Archive | May 22, 2009

Tips Rekreasi Hemat di Batam

Batam selain sebagai kota industri juga terkenal dengan tempat wisatanya, terutama bangunan spektakuler dan wisata alam yang masih benar-benar alami. Buat yang senang jalan-jalan sendiri (sendiri maksudnya bukan satu orang saja tapi bisa sekelompok orang tapi tidak menggunakan program tour dari travel agent) tapi kebentur dengan liburan yang pendek saja dan dengan anggaran jalan-jalan yang cukupan saja berikut ini saya jabarkan disini tips rekreasi dan jalan-jalan yang hemat.

Bila dari Jakarta, untuk sampai ke Batam hematnya menggunakan maskapai penerbangan Air Asia. Bila lagi beruntung bisa dapatkan tiket pergi pulang Jakarta – Batam pp hanya dengan lima ratus ribu rupiah. Bagusnya pilih jam keberangkatan yang pagi dari Jakarta sekitar jam enam-an pagi, sementara untuk pulangnya siang atau sore hari. Setelah sampai di Bandara Hang Nadim Batam, gunakan angkutan bis Damri Bandara yang super hemat untuk sampai di pusat kota. Kalau tidak ada hambatan jam sembilan mustinya sudah ada di pusat kota Batam. Trayek yang pas untuk wisata pagi adalah jalan-jalan ke kawasan Barelang (Batam – Rempang – Galang). Yang diperlukan tentunya adalah mobil. Motor memang bisa tetapi untuk kenyamanan direkomendasikan menggunakan mobil saja. Mobil bisa disewa di beberapa tempat penyewaan mobil, harganya juga ngga mahal-mahal amat sekitar 300 sampai 400 ribu sehari untuk mobil jenis Kijang. Dan jangan lupa siapkan makanan dan minuman secukupnya jadi mampir dulu ke supermarket yang dilewati selama dalam perjalanan berangkat ke Barelang, yang pasti dilewati dari arah nagoya adalah Panbil Mall, disini ada Ramayana dan KFC untuk pilihan bekal.

Perjalanan bakal seru setelahnya. Pemandangan pertama yang patut dinikmati adalah perspektif jembatan pertama yang mengagumkan dengan komponen tali baja persis seperti yang sering kita lihat di film-film Amerika dan Hongkong. Ternyata ada juga loh di Indonesia, di Batam tepatnya. Enaknya tempat pertama yang dikunjungi adalah Pantai Melur. Pantai ini ada di antara jembatan tiga dan jembatan empat, mudah menemuinya karena di simpang tiga terdekat akan ada papan nama “Taman Wisata Pantai Melur” dan 10 meter dari sana ada pos pemberhentian untuk pembayaran tiket masuk. Tiket masuk hanya sepuluh ribu rupiah per mobil. Dari sana lokasi pantai hanya sekitar 500 meter saja. Pilih tempat parkir yang di bawah pohon agar mobil tetap adem, karena panas di Batam bisa sangat terik sekali. Di pantai Melur ini bisa bermain dan berenang sepuasnya. Enak juga makan siang di tepi pantai, bila bawaan ternyata tidak mencukupi karena lapar habis berenang, jangan takut karena di sana ada warung dan pedagang keliling yang menjual makanan dan buah-buahan.

Selesai dari pantai Melur, tepat di seberang simpang tiga dimana papan nama Pantai Melur berada adalah lokasi bekas Kamp Pengungsi Vietnam. Tiketnya sekitar dua puluh ribu per mobil. Di sini kita cukup mengikuti tanda jalan berkeliling lokasi bekas kamp pengungsi ini. Tempat yang bagus untuk turun adalah di lokasi gereja yang masih cukup baik terawat. Di sana ada sisa-sisa perahu yang dipakai oleh para pengungsi. Tempat lainnya kita cukup nikmati dari dalam mobil yang mustinya cukup berjalan 20 km/ jam saja. Lokasi ini memang enak dinikmati setelah beraktivitas fisik di pantai Melur.

Nah setelah ini yang jarang-jarang ada di tempat lain yaitu mengunjungi perkebunan buah naga. Buah naga yang asal tanamnya dari Taiwan ini belakangan banyak dibudi-dayakan di daerah Barelang, dan produk buahnya banyak memenuhi supermarket dan pasar di Batam (yang banyak ada adalah DC Mall), dan menurut cerita beberapa orang juga ditujukan untuk ekspor ke Singapura dan Malaysia.

pohon buah naga

pohon buah naga

Di perkebunan buah naga ini selain bisa melihat dan mempelajari bentuk tanamannya yang unik, bisa juga melakukan pembelian bila sedang ada stok. Panen buah naga dilakukan 2 minggu sekali biasanya pada hari Sabtu dan Minggu. Harga di perkebunan ini jauh lebih murah dibandingkan di mall dan pasar di Batam. Bila ingin menikmati buah naga dan jus buah naga bisa mampir di satu tempat makan yang satu-satunya menuliskan menyediakan berbagai makanan dari buah naga.

