Asuransi Bukan Angsuran sih …

Berbicara mengenai asuransi ada hal menggelikan namun ternyata penting yang diperdebatkan oleh teman saya. Teman saya ini orangnya senang menganalisa dari yang kecil hingga yang besar, dari yang enteng sampai yang berat, dari sudut kata sampai sudut fisika, dari sumber yang dipercaya sampai yang hanya gosip. Akibat banyak yang dianalisa maka geraknya menjadi sangat lambat karena prinsipnya: “semua harus diperhitungkan sampai matang baru kita aman melangkah”. Itulah teman saya, dan ini yang dianalisanya mengenai asuransi pada saat kami makan siang di kantor.

Teman saya ini bilang bahwa asuransi tidak berbeda dengan kredit. Diumpamakan kredit pemilikan rumah (KPR). Bila dia mengambil KPR maka dia akan mendapatkan uang besar saat akad kredit, lalu sebulan setelahnya dia mulai mengangsur cicilan pembayaran kredit tersebut sampai dengan jangka waktu yang disepakati. Nah, bila dia mengambil asuransi jiwa maka dia sudah harus membayar premi saat polis diterbitkan sampai jangka waktu yang disepakati, sementara uang dalam jumlah besar akan diterima oleh dia atau ahli warisnya kemudian. Keduanya adalah proses menabung yang dilakukan secara tertib dan disiplin. Perbedaannya adalah kapan dia mendapatkan uang dalam jumlah besar sebagai hasil tabungannya. Yang satu di muka, yang satunya lagi di belakang.

Tapi, nah ini masih ada tapinya lagi … dia menambahkan. Di asuransi uang dalam nilai besar tadi bisa diterima juga walaupun angsuran yang dimaksud belum terlunasi. Jumlah uang besar itu sama dengan jumlah uang besar yang diterima di belakang tadi. Hal ini bisa terjadi bila si pembayar atau dalam istilah asuransi disebut tertanggung mengalami suatu hal yang dalam perjanjian di awal resikonya dialihkan kepada pihak asuransi sebagai penanggung. Jadi ini yang tidak ada dalam kasus KPR. Di dalam asuransi ada unsur pertanggungan resiko, dimana pihak tertanggung memindahkan resiko yang mungkin terjadi pada diri tertanggung kepada pihak lain yang dalam hal ini adalah perusahaan asuransi. Premi yang pembayarannya dalam bentuk angsuran seperti angsuran kredit hanya merupakan pengganti atau kompensasi dari pihak tertanggung kepada penanggung akibat pengalihan resiko tersebut.

Jadi menurut teman saya ini, asuransi bagus bagi orang yang memiliki resiko dalam konteks negatif yang besar. Asuransi juga bagus bagi orang yang tidak dapat atau belum mampu mempersiapkan diri menghadapi masa depannya. Dan satu lagi menurut teman saya bahwa asuransi bagus juga diikuti oleh orang yang terlalu mencemaskan masa depannya.

Lalu saya tanyakan bagaimana seseorang bisa tahu dia siap atau tidak dalam menghadapi masa depannya. Kan ada orang yang hanya bermodal PD – percaya diri sudah bisa bilang bahwa dia tidak kuatir akan masa depan dan selalu siap menghadapi masa depan yang seperti apa pun. Dengan guyonan dia berkata, orang yang sudah siap akan masa depan itu kalau tingkat hidupnya seperti kita ini tapi punya tabungan sebanyak 1,57 trilyun (trilyun itu nolnya ada dua belas: 1,570,000,000,000) seperti yang dimiliki cawapres Prabowo Subianto, sehingga untuk 3 keturunan pun tidak akan habis bila hidup normal seperti sekarang ini.

