Archive | May 21, 2009

Pendidikan Yang Membangkitkan

Tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Pada tanggal tersebut tahun 1908, tiga murid Sekolah Kedokteran Jawa (Stovia) yaitu Sutomo, Gunarwan dan Suraja atas saran seorang dokter Jawa Mas Wahidin Sudiro Husodo yang memiliki program pengumpulan dana untuk bantuan beasiswa sekolah bagi putra-putri Jawa mendirikan satu organisasi untuk mempromosikan budaya Jawa yang diberi nama Budi Utomo. Tujuan organisasi yang ingin memajukan nusa dan bangsa melalui pendidikan, pertanian, perdagangan, teknologi, dan kebudayaan ini kemudian membawa Budi Utomo sebagai pelopor bagi pergerakan nasional yang terorganisasi di Indonesia, yang kemudian memompa semangat pemuda pelajar dan mahasiswa lainnya untuk berorganisasi dan memperjuangkan nasionalisme Indonesia. Demikianlah sampai hari ini tanggal berdirinya organisasi Budi Utomo diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.

Kebangkitan nasional di tahun 1908 dimotori oleh mahasiswa kedokteran jaman itu, demikian juga perkembangan selanjutnya sejarah membuktikan bahwa gerakan nasionalis Indonesia jaman sebelum kemerdekaan mendapatkan pemimpin dari kalangan lulusan sekolah di Jawa yang setingkat dengan universitas. Tahun 1912 tiga serangkai Ki Hajar Dewantoro yang pernah mengenyam pendidikan Sekolah Kedokteran Jawa, Douwess Dekker dan Tjipto Mangunkusumo (keduanya dokter lulusan Sekolah Kedokteran Jawa) mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Pada tahun 1922 Ki Hajar Dewantoro mendirikan Perguruan Taman Siswa yang menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada anak didiknya. Sutan Syahrir tamatan AMS Bandung menjadi salah satu pemrakarsa Jong Indonesie atau Pemuda Indonesia yang menjadi himpunan pemuda Nasionalis yang kemudian menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia yang mencetuskan Sumpah Pemuda 1928. Kemudian pada tahun 1929 organisasi Perserikatan Nasional Indonesia didirikan oleh Sukarno yang tamatan Sekolah Teknologi Bandung dan Tjipto Mangunkusumo. Itu hanya beberapa kilasan sejarah yang menunjukkan peran kaum intelektual dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dari uraian di atas ingin ditekankan bagaimana pendidikan bisa berperan besar dalam perkembangan dan kemajuan suatu bangsa dan negara, termasuk Indonesia. Belanda masuk ke Indonesia sejak tahun 1596 dan mulai secara bertahap memperlakukan Indonesia sebagai koloninya di Asia. Setelah lama mengeksploitasi kekayaan alamnya, baru sejak tahun 1900-an pemerintah Belanda mulai berbaik hati mendirikan sekolah untuk kalangan Indonesia. Tahun 1903 ada sekitar 1700 sekolah dengan 190 ribu murid, dan pada tahun 1913 bertambah menjadi 7000 sekolah diantaranya 3500 sekolah desa dengan total 227 ribu murid. Kesempatan yang diberikan ini masih terbatas pada pendidkan dasar sehingga siswa Indonesia yang mampu dan ingin menempuh pendidikan yang lebih tinggi mau tidak mau harus masuk ke sekolah berbahasa Belanda dan pergi ke Belanda untuk melanjutkan belajar di universitas. Pendirian universitas hanya bisa dilakukan bila sebagian besar penduduknya sudah melek huruf. Sebelum tahun 1914 hanya sedikit siswa Indonesia yang berhasil sampai ke universitas di Belanda, namun setelah 1918 jumlahnya meningkat. Pergaulan para siswa dengan siswa Belanda dan pengalaman mereka mendengar, melihat dan mempelajari kebangkitan nasional bangsa-bangsa di Eropa saat itu (pembebasan Polandia, Cekoslowakia, negara-negara Baltik, Irlandia, dan lain-lain) menggugah jiwa nasionalisme pelajar Indonesia ini.

Inilah yang disebut kelompok terdidik yang diperlukan oleh Indonesia saat itu yaitu kelompok orang dalam masyarakat yang mampu mempergunakan intelegensia dan cara berpikir analitiknya baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadinya untuk membawa dirinya dan orang lain ke kondisi yang lebih baik. Dan hasil kerja dan perjuangan para kelompok terdidik ini bisa kita lihat melalui sejarah kemerdekaan Indonesia yang sampai ke titik akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 saat diproklamasikan kemerdekaan negara Republik Indonesia oleh Sukarno – Hatta.

