Orang Tua, Yuk Terlibat Dalam Kegiatan di Sekolah Anak Kita !

Sabtu lalu, 28 Juli 2018, penulis menghadiri acara seminar parenting.  Acara dengan tema “Manajemen Diri Menghadapi Era Digital“ diselenggarakan oleh SMP anak kedua penulis belajar.  Dalam undangan, acara seminar diminta untuk dihadiri bersama oleh orang tua dan siswa.  Pada sesi pertama seminar dipaparkan tentang potensi manfaat teknologi digital dan keperluan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam ber-teknologi digital untuk menyelaraskan dengan konsekuensi hukum UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sesi kedua memaparkan kiat untuk mengelola waktu bagi orang tua dan siswa.  “Time is money” yang diartikan waktu yang terbatas 24 jam sehari harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.  Diperkenalkan 4 kuadran prioritas yang bisa dijadikan rujukan dalam mengelola waktu.  Dengan memetakan daftar kegiatan yang “harus” dan “ingin” dilakukan maka orang tua dan siswa diharapkan dapat menggunakan waktunya untuk hal yang bermanfaat bagi keluarga dan pengembangan dirinya.

kuadran prioritaws

Pada sesi ketiga dilakukan diskusi antara siswa dan orang tua.  Diskusi untuk mensepakati apa yang telah dan akan dilakukan siswa dalam penggunaan gawai dan pengelolaan waktunya.  Terjadi komunikasi apa yang diinginkan siswa dan apa yang diinginkan orang tua terkait dua topik tersebut.  Kedua keinginan tersebut dimusyawarahkan, dimufakatkan, dan dijadikan target improvement yang akan dilaksanakan oleh siswa dan akan dimonitor oleh orang tua dalam 2 bulan ke depan.  Kami: orang tua, siswa, dan guru, mengakhiri seminar dengan rasa sebagai satu tim yang sedang berjuang mewujudkan satu tujuan yang sama.

Selain seminar parenting di atas, sekolah juga telah mengundang orang tua untuk hadir dan berpartisipasi dalam beberapa kegiatan.  Beberapa ajakan sekolah kepada orang tua siswa yang pernah penulis terima antara lain pertemuan orang tua di awal tahun, pertemuan sosialisasi pendidikan karakter di sekolah, mengikut sertakan orang tua untuk terlibat dalam lomba olahraga, mengikut sertakan orang tua untuk menghadiri pentas kelas, pengambilan hasil ujian tengah semester, dan pengambilan raport semester.  Persentase kehadiran orang tua dalam memenuhi undangan sekolah tersebut cukup besar, walaupun pada awalnya masih ada kecurigaan bahwa undangan tersebut adalah untuk meminta sumbangan dari orang tua sama seperti pengalaman “SMPN 07 Kota Semarang Perkuat Pelibatan Orang Tua”  (dalam https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=2479 ).  Namun melihat manfaat yang didapat orang tua dari pertemuan awal membuat antusiasme pada pertemuan selanjutnya semakin meningkat.

Undangan untuk menghadiri pertemuan awal tahun belajar mengajar yang berisi perkenalan dengan wali kelas dan guru pengajar bidang studi, serta penjabaran rencana kegiatan belajar mengajar selama satu tahun ke depan merupakan titik awal kerjasama sekolah dan orang tua.  Bagi penulis sebagai orang tua siswa, mengenal  profil guru dan bertatap muka dengan guru yang akan berinteraksi dengan anak selama satu tahun ke depan merupakan hal yang sangat penting.  Hari itu merupakan milestone dimulainya komunikasi kekeluargaan dan sinergi orang tua dengan guru dalam mendidik anak/siswa. Dari situ pertukaran informasi dua arah terkait anak/siswa di rumah/sekolah bisa berlanjut baik lewat kunjungan orang tua ke sekolah maupun komunikasi telpon dan teks.  Orang tua memberitahu guru tentang ketidak hadiran anaknya, atau sebaliknya wali kelas menanyakan kepada orang tua bila siswa tidak hadir tanpa ada informasi dari orang tua.  Guru mengundang orang tua ke sekolah bila siswa terlibat dalam masalah, atau sebaliknya orang tua berkunjung ke sekolah untuk berkonsultasi dengan guru bila merasakan ada perubahan perilaku pada anaknya.