Waktu saya tanyakan termasuk golongan manakah dia? Dengan tersenyum dia berkata kalau dia sebagai dirinya sendiri dia termasuk golongan yang PeDe, tapi dalam konteks keluarga dia termasuk golongan yang belum (yakin) mampu mempersiapkan masa depan terutama yang berhubungan dengan anak. Oleh sebab itu katanya dia berencana mengikuti program asuransi pendidikan dari AJB Bumiputera untuk anaknya. Dengan asuransi pendidikan ini dia ingin memindahkan resiko bila satu saat dia tidak mampu dalam mempersiapkan uang masuk sekolah anaknya terutama di tingkat SMP, SMA dan Universitas yang dari tahun ke tahun terus meningkat, apalagi dia mendapat informasi dari milis bila biaya masuk fakultas kedokteran universitas negeri ternama tahun ini saja minimal sudah 10 juta rupiah. “Kasihan kan anakku kalau nantinya tidak bisa masuk sekolah yang dia dambakan hanya karena orang tuanya tidak mampu membayar uang masuknya”, katanya menambahi. Melalui asuransi pendidikan ini si anak sudah mendapat jatah tertentu dari asuransi pada saat si anak waktunya masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Lalu saya kejar lagi dengan pertanyaan kira-kira kalau begitu ada tidak keuntungan dari asuransi. Sekali lagi dengan senyum lebar bibir berkumisnya dia berkata “Ya, tentu ada.”. Pertama, menurut dia lagi mengulang yang sudah diutarakan sebelumnya bahwa asuransi memberi keuntungan bagi pesertanya bila pada saat masih dalam masa pembayaran premi tertanggung mengalami resiko yang diasuransikan. Misalnya untuk kasus asuransi pendidikan di atas, kalau tertanggung mengalami kecelakaan dan cacat maka penanggung atau perusahaan asuransi akan meneruskan pembayaran premi yang seharusnya dibayar oleh tertanggung sampai masa pembayaran selesai, sementara si tertanggung juga sudah mendapatkan pertanggungan karena kondisi cacatnya tersebut. Jadi dalam hal ini keuntungan bagi tertanggung adalah walaupun dia cacat dan tidak dapat bekerja normal kembali, biaya pendidikan anak tidak terganggu karena sudah ditanggung oleh asuransi.
Kedua, melalui asuransi tertanggung bisa mendapatkan pertanggungan lebih dari 5 kali dari jumlah premi yang dibayarkannya. Tapi, tambahnya, ini bila faktor waktu tidak diperhitungkan jadi nilai premi dan pertanggungan dihitung pada saat ini.

Ketiga, melalui asuransi secara langsung tertanggung dipaksa untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk keperluan masa depan. Ini yang menurut saya paling terasa karena bila dibandingkan dengan menabung, dari tabungan saya masih sering ‘tergoda’ untuk menggunakan hasil tabungan untuk mendanai kegiatan yang lain selain yang dimaksudkan dari kegiatan menabung tersebut. Selain itu menabung tidak memberi keuntungan pertama di atas seperti yang teman saya katakan.

Dihubungkan dengan tabungan maka saya menyela omongan teman saya ini, “jadi kelihatannya premi yang tadi kamu padankan dengan angsuran, menurut saya jadi lebih dekat ke tabungan deh”. Teman saya mengangguk-angguk mengiyakan. “Ya tepatnya begitu kali ya. Premi itu lebih dekat ke tabungan yang kita sisihkan untuk kita gunakan kemudian”. Betul, asuransi adalah tabungan yang selain memberi bunga juga memberi kepastian untuk bisa digunakan sesuai dengan yang dimaksudkan. Dan juga memberi pertanggungan bila di tengah perjalanan mengalami resiko yang bisa mengganggu kelangsungan menabung tersebut.

Tidak terasa makan siang termasuk kerupuk sebagai cemilan sudah habis disantap, dan waktu istirahat tinggal 5 menit lagi. Dengan pengetahuan baru tentang asuransi saya dan teman saya meninggalkan kantin kembali ke ruang kerja.

Advertisements