Pendidikan seperti apa yang bisa mencetak kelompok terdidik ini ? Sekolah sebagai intelectual factory saat ini lebih menekankan pada hasil akhir yaitu nilai. Di masa-masa menjelang ujian nasional bisa dilihat kesibukan menggapai hasil akhir dengan berbagai cara, terutama cara yang instan seperti bimbingan belajar dan try-out. Siswa dipaksa dalam waktu yang singkat untuk latihan soal-soal yang potensial keluar pada ujian nasional. Tidak terlalu diperhatikan apakah siswa mengerti proses problem solving di balik penyelesaian soal tersebut, yang lebih diutamakan adalah bahwa siswa tahu jawaban untuk pertanyaan tersebut, entah dengan hapalan ataupun rumus cepat. Ironisnya lagi persiapan model instan ini bukan hanya dipraktekkan oleh orang tua tetapi terutama oleh sekolah dan guru. Hasil gemilang pendidikan yang model begini adalah siswa yang bisa menjawab pertanyaan atau soal tapi tidak bisa menjabarkan darimana jawaban didapat secara keilmuan. Dan pada dunia pekerjaan sudah bisa terlihat sekarang ini adalah aparat pemerintah yang menjawab persoalan kemasyarakatan dengan solusi yang umum tanpa bisa berinovasi dan mempertimbangkan secara komprehensif dampak yang ditimbulkan oleh solusi tersebut. Akibatnya suatu keputusan bisa diganti dengan keputusan lain hanya dalam hitungan hari dan minggu dari keputusan dibuat, bahkan yang menyedihkan keputusan tersebut hanya sampai pada keputusan tertulis tanpa ada implementasinya karena digugat oleh pihak yang menjadi subyek dari keputusan tersebut. Model pendidikan yang seperti ini tidak bisa dipertahankan karena tidak mendukung terbentuknya kelompok terdidik yang diharapkan.

Bila kita kembali pada apa yang dipesankan oleh UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal I : “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, ada beberapa poin yang penting untuk diperhatikan agar pendidikan bisa menghasilkan kelompok terdidik seperti tokoh dan bapak bangsa di atas.

Pendidikan harus secara aktif mengembangkan potensi diri anak didik. Pendidikan merupakan proses dua arah. Guru berperan menyampaikan materi belajar kepada anak didik dan memfasilitasi anak didik dalam belajar secara terstruktur. Murid merupakan obyek sekaligus subyek dari proses pendidikan. Sebagai obyek murid menjadi target dalam penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang disampaikan dalam proses pendidikan. Namun bukan sebagai obyek yang diam, bukan seperti robot yang diisi dengan program sehingga bisa menjadi pintar. Anak didik juga merupakan individu yang sedang berkembang menuju kedewasaan, individu yang senang bereksplorasi, dan yang paling penting adalah individu yang unik satu sama lainnya. Masing-masing individu memiliki minat sendiri yang belum tentu sama dengan individu lainnya, memiliki tingkat penerimaan (intelegensi) yang berbeda antar individu, memiliki latar belakang sosial yang berbeda, dan banyak hal lainnya yang berbeda dari individu ke individu. Oleh karena itu pendidikan harus memberi ruang gerak bagi individu untuk belajar sesuai dengan minat, cara dan kecepatan dari masing-masing individu. Anak didik selain mendapatkan materi pelajaran dari guru juga dipandu untuk bebas mendapatkan maupun mengembangkan materi yang dipelajari lewat sumber-sumber lain seperti dari pengamatan terhadap lingkungan hidup anak didik (keluarga, tetangga, masyarakat), dari bacaan yang dibacanya (koran, majalah, artikel di internet, dan lain-lain), dari diskusi dengan sejawat, dan lainnya. Dengan kebebasan ini anak didik akan tertuntun mengembangkan potensi dirinya sehingga menjadi individu yang aktif, kritis, demokratis, bisa bekerjasama, dan percaya diri.

Pendidikan harus memberi bekal yang cukup kepada anak didik untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan dimana mereka tinggal. Jadi pendidikan bukan sekedar membuat anak didik memiliki pengetahuan tetapi juga harus melengkapi anak didik dengan ketrampilan dan kematangan diri yang bisa membantunya dalam menjalani kehidupan. Dalam hal ini pendidikan harus selalu menghubungkan diri dengan lingkungan yang dihadapi anak didik saat itu. Dengan selalu berelasi dengan lingkungan berarti anak didik tertuntun untuk peduli pada isu yang sedang terjadi di dalam masyarakat, bangsa dan negara. Kepedulian ini kemudian digabungkan dengan potensi diri, pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki anak didik akan membawa mereka untuk menganalisa, mengolah dan memikirkan solusi dan inovasi yang bisa dilakukan oleh dirinya maupun oleh masyarakatnya untuk memperoleh masa depan yang lebih baik untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat lingkungannya, dan tentunya bagi bangsa dan negaranya.

Demikianlah untuk mencetak manusia Indonesia yang berkualitas seperti tokoh dan bapak bangsa jaman sebelum kemerdekaan dulu perlu dilakukan perbaikan pada tata cara pendidikan dan pembelajaran pada anak didik di sekolah-sekolah di negeri ini. Bukan hanya mengejar kelulusan 100 persen saja tapi juga membentuk pribadi anak didik yang handal, tahan banting dan peduli dengan kepentingan bangsa dan negara. Dengan demikian bangsa Indonesia bisa mengalami bentuk Kebangkitan Nasional yang terus menerus hari ini dan di masa datang berkat inovasi dan pemikiran jernih dari anak bangsanya.

Pustaka
Bernard H.M. Vlekke. Nusantara: Sejarah Indonesia. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta. 2008.

(versi lengkap dari artikel yang pernah ditayangkan di rubrik OPINI Harian Batam Pos, 19 Mei 2009)

Advertisements