YOUR FUTURE IS ALREADY HERE

Sebagian orang mengatakan masa depan merupakan suatu hal yang abstrak, sulit diterka dan diantisipasi. Masa depan dianggap sebagai sesuatu yang sudah ditentukan dari atas. Apapun yang akan terjadi harus tetap dijalani, sehingga dibilang terlalu menguras tenaga dan pikiran bila orang harus memikirkan masa depan jauh-jauh hari sebelumnya. Seperti dikatakan oleh Dietriech Fischer Dieskari “The future? Like unwritten books and unborn children, you don’t talk about it“.

Tetapi sebagian orang lain berpikiran lain tentang masa depan. Bila kita berkaca pada sejarah, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa peristiwa yang akan terjadi di masa depan pada dasarnya merupakan pengulangan peristiwa yang sudah pernah terjadi di masa lalu dan peristiwa yang sedang terjadi di hari ini, walaupun tidak 100 persen sama masih dibedakan dengan variasi dan keunikan dari masing-masing peristiwa itu. Sejalan dengan yang dikatakan oleh William Gibson bahwa “The future is already here, it’s just not evenly distributed”. Faktor yang jelas membedakan antara peristiwa masa lalu, masa sekarang dan masa depan adalah aktornya. Di lingkup keluarga, di masa lalu peristiwa yang mirip tersebut terjadi dengan aktor orang tua kita, masa kini terjadi aktor adalah diri kita sendiri, dan sementara untuk masa depan pastinya peristiwa tersebut akan terjadi dengan aktor anak kita.

Moral yang harus dipelajari dari peristiwa yang berulang tersebut adalah harusnya generasi yang lebih muda bisa menghadapi peristiwa tersebut dengan lebih baik dari generasi sebelumnya. Dengan mempelajari sejarah orang tua kita, kita bisa mengenal dengan baik keberhasilan / kelebihan dan kekurangan / kelemahan dari tindakan yang pernah dilakukan, sehingga di masa kini kita bisa merencanakan segala sesuatunya dengan tentunya mengurangi faktor kekurangan / kelemahan tersebut. Faktor keberhasilannya bisa kita tiru.

Keputusan untuk memiliki masa depan yang gemilang ditentukan oleh keputusan kita dalam merancang masa depan. Seperti yang dikatakan oleh Kahlil Gibran “We choose our joys and sorrows long before we experience them”. Kesuksesan kita dalam menyikapi masa depan yang cerah ditentukan oleh keputusan kita sekarang dalam mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan nanti. Tidak adanya persiapan ataupun persiapan yang asal-asalan dapat menuntun kita pada masa depan yang jauh dari harapan, dan persiapan yang matang dan baik dapat menuntun kita pada masa depan yang sesuai dengan yang kita harapkan.

Demikian pula halnya yang perlu diterapkan dalam perencanaan masa depan anak-anak kita. Contohnya dalam urusan pendidikan, kita berharap banyak bahwa pendidikan yang akan dijalani oleh anak-anak kita bisa lebih baik dan lebih tinggi tingkatannya dari yang pernah kita alami. Dari pengalaman yang ada dalam diri kita, kita bisa menilai apa-apa yang baik bagi anak kita. Misalnya yang kita alami sewaktu masih bersekolah, orang tua kita mempersiapkan pendidikan bagi kita sampai level sarjana, maka untuk anak kita nanti kita mencoba mempersiapkan pendidikan sampai level magister. Dari situ, kita juga bisa belajar bagaimana strategi orang tua kita dalam membiayai pendidikan kita.

Orang tua saya memiliki filosofi mengalir, menabung bila ada dana yang bisa ditabung. Hal ini tidak terlepas dari kondisi yang ada yaitu keluarga dengan enam anak yang menggantungkan seluruh pembiayaan pendidikan kepada gaji ayah yang seorang pegawai negeri dengan jabatan lumayan saat itu. Yang saya ingat beratnya beban orang tua terutama pada saat penerimaan siswa baru, apalagi bila ada lebih dari satu anak yang harus masuk ke jenjang lebih tinggi. Itulah kenapa pula mulai dari saya anak ke empat dan seterusnya pada saat memasuki jenjang SMP sudah diarahkan untuk masuk ke sekolah negeri yang relatif lebih murah dalam pembiayaan, padahal sebelumnya kakak saya pindah ke sekolah negeri mulai jenjang SMA. Namun untungnya karena kami cukup pandai kami bisa masuk ke sekolah negeri yang bagus di lingkungan Jakarta Barat sehingga perpindahan yang kami alami tidak men-down-grade kualitas pendidikan yang kami terima. Dan untungnya lagi dengan pendanaan yang cukup ketat semua anak dapat mengenyam dan menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana baik di universitas swasta maupun universitas negeri. Namun di luar itu kami cukup mengalami pengalaman bagaimana harus memiliki kelebihan agar bisa bersekolah di sekolah yang bagus dan murah, dan juga bagaimana kami harus berhemat untuk bisa membiayai hidup sehari-hari dan membeli kebutuhan pendidikan kami.

