PERAN MASYARAKAT DALAM MENGAWAL DAN MENINGKATKAN INTEGRITAS PERBANKAN NASIONAL

 

No legacy is so rich as honesty (William Shakespeare)

 

Bank merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan kemudian menyalurkannya kembali kepada masyarakat. Aktivitas penghimpunan dana masyarakat dilakukan melalui penawaran jasa simpanan, giro, deposito, dan tabanas.  Dari aktivitas ini bank memiliki simpanan dana segar yang perlu diputar kembali agar bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat.  Berbagai usaha dilakukan bank untuk mengelola dana segar tersebut dengan menyalurkan kembali ke masyarakat melalui mekanisme kredit, atau pembelian surat berharga; maupun dengan  penyertaan dan pemilikan aset.  Di dalam aktivitas penyaluran dana dalam bentuk kredit kepada masyarakat yang memerlukan dana segar baik untuk pengembangan usaha kerja maupun konsumerisme dikenal beberapa produk seperti kredit usaha menengah, kredit usaha kecil, kredit pemilikan rumah, kredit pemilikan mobil, dan lain-lain jenis kredit.

 

Dilihat dalam lingkup nasional, perbankan merupakan salah satu pilar penunjang pelaksanaan pembangunan nasional yang diharapkan dapat meningkatkan pemerataan dan pertumbuhan ekonomi nasional ke arah peningkatan kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia.  Dari sini terlihat potensi kritikal dari perbankan nasional yang menentukan nasib bangsa dan negara Indonesia di masa mendatang.  Perbankan nasional yang sehat dan kuat merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi.  Perbankan yang sehat dan kuat bisa diwujudkan dengan menegakkan integritas perbankan nasional. Dalam tulisan ini dibahas berbagai peran yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengawal dan meningkatkan integritas perbankan nasional yang sebenarnya sudah mulai diwujudkan secara internal dalam sistem perbankan nasional.

 

PERBANKAN NASIONAL YANG SEHAT

 

Perbankan yang sehat dan kuat merupakan bagian yang fundamental dalam perekonomian nasional dan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi guna beroperasinya secara berlanjut kebijakan makro dalam perekonomian nasional.  Suatu sistem perbankan yang sehat haruslah memiliki institusi yang kokoh dan didukung dengan infrastruktur lengkap.  Sistem perbankan yang sehat haruslah memiliki manajemen keuangan perbankan yang transparan dan efektif.  Sistem perbankan yang sehat haruslah efisien dan mampu memenuhi berbagai tuntutan yang berkembang sesuai perjalanan waktu.

 

Empat prinsip yang harus dipegang setiap perekonomian guna tumbuhnya perbankan yang sehat meliputi: (1)

o        Bahwa kesehatan suatu bank pada hakikatnya merupakan tanggung jawab pemilik dan pengelola bank, sedangkan kesehatan sistem perbankan merupakan perhatian kebijakan publik.

o        Kesehatan perbankan terkait erat dengan efektivitas ekonomi makro.

o        Suatu kerangka perbankan yang sehat harus menyangkut struktur yang mendukung disiplin internal bank, disiplin pasar serta pengaturan dan supervisi, dan

o        Kerjasama dan koordinasi internasional dapat memainkan peran yang penting dalam memperkuat sistem keuangan dunia maupun perbankan nasional.

Mengapa perekonomian memerlukan perbankan yang sehat?  Karena untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi diperlukan pertumbuhan investasi yang tinggi, dan salah satu sumber pendanaan untuk investasi ini adalah dari perbankan.  Dari krisis ekonomi 1998 kita bisa mendapatkan pengalaman berharga begitu pentingnya perbankan nasional yang sehat dan kuat.

