kutub mencair. Air dalam bentuk cairan terus bertambah, permukaan laut meninggi, daratan jadi semakin rendah dari permukaan laut, dan ada kemungkinan ada daratan yang ditenggelamkan oleh air tersebut sehingga manusia dan hewan bermigrasi ke daratan yang masih aman. Inilah episode nyata dari film Ice Age. Akibat lain adalah perubahan pola cuaca dan musim, kemungkinan munculnya penyakit baru, dan ketidak mampuan spesies untuk bertahan hidup.

Pemanasan global adalah proses bertambahnya suhu rata-rata udara di permukaan bumi dan laut. Pada awalnya pemanasan global merupakan proses yang alami, hingga mulainya era industrialisasi di pertengahan abad ke 20 faktor non alami yang dibuat oleh manusia menjadi makin besar berpengaruh terhadap apa yang disebut greenhouse gas emission. Pembakaran bahan bakar minyak diperkirakan telah berkontribusi terhadap tiga per-empat kenaikan kandungan karbondioksida, satu per-empat kenaikan didapat dari perubahan alokasi lahan hutan dan pertanian. Dari sini terlihat bahwa pemanasan global merupakan proses yang secara alami memang sudah terjadi dan sesuatu yang alami tentunya masih bisa diadaptasi oleh alam juga sebagai proses alam yang bertumpu pada kekekalan energi. Namun karena proses pemanasan global sudah dipercepat oleh manusia, sang alam sudah tidak bisa mengadaptasi untuk menyeimbangkannya, dan inilah yang sepatutnya diperhatikan yaitu untuk mengembalikan proses pemanasan global sebagai proses yang alami.

Dari penyebab di atas dengan mudah bisa dijawab bagaimana cara menanggulangi pemanasan global yaitu mengurangi pembakaran bahan bakar minyak dan mengembalikan fungsi hutan untuk memperluas daya serap terhadap karbondioksida. Tetapi ternyata tidak semudah itu. Bahan bakar minyak merupakan penggerak roda aktivitas dunia. Melihat ke lingkup terkecil keluarga, bahan bakar minyak dalam bentuk listrik, gas, bensin dan minyak tanah amatlah akrab dalam hidup sehari-hari kita. Mulai di pagi hari, agar bisa mandi perlu memasak air menggunakan kompos gas atau kompor minyak tanah hingga panas untuk campuran air mandi. Berangkat ke sekolah dan kantor menggunakan motor berarti mengkonsumsi bensin. Untuk bekerja memerlukan listrik untuk penerangan ruangan, menyalakan komputer, dan menjalankan mesin produksi. Tidak mungkin untuk tidak menggunakan BBM sama sekali, jadi yang bisa dilakukan adalah mengurangi pemakaian dengan cara penghematan dan efisiensi. Jadi dalam konteks yang lebih luas yang ingin dicapai adalah kesetimbangan antara kegiatan pembangunan dan dampaknya terhadap lingkungan atau dengan kata lain tercapainya masyarakat Indonesia yang sejahtera melalui proses pembangunan yang berkelanjutan berdampingan dengan terjaganya kondisi lingkungan alam yang sehat melalui proses penjagaan dan pemeliharaan kealamian lingkungan hidup.

Jadi jelas bahwa isu pemanasan global sangat perlu dijadikan salah satu faktor pengaruh dalam menentukan kebijakan pembangunan. Banyak sektor pembangunan yang perlu memasukkan faktor pemanasan global ini. Salah satunya adalah pembangunan fisik gedung baik untuk gedung perkantoran, hotel, pabrik, sekolah, mal, dan lain-lain. Lembaga Commision for Environment Cooperation memperkenalkan istilah bangunan hijau (green building) yang mengacu pada gedung yang dibangun dengan menerapkan konsep dan menggunakan bahan yang ramah lingkungan baik di tahap disain, pemilihan lokasi, pembangunan gedung, pengoperasian gedung, hingga pada pengelolaan pembuangan limbah gedung tersebut. Gedung merupakan salah satu pemakan energi terbanyak dan pemberi dampak lingkungan yang terbesar. Gedung hijau didisain dan dibangun dengan menggunakan energi seminimal mungkin dan bisa secara swadaya menyediakan energi dari lingkungan sekitar gedung. Untuk menggunakan energi bahan bakar minyak semininal mungkin berarti gedung perlu didisain untuk bisa memanfaatkan sebesar-besarnya energi yang terbaharukan yang ada di sekitarnya: perencanaan aliran angin yang bagus akan mengurangi kebutuhan penggunaan AC, perencanaan masuknya sinar matahari akan mengurangi kebutuhan lampu penerangan di pagi dan siang hari, perencanaan tata letak terhadap posisi matahari akan mengurangi kebutuhan penggunaan AC dan lampu penerangan sekaligus. Bila tidak terhindarkan untuk menggunakan listrik-pun alat-alat yang digunakan adalah alat yang efisien seperti lampu hemat listrik yang kini sedang digalakkan oleh PLN. Dan yang lebih aktif lagi adalah bila gedung bisa menyediakan sendiri energi yang dibutuhkan dengan menggunakan energi terbaharukan yang ada di sekitarnya, seperti yang diterapkan di gedung Bahrain World Trade Centre. Bangunan setinggi 240 meter – 50 lantai ini dengan sengaja memasang 3 turbin angin yang ditempatkan di jembatan penghubung 2 menaranya untuk menghasilkan listrik mandiri dari aliran angin yang berasal dari arah teluk sehingga bisa mencukupi 15 persen dari kebutuhan gedung tersebut. Inilah tantangan bagi arsitek Indonesia untuk mulai memasukkan faktor pemanasan global dalam disain gedung dan rumah.