Mustinya hari sudah menjelang sore setelah menyelesaikan tiga tempat eksotik ini. Dalam perjalanan pulang bisa dinikmati matahari terbenam di garis horizon laut. Setelah sampai di pusat kota yang pertama perlu dilakukan adalah memesan kamar untuk tidur nanti malam terutama buat yang tidak punya kenalan untuk menginap. Kalau ada kenalan tentunya lebih enak lagi dan pastinya jadi lebih murah. Namun hotel di Batam juga tidak mahal-mahal amat, bisa kunjungi hotel Sky View dan hotel Sydney di kawasan Batam Centre dengan tarif 120 ribu sampai 150 ribu rupiah termasuk makan pagi. Dekat lokasi kedua hotel ini ada dua tempat yang bisa dikunjungi yaitu Vihara Maitreyawira dan Wisata Pantai Ocarina. Vihara Maitreyawira merupakan vihara terbesar di Asia Tenggara, jadi jangan lewatkan berfoto-foto di vihara ini. Selain itu bila sudah waktunya makan malam juga bisa mencicipi restaurant vegetarian di dalam kompleks vihara. Mau coba rendang yang vegetarian, nah disinilah tempatnya. Sementara Wisata Pantai Ocarina mirip-mirip dengan Dunia Fantasi jadi mungkin kurang diminati bagi yang sering ke Dufan. Tapi bagus juga dikunjungi bila sedang ada acara pentas musik dari penyanyi Jakarta maupun penyanyi Mandarin terutama untuk menghabiskan sisa malam.

Waktunya tidur tentunya kembali ke hotel. Buat yang waktunya terbatas mungkin besok siang atau sore sudah harus kembali ke Jakarta. Jadi besok pagi setelah makan pagi bisa dilanjutkan dengan belanja di kawasan Nagoya buat sendiri maupun oleh-oleh keluarga dan teman di Jakarta. Buat yang masih ada waktu satu dua hari bisa berkunjung ke tempat wisata lainnya, masih banyak seperti bisa disebut di sini: Tanjung Pinggir Sekupang dengan patung Dewa Kwan Im-nya dan tentunya kawasan Nongsa yang terdapat beberapa lokasi wisata pantai. Atau buat yang mau sekalian ke Singapura ya monggo . Have a nice trip, and come again to Batam ya.

Advertisements

Menjelajahi Industri di Pulau Batam

Kota Batam identik dengan industri. Kondisi ini bersepadanan dengan tujuan awal pengembangan kota Batam sebagai kawasan industri yang dilakukan oleh Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam. Berbagai infrastruktur dibangun untuk mendukung kegiatan industri di kota pulau ini. Dan sekarang di tahun 2009 bisa kita lihat hasil dari pembangunan yang sudah dilakukan tersebut, berbagai jenis industri ringan dan berat berkembang di kawasan ini, baik oleh pelaku domestik maupun investor dari luar negeri. Dan ini bisa dilihat dari banyaknya kawasan industri di seputaran dan sudut kota Batam .

Kawasan Industri Batamindo yang berlokasi di Muka Kuning merupakan kawasan industri yang termaju di Batam. Memasuki kawasan ini kita disambut dengan gerbang megah bertuliskan “Welcome To Batamindo Industrial Park”, cukup indah dan elegan. Jalan yang lebar membuat perjalanan berkendara cukup nyaman, demikian juga pohon-pohon besar dan rindang yang tumbuh di tepi jalan dan trotoar yang bersih membuat perjalanan dengan jalan kaki cukup menyenangkan. Serasa bukan kawasan industri melainkan kawasan rekreasi. Tapi beginilah mustinya suatu kawasan industri, nyaman untuk bekerja dan nyaman untuk aktivitas sehari-hari lainnya. Hal ini tampaknya wajar ada di Kawasan Industri Batamindo ini karena di dalam kawasan ini bukan hanya gedung pabrik yang ada tetapi juga ada dormitori tempat pekerja yang masih lajang tinggal; community centre tempat pekerja melakukan kegiatan sosial seperti olahraga, kesenian, dan bersenang-senang; kawasan komersial untuk pasar, supermarket, pujasera, toko, perbankan, kantor pos, dan prasarana lain yang menunjang kebutuhan sehari-hari pekerja; mesjid dan gereja; dan yang penting bagi suatu industri tentunya pembangkit tenaga listrik dan pengolahan air bersih yang mandiri. Inilah yang bisa disebut kawasan industri yang terintegrasi. Melihat kondisi ini tidak mengherankan bila Kawasan Industri Batamindo dihuni oleh perusahaan-perusahaan besar berkelas dunia, semua fasilitas terlayani dan perusahaan bisa fokus pada core business-nya.