 

Perbankan yang sehat bukan hanya dalam arti mikro yang meliputi kondisi internal dan operasi bank, tetapi juga meliputi pengawasan dan pengaturan bank serta kelembagaan penunjangnya baik nasional maupun internasional harus tersedia dan berjalan efektif. Atau secara lebih detil perbankan yang sehat itu menyangkut 4 kondisi yaitu:

o        Pertama, bank-bank dalam arti mikro harus sehat dalam aspek permodalan, manajemen dan kegiatan, sesuai dengan peraturan dan pengawasan perbankan yang berlaku.

o        Kedua, adanya pengaturan dan pengawasan yang efektif yang dilakukan oleh lembaga yang secara independen bertanggung jawab untuk itu.

o        Ketiga, adanya kelembagaan yang mendukung bekerjanya perbankan, selain lembaga pengawasan dan pengaturannya, termasuk pula hukum dan peradilan.

o        Keempat, adanya kerjasama serta koordinasi internasional yang menjalankan surveilance secara efektif.

 

Bagaimana bank melakukan manajemen kreditnya merupakan unsur yang sangat penting dalam penentuan tingkat kesehatan bank.  Kredit berarti memberikan barang, jasa, atau uang sekarang dengan pembayaran atau balas jasa di kemudian hari.  Kredit bermakna juga kepercayaan atas kemampuan si peminjam untuk membayar sejumlah uang pada masa yang akan datang.  Kredit jelas berkorelasi dengan resiko, jadi bank dituntut untuk memberikan kredit secara baik dan aman dengan pengawasan secara ketat kemungkinan pinjaman tersebut menjadi bermasalah.  Hal ini membutuhkan keahlian, kejujuran, komitmen dan integritas baik dari pelaksana, pengawas maupun pengelola bank.

 

Dari paparan di atas ternyata perbankan nasional yang sehat akan banyak ditentukan oleh integritas perbankan nasional sendiri.

 

PERBANKAN NASIONAL YANG BERINTEGRITAS

 

Beberapa bank nasional dalam pernyataan misi dan filosofinya mencantumkan integritas sebagai salah satu nilai yang mereka anut dalam menjalankan bisnisnya.  Integritas dalam pernyataan misi dan filosofis itu tergambar melalui berbagai frase seperti “memegang teguh komitmen”, “menjunjung tinggi integritas dalam bekerja”,  “peduli, jujur, mengupayakan yang terbaik”, “etika dan moral sebagai landasan kerja”, dan “melaksanakan manajemen terbuka”.   Integritas perbankan dalam tulisan ini mengarah kepada makna yang sama yaitu perbankan nasional dalam melakukan bisnisnya selalu mengacu kepada aturan, etika dan moral yang benar.

 

Bila semua bank nasional menjalankan misi dan filosofinya dengan baik maka semua bank pasti sudah bertekad untuk menegakkan integritas di dalam lingkungan internal mereka.  Penulis ambil contoh dari salah satu bank terkemuka yang dalam profilnya mengatakan sudah membangun integritas pada dasawarsa pertama berdirinya.(2)  Para pendiri bank tersebut sudah menyadari bahwa “kepercayaan nasabah maupun masyarakat adalah satu nilai yang harus senantiasa didapatkan serta dijaga”.  Dalam kepatuhan kepada peraturan dan penerapan good corporate governance “oleh pimpinan senantiasa diusahakan supaya bank bekerja sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia” dan “.. selalu ditegaskan pentingnya prinsip-prinsip kemandirian, transparansi, keadilan, tanggung jawab, akuntabilitas dan kepatuhan dipegang teguh dalam setiap tindakan dan perilaku usaha sehari-hari”.  Demikian juga dengan pengembangan sumber daya manusianya “karyawan yang berdedikasi serta memiliki integritas adalah kekayaan utama kami”. 

 

Ketahanan internal yang telah dibangun baru merupakan syarat cukup karena perbankan bukanlah komunitas yang terisolasi, namun merupakan komunitas terbuka yang berinteraksi dengan lingkungannya.  Dari definisi bank di atas bisa dilihat bahwa bank berinteraksi dengan masyarakat dan badan bisnis lain sebagai nasabah penyimpan dan peminjam, dan dengan pemerintah sebagai pemutus kebijakan dan peraturan yang harus diikutinya. 

