Archive | May 27, 2009

e-Batam: Sebuah Pemikiran (reload dari arsip th 2002)

Letak geografis Batam yang bertetangga dengan Singapura dan Malaysia seharusnya dapat mendorong pemikiran untuk menjadikan kota Batam sebagai e-Batam. Singapura telah membuktikan bagaimana mereka memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Kunjungi saja http://www.gov.sg, di dalamnya bisa kita rasakan bagaimana warganegara Singapura di’manja’kan dan dipermudah oleh pemerintahnya untuk mengurusi segala kepentingannya. Warga Singapura yang ingin membuat pasport, cukup akses ke situs tersebut dan masuk ke halaman Safety and Security, yang menjabarkan prosedur dan persyaratan yang diperlukan, dan kemudian bisa langsung mengajukan aplikasi on-line melalui system APPLES (Application for Passport On-line Electronic System). Di halaman yang sama juga mereka bisa melakukan transaksi perpanjangan SIM, atau bila ingin mengecek keaslian KTP seseorang juga bisa dilakukan secara on-line. Di halaman Family, keluarga dapat secara on-line mengurus surat perkawinan, dan akta kelahiran. Di halaman Education, diberikan informasi lengkap mengenai pendidikan dan daftar sekolah yang tersedia. Halaman-halaman lain yang ada termasuk halaman Kesehatan, Transportasi, Perumahan, dan penelusuran pekerjaan. Nilai-nilai positif dari pengalaman Singapura memanfaatkan TI ini menggelitik penulis untuk menerapkan hal serupa kepada kota Batam dan menuangkan pemikiran e-Batam dalam tulisan ini.

e-Batam atau electronic-Batam merupakan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif untuk mendukung kegiatan pemerintahan dan kemasyarakatan dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Batam dan untuk memajukan eksistensi kota Batam dalam perekonomian dunia. Jelas disini basis sektornya adalah sektor pemerintahan, pelayanan masyarakat, dan ekonomi-industri.

TANTANGAN

Beberapa pertanyaan kritis pasti akan muncul dari berbagai pihak menanggapi pemikiran e-Batam ini, namun jangan membuat kita pesimis tetapi kita buat pertanyaan ini sebagai tantangan dari e-Batam.

Apakah tidak berlebihan bila Batam mencontoh Singapura yang notabene adalah negara maju sementara Batam (Indonesia) masih menjadi negara berkembang? Malah disinilah keuntungan Batam bila memanfaatkan TI. Banyak ahli menyatakan bahwa TI merupakan alat untuk melakukan loncatan katak ‘frog-leap’, yang bagi Batam merupakan ‘lompatan raksasa’ dari tahapan berkembang (Industrial Society) langsung ke tahapan informasi (Post-Industrial Society) tanpa perlu melalui tahapan negara maju (Developed Society).

Lalu darimana dana untuk membiayai program ini? Melihat kondisi Batam saat ini yang mampu mengeluarkan 28 milyar rupiah untuk pembangunan gedung DPRD-nya (Sijori Pos, 1 Juni 2002), penulis merasa dana bukan masalah. Yang diperlukan adalah mengkaji kembali skala prioritas dari beberapa proyek yang sudah disetujui untuk didanai, memilah secara obyektif: yang produktif dan menambah nilai harus diprioritaskan, sementara proyek yang non-produktif bisa ditunda dulu.

Apakah kita mempunyai sumber daya manusia yang cukup untuk membangun e-Batam? Penulis perkirakan tidak ada masalah untuk mendapatkan SDM yang diperlukan. Sekarang ini cukup banyak SDM TI Indonesia yang bekerja di Singapura, dan ini menunjukkan bahwa tingkat keilmuan dan ketrampilan SDM TI kita setaraf dengan SDM TI Singapura. Menurut penulis, langkah yang paling bijak dan aman adalah dengan melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi yang benar-benar memiliki kemampuan TI dan yang professional. Tidak perlu terlalu ‘chauvinis’ harus perguruan tinggi lokal, namun gunakan seleksi yang obyektif dan transparan. Sementara untuk SDM pengguna e-Batam juga perlu dilakukan program pelatihan, terutama untuk para aparat pemerintah yang langsung berinteraksi dengan e-Batam sehingga bisa mengoperasikan e-Batam secara optimal dan efisien.

