Archives

Orang Tua, Yuk Terlibat Dalam Kegiatan di Sekolah Anak Kita !

Sabtu lalu, 28 Juli 2018, penulis menghadiri acara seminar parenting.  Acara dengan tema “Manajemen Diri Menghadapi Era Digital“ diselenggarakan oleh SMP anak kedua penulis belajar.  Dalam undangan, acara seminar diminta untuk dihadiri bersama oleh orang tua dan siswa.  Pada sesi pertama seminar dipaparkan tentang potensi manfaat teknologi digital dan keperluan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam ber-teknologi digital untuk menyelaraskan dengan konsekuensi hukum UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sesi kedua memaparkan kiat untuk mengelola waktu bagi orang tua dan siswa.  “Time is money” yang diartikan waktu yang terbatas 24 jam sehari harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.  Diperkenalkan 4 kuadran prioritas yang bisa dijadikan rujukan dalam mengelola waktu.  Dengan memetakan daftar kegiatan yang “harus” dan “ingin” dilakukan maka orang tua dan siswa diharapkan dapat menggunakan waktunya untuk hal yang bermanfaat bagi keluarga dan pengembangan dirinya.

kuadran prioritaws

Pada sesi ketiga dilakukan diskusi antara siswa dan orang tua.  Diskusi untuk mensepakati apa yang telah dan akan dilakukan siswa dalam penggunaan gawai dan pengelolaan waktunya.  Terjadi komunikasi apa yang diinginkan siswa dan apa yang diinginkan orang tua terkait dua topik tersebut.  Kedua keinginan tersebut dimusyawarahkan, dimufakatkan, dan dijadikan target improvement yang akan dilaksanakan oleh siswa dan akan dimonitor oleh orang tua dalam 2 bulan ke depan.  Kami: orang tua, siswa, dan guru, mengakhiri seminar dengan rasa sebagai satu tim yang sedang berjuang mewujudkan satu tujuan yang sama.

Selain seminar parenting di atas, sekolah juga telah mengundang orang tua untuk hadir dan berpartisipasi dalam beberapa kegiatan.  Beberapa ajakan sekolah kepada orang tua siswa yang pernah penulis terima antara lain pertemuan orang tua di awal tahun, pertemuan sosialisasi pendidikan karakter di sekolah, mengikut sertakan orang tua untuk terlibat dalam lomba olahraga, mengikut sertakan orang tua untuk menghadiri pentas kelas, pengambilan hasil ujian tengah semester, dan pengambilan raport semester.  Persentase kehadiran orang tua dalam memenuhi undangan sekolah tersebut cukup besar, walaupun pada awalnya masih ada kecurigaan bahwa undangan tersebut adalah untuk meminta sumbangan dari orang tua sama seperti pengalaman “SMPN 07 Kota Semarang Perkuat Pelibatan Orang Tua”  (dalam https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=2479 ).  Namun melihat manfaat yang didapat orang tua dari pertemuan awal membuat antusiasme pada pertemuan selanjutnya semakin meningkat.

Undangan untuk menghadiri pertemuan awal tahun belajar mengajar yang berisi perkenalan dengan wali kelas dan guru pengajar bidang studi, serta penjabaran rencana kegiatan belajar mengajar selama satu tahun ke depan merupakan titik awal kerjasama sekolah dan orang tua.  Bagi penulis sebagai orang tua siswa, mengenal  profil guru dan bertatap muka dengan guru yang akan berinteraksi dengan anak selama satu tahun ke depan merupakan hal yang sangat penting.  Hari itu merupakan milestone dimulainya komunikasi kekeluargaan dan sinergi orang tua dengan guru dalam mendidik anak/siswa. Dari situ pertukaran informasi dua arah terkait anak/siswa di rumah/sekolah bisa berlanjut baik lewat kunjungan orang tua ke sekolah maupun komunikasi telpon dan teks.  Orang tua memberitahu guru tentang ketidak hadiran anaknya, atau sebaliknya wali kelas menanyakan kepada orang tua bila siswa tidak hadir tanpa ada informasi dari orang tua.  Guru mengundang orang tua ke sekolah bila siswa terlibat dalam masalah, atau sebaliknya orang tua berkunjung ke sekolah untuk berkonsultasi dengan guru bila merasakan ada perubahan perilaku pada anaknya.

Komunikasi juga perlu dilakukan untuk menginformasikan program sekolah dan agenda kelas kepada orang tua.  Dengan mengetahui rencana waktu dan kegiatan belajar mengajar di sekolah, sebagai orang tua, penulis bisa merencanakan kegiatan keluarga yang tidak berbenturan dengan kegiatan di sekolah tetapi malah saling mendukung.  Misalnya dengan mengetahui jadual libur anak, penulis bisa mulai mencari kegiatan kreatif yang dapat mengisi waktu libur anak.  Anak sudah dapat didaftarkan untuk mengikuti kegiatan retret religius ataupun kursus singkat multimedia. Kedekatan antara sekolah dan orang tua serta keterbukaan informasi antara keduanya merupakan awal yang menentukan terciptanya keselarasan antara pendidikan siswa di sekolah dengan pendidikan anak di rumah.