 

Dari paparan di atas bisa disimpulkan selain usaha keras dan berkelanjutan dari pihak internal dalam perbankan nasional sendiri yang bisa mewujudkan perbankan nasional yang berinteritas, juga diperlukan usaha dan campur tangan masyarakat pengguna jasa perbankan nasional.  Di beberapa paragraf lanjut, penulis akan menguraikan dukungan dan peran masyarakat yang dapat mengawal dan meningkatkan integritas sistem perbankan nasional.

 

JANGAN COBAI AKU

 

Penulis memiliki pengalaman sewaktu dalam proses membeli rumah tinggal.  Waktu itu masih dalam proses penjajagan pemilihan rumah baik dari segi lokasi maupun harga.  Penulis menemukan satu rumah yang cukup bagus di lokasi yang bagus dengan harga yang sesuai dengan kondisi rumah.  Karena tertarik penulis ingin mendapatkan informasi lebih detil dari pemilik terkait dengan surat-surat yang dibutuhkan apalagi penulis berencana untuk menggunakan fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) dari bank.  Sayang sungguh sayang ternyata salah satu surat rumah yang dibutuhkan untuk persyaratan KPR belum dimiliki oleh penjual dengan alasan belum mengurusnya dan akan perlu biaya cukup besar untuk mengurusnya.  Penulis berterus terang kepada pemilik sekarang mengenai rencana penulis untuk menggunakan fasilitas KPR dan hambatan yang bakal muncul bila tidak memiliki surat rumah yang disyaratkan oleh pihak bank.  Tapi sungguh mencengangkan bahwa penjual berani mengajukan salah satu nama bank yang juga memberikan KPR dan berani menjamin bahwa KPR akan bisa diberikan oleh bank tersebut dan pun dalam waktu yang singkat juga.  “Saya punya kenalan pimpinan bank Anu, bapak tidak perlu kuatir, saya bisa sekaligus bantu bapak untuk mendapatkan KPR-nya dan tidak perlu melampirkan surat X itu”, kata penjual rumah tersebut.  Mendengar perkataan itu penulis sudah memutuskan untuk mengeluarkan rumah ini dari daftar rumah potensial, harap-harap membeli rumah untuk ketenangan malah kemungkinan nantinya akan mendapat masalah. 

 

Lingkungan berpengaruh sangat besar terhadap terciptanya individu dan organisasi yang berintegritas. Lingkungan di sini mencakup orang-orang yang ada di sekitar, norma-norma yang dianut dalam lingkup sosialnya, dan wadah dimana orang atau organisasi menjadi anggotanya.  Lingkungan yang kondusif terhadap pertumbuhan integritas individu dan organisasi adalah lingkungan yang tidak menguji integritas individu maupun organisasi.  Lingkungan yang ideal ini akan memperkuat integritas komponen di dalam lingkungan  melalui prinsip, kontrol, dan teladan.  Bahkan lingkungan yang positif dan etis bisa menjadi pendorong (atau lebih tepat namun kasar penulis gunakan kata pemaksa) individu dan organisasi yang hidup dalam lingkungan tersebut untuk bersikap dan berkelakuan secara berintegritas. 

 

Walaupun individu dan organisasi berintegritas memiliki pengetahuan diri yang membuat mereka jauh dari situasi dimana mereka bisa tergoda oleh apa pun yang mungkin merusak mereka, namun godaan yang terus menerus bisa membuat mereka berpaling dari prinsip yang mereka anut.  Karena air yang menetes terus meneruslah, batu bisa terkikis dan habis.  Seperti contoh yang penulis kemukakan di atas, kemungkinan besar pemilik rumah tersebut akan mengajak staf kredit bank untuk memproses kredit rumahnya dengan menyalahi prosedur kerja yang sudah ditetapkan melalui tawaran-tawaran yang menggiurkan.

 

Kembali pada topik integritas perbankan nasional, maka jelas bahwa usaha internal yang sudah dilakukan oleh pihak perbankan untuk menjadi bank yang etis dan sehat, harus dijaga oleh masyarakat sebagai nasabah dan partner perbankan.  Jangan masyarakat menggoda personil bank untuk berpaling dari prinsip integritas mereka dengan tawaran-tawaran yang menggiurkan.  Bahkan dalam masalah yang kecil sekalipun, karena segala sesuatu termasuk penyimpangan biasanya dimulai dari yang kecil, sekali dilakukan kemudian menjadi sering, imun dan secara bertahap naik kelas sampai akhirnya ke masalah yang besar.