Demikianlah walaupun dari pengalaman itu keberhasilan bisa kami dapatkan, namun ada hal-hal yang bila dipikir lebih lanjut cukup mengandung resiko yang besar terhadap kelangsungan pendidikan kami saat itu. Bagaimana bila pada saat itu tiba-tiba ayah yang merupakan sumber penghasilan keluarga karena sesuatu hal kehilangan penghasilannya? Dan itu benar-benar kami alami, yang untungnya terjadi pada saat beberapa dari anak sudah bisa mandiri membiayai diri sendiri dan pada akhirnya bisa membantu membiayai kuliah kedua adik terakhir. Saya ingat saat itu, saya sedang menyelesaikan skripsi saya ketika ayah terserang stroke berat sehingga harus dirawat di rumah sakit dan dalam hitungan bulan harus dipensiunkan dini. Bagaimana bila serangan itu terjadi saat saya masih SMA, apakah saya masih bisa kuliah seperti saat itu ? Adik-adik saya ?

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut maka terlintas bahwa walaupun kita bisa optimis terhadap masa depan, ada satu faktor tantangan yang harus ditangani dengan lebih seksama yaitu faktor resiko. Banyak resiko yang bisa terjadi selama antar waktu sejak direncanakan sampai hari H tiba. Faktor resiko ini bila tidak diantisipasi dengan baik bisa menggagalkan perencanaan yang sudah secara rapi kita buat. Misalnya dalam contoh persiapan pendidikan anak di atas, faktor resiko bisa seperti orang tua di PHK saat anak di SMU, orang tua sakit, orang tua kecelakaan atau misalnya meninggal dunia karena sakit atau kecelakaan itu tadi. Ancaman dari faktor resiko tersebut adalah bahwa sumber dana yang akan digunakan untuk pembiayaan menjadi berkurang atau hilang sama sekali. Pada kondisi ini bahkan rencana yang sudah dibuat sebaik mungkin bisa gagal implementasi karenanya.

Salah satu instrumen keuangan yang bisa membantu kita dalam mengantisipasi faktor resiko di atas adalah asuransi. Dengan berasuransi berarti kita memindahkan resiko yang seharusnya kita tanggung kepada pihak lain yaitu dalam konteks ini adalah perusahaan asuransi. Pihak yang memindahkan resiko dalam istilah asuransi disebut tertanggung, sementara perusahaan asuransi yang menerima resiko untuk ditanggung disebut penanggung. Tertanggung bisa sebagai pribadi, kelompok maupun organisasi. Sebagai ganti dari dari pertanggungan resiko yang diambil alih tersebut, perusahaan asuransi menerima pembayaran premi dari tertanggung. Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 merupakan salah satu contoh perusahaan asuransi yang beroperasi di Indonesia.

Banyak jenis resiko yang sekarang sudah bisa diasuransikan seperti resiko kehilangan jiwa, resiko cacat badan, resiko terhadap gangguan kesehatan, resiko kebakaran terhadap gedung, resiko kecelakaan terhadap kendaraan, resiko tidak sanggup membayar, dan lain-lain. Resiko kehilangan jiwa, cacat badan dan gangguan kesehatan bisa mengganggu ataupun menghentikan kelangsungan sumber dana keluarga, terlebih lagi bila yang tertimpa adalah kepala keluarga. Resiko kebakaran terhadap rumah bisa mengganggu kehidupan kita karena kehilangan rumah tinggal dan isinya yang otomatis menyita perhatian dan dana kita untuk memikirkan dimana tinggal sementara, untuk membangun kembali rumah dan mengganti isinya. Bisa dibayangkan bila kita tidak punya dana cadangan untuk itu. Resiko tidak sanggup membayar biasanya diterapkan pada kartu kredit bisa menghindari dari ketidaknyamanan kita dikejar-kejar oleh debt collector.

Manfaat berasuransi dalam contoh persiapan pendidikan anak yang dibahas sebelumnya misalnya kita mencoba mengantisipasi resiko bila di tengah jalan ayah atau ibu yang menjadi sumber pendanaan bagi pendidikan anak meninggal dunia. Produk asuransi yang bisa diambil adalah asuransi jiwa, misalnya dari AJB Bumiputera 1912. Pihak tertanggung membayar premi dalam jangka waktu tertentu misalnya 10 tahun untuk mendapat pertanggungan bila kejadian yang tidak diharapkan tersebut terjadi, baik selama waktu kita masih harus membayar premi maupun setelah masa pembayaran premi selesai. Bahkan biasanya bila resiko terjadi masih dalam masa pembayaran premi tertanggung menjadi bebas dari kewajiban meneruskan pembayaran premi tersebut. Dengan pertanggungan ini si anak bisa terus melanjutkan apa yang sudah direncanakan orang tuanya walaupun tanpa kehadiran fisik si orang tua. Dengan mengikuti asuransi jiwa seperti di atas berarti kita bisa membebaskan diri dari salah resiko yang dapat menggagalkan rencana pendidikan masa depan anak kita.

Dengan perencanaan yang baik yang kita buat hari ini dan dikawal oleh asuransi, kita bisa lebih percaya diri bahwa masa depan kita dan keluarga kita akan berada di jalur yang benar sesuai dengan yang kita harapkan. “We choose our joys and sorrows long before we experience them”. Sekarang keputusan ada di tangan anda.

Advertisements