Bagaimana dengan infrastrukturnya? Untuk infrastruktur, pemerintah kota bisa bekerjasama dengan Telkom dan Indosat untuk menyesuaikan infrastruktur informasi (kapasitas dan distribusi) sehingga bisa menunjang operasional e-Batam.

KESEMPATAN

Di samping tantangan, e-Batam juga membuka kesempatan kepada masyarakat, pemerintah, dan kota Batam sendiri untuk berkembang dan memperbaiki diri. Beberapa kesempatan dijabarkan di bawah ini.

Kesatu, e-Batam menjamin terwujudnya ‘good-governance’. Akar masalah korupsi, penyuapan, dan in-efisiensi pemerintahan adalah ketertutupan dalam institusi. Ketertutupan ini menyembunyikan semua permasalahan hanya pada lingkup tertentu. Lihat saja di beberapa institusi yang namanya Standard Operating Procedure atau prosedur operasi sengaja dibuat tidak jelas kepada masyarakat sehingga masyarakat menjadi bingung: tidak tahu kepada siapa dia harus pergi untuk berurusan, dokumen apa saja yang harus dilengkapi, berapa biaya yang ditetapkan, aktivitas apa saja yang harus dia tempuh, berapa lama proses pengolahannya, dan lain sebagainya. Hal ini menyuburkan ‘jamur’ yang namanya ‘uang pelicin’. Demikian juga dengan tersumbatnya saluran pelaporan pada berbagai institusi. Laporan masyarakat yang diajukan hanya disimpan pada tingkat dan lingkup tertentu saja, tidak naik ke atas, sehingga tidak ada tindak-lanjutnya sama sekali. Contoh kasus yang mengenaskan karena kontradiktifnya adalah laporan masyarakat mengenai kebocoran pipa air yang sering diabaikan, padahal manajemen institusi air mengeluh rugi dan berniat menaikkan tarif. TI yang memiliki sifat ‘transparansi informasi yang terakses oleh semua’ bisa menguak sifat tertutup dari institusi menjadi keterbukaan yang memungkinkan pengontrolan oleh semua. Pada kasus di atas, TI bisa memperjelas SOP karena TI hanya bisa diimplementasikan bila SOP sudah terdefinisi secara jelas, detail dan benar. SOP ini bisa diinternalisasikan dalam sistem aplikasi berbasis TI. Seperti contoh kasus Singapura di atas semua prosedur tercatat di situs web yang bersangkutan dan yang setiap transaksi prosesnya bisa dicatat untuk kemudian bisa digunakan sebagai bahan audit-trail. Demikian juga dengan saluran pelaporan, bagaimana teknologi internet dan email memungkinkan pelaporan yang diajukan masyarakat bisa diterima, dibaca, dan diperhatikan oleh banyak pihak: aparat institusi, atasan aparat, pimpinan institusi, dan masyarakat lainnya.

Kedua, pelayanan terhadap masyarakat bisa dioptimalkan dari aspek kenyamanan, kecepatan, kemudahan, dan keamanan. Contohnya bisa kita lihat dari kasus Singapura di atas.

Ketiga, daya saing Batam dalam industri, perdagangan, dan perekonomian bisa ditingkatkan. Kawasan sijori (Singapura, Johor, Riau-Batam) merupakan kawasan industri yang berkembang pesat. Dibandingkan ketiganya maka Batam masih dalam tingkat bawah. Institusi perdagangan dan industri Batam bisa ikut memanfaatkan fasilitas e-Batam baik untuk pertukaran data perdagangan secara elektronik (contoh di pelabuhan) ataupun berinteraksi secara on-line dengan mitra bisnis di seluruh dunia. Kedekatan melalui TI menutupi keterpisahan secara geografis dan ini bisa menjadi salah satu keunggulan kompetitif dari industri yang ada di Batam.