 

JANGAN TIPU AKU

 

Bank Mandiri dengan royal mengucurkan kredit ke sejumlah debitor (sebagian diantaranya debitor eks bank-bank yang dimerger ke Bank Mandiri) dengan jaminan aset eks BPPN yang dibeli dengan harga murah (dan dibeli juga dengan pinjaman Bank Mandiri), namun sebagai aset jaminan dihargai mahal oleh Bank Mandiri.(3)  Tidak sedikit dari debitor ini kemudian bermasalah.  Dalam perkara kredit macet ini ditemukan adanya kredit yang memang murni macet, tetapi ada juga yang sejak awal memang sudah direkayasa untuk macet.  Ada kredit yang dikucurkan kepada perusahaan yang ratingnya buruk,  ada kredit yang diajukan oleh orang yang sebenarnya sudah tidak berwenang lagi dalam perusahaan karena sudah menjual kepemilikannya ke perusahaan lain,  dan ada kredit yang dikucurkan walaupun agunan tidak mencukupi.

 

Sungguh ironis bila melihat kasus ini.  Kita sebagai peminjam mengajak personil bank untuk melakukan penipuan terhadap bank dimana dia bekerja.  Ada 2 dosa besar yang telah kita lakukan.   Pertama karena menipu bank yang secara tidak langsung menipu nasabah penyimpan dananya pada bank tersebut sehingga merugikan bank dan nasabah tersebut.  Kedua karena menjerumuskan orang yang berintegritas kepada perbuatan yang jahat.

 

Masyarakat sebagai partner peminjam dana bank yang berintegritas seharusnya juga menyadari dan berintropeksi kepada norma dan prinsip kepercayaan dan kelayakan seseorang untuk menerima kredit.  Prinsip kelayakan peminjaman yang umum dipraktekkan oleh bank biasanya disebut 4C yaitu:

o        Character atau tabiat serta kemauan pemohon untuk memenuhi kewajiban.  Perlu diteliti kebiasaan kepribadian, cara hidup dan keadaan keluarga serta moral.

o        Capacity yaitu modal yang dimiliki seseorang pemohon kredit.  Perlu diteliti bahwa tidak semua modal yang dimiliki pemohon kredit harus bersumber dari kredit.

o        Collateral yaitu kepastian berupa jaminan yang dapat diberikan oleh pemohon kredit.  Agunan atau jaminan sebagai alat pengaman dari ketidakpastian pada waktu yang akan datang pada saat kredit harus dilunasi.  Pemohon harus jujur terhadap jaminan yang diajukan.  Personil bank harus jujur dalam menilai kelayakan agunan tersebut.

o        Conditions of economies yaitu dalam rencana pelepasan kredit harus mampu melihat ke depan yaitu bagaimana keadaan perekonomian masa yang akan datang.

 

Jadi kelihatan bahwa kita sebagai peminjam harus bisa mengukur kelayakan diri kita sendiri sehingga dapat menjadi peminjam yang bertanggung jawab.  Dengan demikian kita bisa terbuka dan jujur kepada personil bank yang melayani kita.

 

SEKARANG MEREKA, GILIRAN KITA KEMUDIAN

 

Menyambung kedua peran yang bisa dilakukan masyarakat dalam menjaga integritas perbankan nasional di atas, maka alasan utama masyarakat harus ikut berpartisipasi adalah bahwa tegaknya integritas atau jatuhnya integritas perbankan nasional akan secara langsung berdampak kepada masyarakat.  Terjaganya integritas perbankan nasional akan menyehatkan perbankan, perbankan yang sehat akan memperkuat perekonomian nasional, dan kesemuanya akan memberi manfaat dan kesejahteraan kepada masyarakat.  Sementara integritas perbankan nasional yang rapuh membuat perbankan sakit yang tinggal menunggu waktu untuk mati, dan pada saat itu akan mengacaukan perekonomian nasional yang akibatnya adalah menyengsarakan masyarakat.