Melangkah keluar dari Kawasan Industri Batamindo, sudah bisa ditemui Kawasan Industri Panbil yang merupakan kawasan industri relatif baru di Batam. Namun yang terkenal dari kawasan industri Panbil ini adalah Panbil Mall dan Panbil Estate. Panbil Mall adalah mall besar dengan konstruksi model stadion yang menjadi mall tujuan utama para pekerja di kawasan muka kuning dan sekitarnya. Sementara Panbil Estate merupakan kompleks perumahan ekslusif di Batam yang terkenal sebagai tempat tinggal para ekspatriat di Batam.

Berjalan lurus menuju Batam Centre, di tengah perjalanan antara kawasan Muka Kuning dan kawasan pemerintahan Batam Centre ada dua kawasan industri lain yaitu Kawasan Industri Cammo dan Kawasan Industri Kara. Kedua kawasan ini termasuk kawasan industri menengah. Berbeda dengan Kawasan Industri Batamindo, di kedua kawasan ini pekerja tinggal di perumahan yang ada di sekitaran kawasan industri ini. Kondisi ini menyebabkan bisnis kontrak-an dan kos-kos-an cukup populer di sekitaran kawasan industri ini. Jarak tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja menjadi incaran para pekerja karena bisa menghemat pengeluaran mereka. Masih di Batam Centre yang terdekat lagi adalah Kawasan Industri Tunas yang memiliki tipe yang hampir sama dengan Kawasan Industri Cammo dan Kara.

Kawasan industri yang lokasinya jauh dari pusat kota adalah kawasan Kabil dan Batu Ampar. yang terkenal dengan industri galangan kapal, industri berat dan industri ringan. Di Kabil ini ada Kawasan Industri Kabil, Kawasan Industri Taiwan, dan beberapa kawasan industri lainnya. Sementara di Batu Ampar ada Kawasan Industri Bintang, Kawasan Industri Union, dan Kawasan Industri Batu Ampar. Yang menarik dari keseharian kawasan industri yang jauh dari tengah kota ini adalah pada pagi hari akan ditemui iring-iringan motor seperti konvoi dengan sebagian pengendaranya mengenakan pakaian seragam. Mereka adalah para pekerja yang berangkat kerja dari rumah yang terletak di sekitaran pusat kota dan pulang dari tempat kerja di kawasan Kabil dan Batu Ampar. Itulah mobilitas warga pekerja Batam.

Banyaknya kawasan industri di Batam bagi orang luar Batam seperti mengisyaratkan bahwa di Batam banyak pekerjaan yang tersedia. Asumsi ini tidak salah tetapi lebih tepatnya adalah memang tersedia banyak pekerjaan namun bagi pekerja yang memenuhi kualifikasi yang sesuai dengan bidang pekerjaan tersebut. Batam sudah menjadi “lampu” bagi “laron” pekerja di luar Batam yang ditandai dengan tingginya jumlah orang yang masuk ke Batam. Namun dengan bagusnya infrastruktur yang ada di Batam dan ketersediaan tenaga kerja yang bagus pula serta dicontohkan dengan sudah banyaknya industri yang menetap di Batam semestinya Batam juga bisa menjadi “lampu” bagi “laron” investor lokal dan luar negeri untuk masuk ke Batam. Apalagi sekarang sudah diberlakukan Sistem Aplikasi Pelayanan Terpadu (One Stop Service) dalam pengurusan dokumen perizinan yang mempermudah para investor dalam pengurusan administrasinya. Dan mustinya investor tidak perlu berpikir dua kali untuk berinvestasi di Batam karena sejak 1 April 2009 lalu Batam sudah menjadi kawasan Free Trade Zone (FTZ) yang berarti industri di Batam bisa berbiaya rendah sehingga produk yang dihasilkan bisa memiliki daya saing tinggi dalam harga di perdagangan dunia.