Keempat, proses demokrasi dalam arti sebenarnya bisa dilaksanakan. TI memungkinkan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan dan kemasyarakatan menjadi lebih intensif. Terbukanya saluran pengaduan dan komunikasi memungkinkan masyarakat untuk ikut serta secara aktif melakukan pengawasan terhadap jalannya roda pemerintahan dan mempermudah akses untuk mengemukakan pendapatnya hingga bisa didengar oleh aparat pemerintahan.

STRATEGI MENUJU e-BATAM

e-Batam tidak bisa diwujudkan dalam jangka waktu 1 tahun dan menurut perkiraan penulis diperlukan waktu minimal 5 tahun. Untuk itu diperlukan satu strategi implementasi yang solid dan detil, yang singkatnya berisi sebagai berikut:

Pertama, Tahap Perencanaan untuk membuat dokumen cetak biru yang menjabarkan secara detil dan matang akan seperti apa e-Batam pada akhirnya, aktivitas apa saja yang akan dilakukan dalam membangun e-Batam, siapa saja yang terlibat, dimana dikerjakannya, kapan aktivitas mulai dan selesai, dan ukuran-ukuran pencapaian targetnya. Yang tercantum dalam dokumen ini haruslah sesuatu yang siap untuk dijalankan.

Kedua, membangun sistem back-office di satu atau dua institusi sebagai pilot project. Sistem back-office ini merupakan komponen utama (core) yang memungkinkan dimulainya interkoneksi e-Batam. Sistem back-office yang dimaksud disini adalah piranti lunak (aplikasi) TI, piranti keras TI, jaringan komunikasi, sistem prosedur standar, dan sistem pelatihan dalam institusi itu sendiri. Misalnya di kantor kependudukan dibangun sistem pencatatan kependudukan yang terkomputerisasi untuk menyimpan dan mengolah data kependudukan (lahir, sekolah, menikah, meninggal, mutasi) kota Batam. Sistem back-office ini akan memproses permintaan secara on-line melalui internet (softcopy) dan permintaan yang diajukan masyarakat yang secara langsung datang ke institusi yang bersangkutan (hardcopy).

Ketiga, membangun sistem telekomunikasi dan infrastruktur informasi dalam lingkup kota Batam untuk mendukung program e-Batam, misalnya meningkatkan jumlah saluran telepon, meningkatkan bandwidh, dan lain-lain.

Langkah keempat adalah mensosialisasikan TI seperti internet ke masyarakat dan mengusahakan peningkatan tingkat kepemilikan komputer atau handphone oleh masyarakat. Misalnya dengan mengadakan program kredit murah terhadap komputer dan handphone, mempermudah ijin pendirian warung internet, dan mengadakan pelatihan penggunaan internet di sekolah-sekolah.

Kelima, setelah pilot project berjalan dengan baik maka dilakukan pembangunan sistem back-office di seluruh institusi yang terlibat dalam e-Batam seperti yang telah dirumuskan dalam dokumen cetak biru di langkah perencanaan.

Keenam adalah membangun sistem interkoneksi antar institusi yang merupakan milestone penting dalam e-Batam. Kegiatannya meliputi pemetaan data antar institusi, pemetaan pelayanan institusi terhadap keperluan masyarakat, pemetaan informasi yang terakses dan yang dibutuhkan, dan integrasi antar sistem yang ada. Setelah itu dibangun situs web e-Batam yang menjadi titik temu antara aplikasi back-office, sistem interkoneksi, dan pengguna (masyarakat dan aparat pemerintah); yang disebut juga sistem front-office.

Pada akhirnya struktur teknis seperti yang digambarkan dalam gambar Perspektif Teknis e-Batam akan terbentuk.

PENUTUP

Belajar dari pengalaman Singapura, teknologi informasi bisa menjadi satu alternatif bagi kita untuk memajukan kota, masyarakat, pemerintahan, dan industri Batam. Hal ini menjadi tantangan bagi aparat pemerintahan kota Batam, pelaku industri di Batam, dan masyarakat Batam untuk mempertimbangkan pemikiran e-Batam ini sebagai salah satu program pembangunan kota Batam dalam masa 5 tahun ke depan.

(tulisan ini di-reload dari arsip tahun 2002 http://www.geocities.com/hermanjul)

Advertisements