 

Bila pembaca sebagai masyarakat dan nasabah bank mulai ‘mencobai’ dan ‘menipu’ bank, memang dalam jangka pendek kita bisa meraup untung walaupun tidak halal karena mengorbankan orang lain, tetapi dalam jangka panjang semestinya hanya tinggal menunggu waktu saja untuk mendapat giliran menjadi korban berikutnya dari praktek ‘mencobai’ dan ‘menipu’ yang dilakukan orang lain.  Jadi jangan mencoba-coba untuk merusak integritas perbankan nasional dengan ‘mencobai’ dan ‘menipu’ yang mempertaruhkan integritas perbankan nasional.  Dengan cara pandang seperti ini maka wajar bila menjadi tuntutan bagi tiap masyarakat untuk berpartispasi menjaga integritas perbankan nasional.  Dengan begini maka secara tidak langsung kita juga sudah turut menghentikan lingkaran setan pembobrokan integritas perbankan nasional: oknum masyarakat bekerja sama dengan oknum bank membobol bank, pihak bank menjaga rahasia dengan menutup-nutupi kejadian ini, kondisi ini membuat oknum-oknum lain tertarik untuk berbuat sama karena tidak ada keterbukaan dan hukuman, dan siklus ini terus berputar sampai integritas perbankan nasional tergerus habis dan perbankan nasional mati.

 

AWASI AKU

 

Bank BNI dibobol 1,7 triliun rupiah yang melibatkan orang dalam.(4)  Kasusnya berupa ekspor fiktif.  Bank BNI menalangi terlebih dahulu transaksi ekspor yang dilakukan nasabahnya, namun dilakukan sebelum Bank BNI menerima surat akseptasi atau surat sanggup bayar dari bank pembuka letter of credit (L/C) di luar negeri dan belum ada keputusan jaminan aset dari nasabah..  Pembayaran transaksi ekspor ini dilakukan beberapa kali dan dalam rentang waktu yang cukup panjang.  Dalam kasus Bank BNI ini terlihat jelas keterlibatan pihak dalam bank dalam pembobolan ini.

 

Orang yang bekerja di bawah pengawasan dalam jangka panjang akan menghasilkan kualitas yang lebih baik daripada orang yang bekerja tanpa pengawasan.  Kondisi diawasi akan membuat orang bekerja lebih teliti dan terbuka dengan harapan proses dan hasil pekerjaannya bisa dihargai dan dinilai oleh semua orang, dia tidak akan menutup-nutupi apa yang telah dilakukannya dengan harapan orang lain dengan mengamati saja sudah tahu bahwa yang dikerjakannya sudah sesuai dengan aturan yang berlaku dan dia terbebas dari pandangan negatif, dan yang terpenting dengan cara itu dia bisa mempertanggung jawabkan pekerjaannya secara terbuka.  Tetapi sebaliknya bila tidak ada pengawasan, orang yang awalnya baik pun bila tanpa pengawasan akan bisa berubah haluan: menjadi semau-gue dan tidak bertanggung jawab.

 

Demikian juga halnya dengan integritas perbankan nasional.  Integritas perbankan nasional dijamin akan terus terjaga bila kita masyarakat mau berperan serta mengawasi pengelolaan, tata kerja, dan kinerja perbankan.  Di bawah pengawasan masyarakat, pasti tidak akan ada personil maupun pimpinan bank yang mau ‘bermain-main’ dengan integritas dirinya yang sudah jelas bisa membahayakan posisi dan kredibilitas orang tersebut.

 

Tantangan dari pengawasan adalah bahwa pengawasan harus dilakukan secara alami, berkesinambungan dan efektif.  Dan memang ini pekerjaan rumah yang paling sulit untuk bisa mempertahankan budaya pengawasan yang sudah dibangun dan membuat pengawasan sebagai cara hidup (way of life) yang melekat dalam rutinitas harian dari tiap anggota masyarakat.