Komunikasi juga perlu dilakukan untuk menginformasikan program sekolah dan agenda kelas kepada orang tua.  Dengan mengetahui rencana waktu dan kegiatan belajar mengajar di sekolah, sebagai orang tua, penulis bisa merencanakan kegiatan keluarga yang tidak berbenturan dengan kegiatan di sekolah tetapi malah saling mendukung.  Misalnya dengan mengetahui jadual libur anak, penulis bisa mulai mencari kegiatan kreatif yang dapat mengisi waktu libur anak.  Anak sudah dapat didaftarkan untuk mengikuti kegiatan retret religius ataupun kursus singkat multimedia. Kedekatan antara sekolah dan orang tua serta keterbukaan informasi antara keduanya merupakan awal yang menentukan terciptanya keselarasan antara pendidikan siswa di sekolah dengan pendidikan anak di rumah.

Keselarasan antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah tidak terbatas pada kegiatan belajar mengajar yang bersifat akademis saja tetapi juga dalam hal pendidikan karakter.  Pendidikan karakter merupakan upaya mengajarkan kepada siswa budaya yang dapat membantu siswa mengembangkan berbagai standar moral, kewarganegaraan, perilaku yang sehat sehingga menjadi pribadi yang secara sosial diterima oleh masyarakatnya.  Karakter terbentuk mulai sejak lahir yaitu pertama melalui proses pengamatan setiap perilaku orang dewasa di dekatnya, kedua dengan menirukan perilaku tersebut menjadi perilaku anak, ketiga melakukan perilaku secara rutin sehingga menjadi kebiasaan, keempat perilaku yang menonjol tersebut menjadi sifat, dan kelima menjadi penampakan diri seseorang atau karakter.

Untuk mendukung pembentukan karakter yang baik pada siswa maka lingkungan tumbuh kembang siswa yaitu sekolah dan keluarga harus memiliki pemahaman dan gerakan yang sama.  Sekolah sudah memiliki program pendidikan karakter yang terstruktur misalnya dengan mengintegrasikan ke dalam mata pelajaran, kegiatan terprogram misalnya mengunjungi teman sakit dan kantin kejujuran, kegiatan pembiasaan misalnya berdoa dan upacara bendera, dan kegiatan keteladanan dari guru dan karyawan misalnya hadir tepat waktu dan meminta maaf.  Nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah ini juga harus ditanamkan di rumah.  Oleh karena itu sekolah melibatkan orang tua untuk mengetahui pendidikan karakter seperti apa yang sedang dilakukan untuk dihidupkan juga di dalam keluarga.  Sekolah mengundang orang tua untuk mensosialisasi program pendidikan karakternya dan juga membagikan buku panduan pendidikan karakter untuk orang tua agar orang tua bisa mempelajari lebih lanjut hal-hal yang diperlukan dari mereka.  Keperluan untuk menjaga kesinambungan antara nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah dan di dalam keluarga.  Sehingga kebiasaan berdoa di sekolah terus berlanjut dilaksanakan di rumah, demikian juga keteladanan untuk meminta maaf yang ditunjukkan oleh guru, juga dilakukan orang tua dan adik/kakak dalam keluarga.  Dengan demikian anak/siswa melihat nilai yang sama ada di sekolah maupun di rumah.  Kebiasaan baik yang berulang-ulang kapanpun dan dimanapun mereka berada ini akan terpatri dalam diri anak/siswa sehingga menjadi karakternya sampai dewasa nanti.

Dari paparan di atas terlihat jelas bagaimana pentingnya sinergitas peran orang tua bersama sekolah dalam membentuk anak/siswa untuk menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas, terampil, berkarakter, dan bertanggung jawab.  Syaratnya hanya satu dan tidak sulit yaitu para orang tua harus mau berpartisipasi.  Selain karena untuk masa depan anak, juga ternyata sinergitas sekolah dan orang tua dalam pendidikan itu merupakan amanat negara yang sudah menjadi program nasional.  Lewat  Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 30 tahun 2017 tentang “Pelibatan Keluarga Pada Penyelenggaraan Pendidikan” disebutkan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.  Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.  Tujuan pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang “Pendidikan Nasional” adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jadi para orang tua dan keluarga jangan ragu lagi untuk ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan di sekolah anaknya.  Pelibatan orang tua di sekolah bagaikan kaki kiri yang melengkapi kaki kanan (sekolah) sehingga seseorang (anak/siswa) dapat berjalan dengan cepat dan selamat menuju lokasi yang dituju.

3 - prinsip kemitraan keluarga

#sahabatkeluarga

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s