Satu lagi yang merupakan pemakan bahan bakar minyak yang besar adalah sarana transportasi. Dalam okezone.com disebutkan bahwa jumlah kendaraan pada tahun 2007 menurut Gaikindo adalah sebanyak 7,5 juta unit lebih dan bahan bakar yang dipergunakan oleh kendaraan sebanyak itu adalah sebanyak 18 juta kilo liter. Sebuah jumlah yang sangat besar. Lalu apa yang bisa dilakukan? Ya salah satunya adalah mengurangi jumlah kendaraan. Keinginan untuk memiliki kendaraan dipicu oleh beberapa alasan: memang diperlukan, transportasi umum yang tidak memadai, dan gengsi. Alasan kedua sudah banyak dibahas sehingga muncul berbagai alternatif solusi seperti busway di Jakarta yang ditujukan agar masyarakat beralih menggunakan transportasi umum sehingga selain mengurangi kemacetan juga dampaknya kepada pengurangan jumlah bahan bakar minyak yang dipergunakan dan dampak ke lingkungan adalah pengurangan emisi gas karbon.

Pengurangan pemakaian bahan bakar minyak oleh kendaraan bermotor juga bisa dilakukan dengan pengurangan frekuensi pemakaian kendaraan. Pemakaian kendaraan digunakan terutama bila jarak tempuh jauh. Lalu yang bisa dilakukan adalah menata kembali kota atau kompleks hunian perumahan agar menyediakan sarana kebutuhan publik yang terintegrasi sehingga masyarakat sekitar bisa melakukan aktivitas pada satu tempat yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Konsep ini sudah banyak diterapkan di beberapa kompleks perumahan yang ada. Selain mengurangi konsumsi bahan bakar karena jarak tempuh menjadi lebih singkat juga malah bisa menggantikan kendaran mobil dengan motor misalnya atau bahkan dengan sepeda karena memang jarak tempuhnya sudah feasible untuk ditempuh dengan sepeda. Penggunaan kendaraan bermotor hanya untuk mobilitas yang menempuh jarak jauh saja.

Beralih ke topik pengembalian fungsi hutan. Pengalihan lahan hijau juga memang tidak terhindarkan dalam proses pembangunan apalagi atas nama pembangunan dan kepentingan nasional. Banyak alokasi hutan lindung yang beralih fungsi menjadi hutan komersial untuk industri, seperti halnya yang dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2008 yang secara resmi mengijinkan penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan. Berdasarkan data dari Badan Planologi Kehutanan, Departemen Kehutanan pada tahun 2004 – 2005 di 7 pulau besar di Indonesia terjadi deforestasi sebesar 962 ribu hektar, dan rata-rata tingkat deforestasi antara tahun 2000 sampai tahun 2005 adalah 1 juta hektar per tahunnya. Yang bisa dilakukan untuk menggantikan lahan hutan yang hilang adalah dengan menciptakan kawasan yang memiliki fungsi sama dengan hutan. Salah satu langkah ini adalah dengan membangun hutan kota yaitu kawasan hijau di dalam lingkungan kota seperti telah diatur dalam Peraturan Pemerinth Nomor 63 Tahun 2002 yang menyatakan bahwa minimum 10 persen dari luas kota dimanfaatkan untuk hutan kota. Fungsi utama dari hutan kota sama seperti fungsi hutan terletak pada peran tumbuhan di dalamnya terutama melalui proses fotosintesis yang merubah karbondioksida menjadi oksigen. Selain hutan kota yang terintegrasi maka hutan rumah yang tersebar dalam tiap rumah pun bisa mengembalikan fungsi hutan yang sebenarnya walaupun hanya sebagian dari fungsi hutan tersebut.

Jadi sebagai kesimpulan banyak yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bumi dengan mengurangi laju pemanasan global sehingga kembali ke proses yang alami. Mengurangi pembakaran bahan bakar minyak yang menghasilkan emisi karbon dan mengembalikan fungsi hutan yang menyerap karbondioksida merupakan dua langkah utama yang bisa ditempuh yang kemudian bisa dijabarkan lebih detil untuk menjadi aktivitas nyata yang bisa dilakukan oleh setiap individu, keluarga, masyarakat, swasta, organisasi, negara, dan dunia. Bagi kita masyarakat Indonesia banyak hal di sekitar kita yang bisa dilakukan seperti diuraikan di atas. Bagi pemerintah Indonesia banyak kebijakan yang bisa dikeluarkan untuk mendukung penyelamatan bumi ini. Sama seperti akhir dari film “Ice Age: the Meltdown” yang berakhir happy ending, demikian juga harapan kita dengan semua yang telah dan akan dilakukan: generasi sekarang terus membangun dan dilanjutkan dengan anak-cucu sampai entah generasi keberapa dalam bumi yang aman dan nyaman.

(Julius Hermawan, dalam rangka Tahun Bumi 2008)

Referensi:

Commision for Environment Cooperation. www.cec.org .

Film Ice Age: the Meltdown. Versi DVD.

Departemen Kehutanan RI. www.dephub.go.id .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s