 

HARGAI KETERBUKAAN DAN KEBENARAN

 

Bagaimana tanggapan kita bila ada bank yang secara terbuka mengungkapkan adanya masalah pada bank tersebut kepada publik?  Misalnya pada contoh di atas, Bank BNI secara terbuka dan jujur mengumumkan kepada nasabahnya bahwa telah terjadi pembobolan sebesar 1.7 trilyun, dan Bank BNI secara terbuka menyatakan permintaan maaf kepada para nasabah penyimpan dana bahwa mereka telah bertindak ceroboh sehingga memungkinkan kejadian itu terjadi, dan mereka sedang berusaha memperbaiki diri yang mungkin salah satunya dengan memperadilkan personilnya yang terlibat.  Apa yang akan kita lakukan: apakah kita kemudian menarik dana kita secara besar-besaran dari Bank BNI ?  atau kita tetap tenang-tenang saja seperti biasanya malah meningkatkan kekritisan kita terhadap kinerja bank BNI ?

 

Sebagai nasabah yang menginginkan integritas perbankan nasional seharusnya kita juga berintegritas.  Kita harus menjunjung tinggi nilai kejujuran dan keterbukaan.  Konsekuensinya adalah kita harus mau terbuka membeberkan semua informasi tentang kita secara seimbang baik berita bagus maupun berita buruk, demikian juga kita harus mau mendengarkan pengakuan bersalah pihak lain.  Seperti potongan kalimat dari Shakespeare di awal tulisan ini “no legacy is so rich as honesty”, kita harus menghargai kejujuran lebih dari uang dan kekuasaan.

 

Coba kita bandingkan dampak lanjutan dari masing-masing pilihan yang kita punya.  Bila kita menarik dana kita dari Bank BNI, maka sikap ini akan menimbulkan ketakutan pada bank lain untuk bersikap jujur dan berarti akan menghancurkan integritas yang sudah dipunyai oleh bank tersebut.  Mereka takut kehilangan kepercayaan walaupun yang mereka lakukan adalah suatu sikap jujur.  Sementara bila kita memilih tetap mempercayai Bank BNI maka akan menjadi pelajaran bagi semua bank lain bahwa kejujuran dan integritas harus selalu mereka kedepankan dalam segala situasi karena itu memang yang diharapkan oleh masyarakat.  Pilihan kita juga untuk menyimpan di bank yang kelihatan sehat padahal dalamnya bobrok, atau menyimpan di bank yang jujur dan terus memperbaiki dirinya ?  Pilihan kita juga untuk memakmurkan bank jujur – yang memiliki karakter yang baik – taat aturan, atau memakmurkan bank dengan “poker face” ?

 

PENUTUP

 

Perlu sekali diingat pepatah yang mengatakan bahwa apa yang kita tanam, itu yang akan kita panen.  Demikian halnya berlaku juga dengan peran dan kontribusi kita sebagai masyarakat kepada perbankan nasional.  Bila kita ikut menjaga integritas perbankan nasional maka yang akan kita dapatkan adalah perbankan nasional yang sehat dimana kita bisa merasakan kepercayaan, keamanan dan kenyamanan dalam melakukan transaksi keuangan.  Dan sebaliknya bila kita mencobai, menipu, dan tidak ikut serta mengawasi integritas perbankan nasional yang sudah dibangun secara internal, maka kita juga yang akan dirugikan dengan masalah-masalah keuangan yang merugikan kita sebagai individu, kita sebagai masyarakat, dan lebih luas lagi pada kehidupan perekonomian negara Indonesia.

 

PUSTAKA

1)     Soedrajat Djiwandono.  Menuju Sistim Perbankan Untuk Mendukung Pembangunan Nasional.  Kolom Pakar Pinter http://kolom.pacific.net.id/ind , 23 Maret 2004.

2)     Sekilas Bank Niaga.  http://www.bankniaga.com

3)     Sri Hartati Samhadi.  Belajar Dari Kasus Bank Mandiri.  Kompas, 12 Mei 2005.

4)     Dede Parasade.  Belajar Dari Kasus Bank BNI.  Kompas, 5 November 2003.

 (Julius Hermawan)

Advertisements