Keselarasan antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah tidak terbatas pada kegiatan belajar mengajar yang bersifat akademis saja tetapi juga dalam hal pendidikan karakter.  Pendidikan karakter merupakan upaya mengajarkan kepada siswa budaya yang dapat membantu siswa mengembangkan berbagai standar moral, kewarganegaraan, perilaku yang sehat sehingga menjadi pribadi yang secara sosial diterima oleh masyarakatnya.  Karakter terbentuk mulai sejak lahir yaitu pertama melalui proses pengamatan setiap perilaku orang dewasa di dekatnya, kedua dengan menirukan perilaku tersebut menjadi perilaku anak, ketiga melakukan perilaku secara rutin sehingga menjadi kebiasaan, keempat perilaku yang menonjol tersebut menjadi sifat, dan kelima menjadi penampakan diri seseorang atau karakter.

Untuk mendukung pembentukan karakter yang baik pada siswa maka lingkungan tumbuh kembang siswa yaitu sekolah dan keluarga harus memiliki pemahaman dan gerakan yang sama.  Sekolah sudah memiliki program pendidikan karakter yang terstruktur misalnya dengan mengintegrasikan ke dalam mata pelajaran, kegiatan terprogram misalnya mengunjungi teman sakit dan kantin kejujuran, kegiatan pembiasaan misalnya berdoa dan upacara bendera, dan kegiatan keteladanan dari guru dan karyawan misalnya hadir tepat waktu dan meminta maaf.  Nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah ini juga harus ditanamkan di rumah.  Oleh karena itu sekolah melibatkan orang tua untuk mengetahui pendidikan karakter seperti apa yang sedang dilakukan untuk dihidupkan juga di dalam keluarga.  Sekolah mengundang orang tua untuk mensosialisasi program pendidikan karakternya dan juga membagikan buku panduan pendidikan karakter untuk orang tua agar orang tua bisa mempelajari lebih lanjut hal-hal yang diperlukan dari mereka.  Keperluan untuk menjaga kesinambungan antara nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah dan di dalam keluarga.  Sehingga kebiasaan berdoa di sekolah terus berlanjut dilaksanakan di rumah, demikian juga keteladanan untuk meminta maaf yang ditunjukkan oleh guru, juga dilakukan orang tua dan adik/kakak dalam keluarga.  Dengan demikian anak/siswa melihat nilai yang sama ada di sekolah maupun di rumah.  Kebiasaan baik yang berulang-ulang kapanpun dan dimanapun mereka berada ini akan terpatri dalam diri anak/siswa sehingga menjadi karakternya sampai dewasa nanti.

Dari paparan di atas terlihat jelas bagaimana pentingnya sinergitas peran orang tua bersama sekolah dalam membentuk anak/siswa untuk menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas, terampil, berkarakter, dan bertanggung jawab.  Syaratnya hanya satu dan tidak sulit yaitu para orang tua harus mau berpartisipasi.  Selain karena untuk masa depan anak, juga ternyata sinergitas sekolah dan orang tua dalam pendidikan itu merupakan amanat negara yang sudah menjadi program nasional.  Lewat  Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 30 tahun 2017 tentang “Pelibatan Keluarga Pada Penyelenggaraan Pendidikan” disebutkan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.  Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.  Tujuan pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang “Pendidikan Nasional” adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jadi para orang tua dan keluarga jangan ragu lagi untuk ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan di sekolah anaknya.  Pelibatan orang tua di sekolah bagaikan kaki kiri yang melengkapi kaki kanan (sekolah) sehingga seseorang (anak/siswa) dapat berjalan dengan cepat dan selamat menuju lokasi yang dituju.

3 - prinsip kemitraan keluarga

#sahabatkeluarga

Advertisements

Hai Pemuda, Ayo Kita Proklamasi Lagi!

Organisasi Budi Utomo, 20 Mei 1908. Budi Utomo merupakan organisasi fomal pemuda pertama di tanah air yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kepedulian terhadap penderitaan dan pendidikan rakyat memacu tiga murid Sekolah Kedokteran Jawa (Stovia) yaitu Sutomo, Gunarwan dan Suraja untuk berbuat sesuatu terhadap rakyat. Mereka berinisiatif untuk secara mandiri menolong rakyat mereka tanpa menunggu dan menuntut pada pamong praja penerus kebijakan pemerintah Belanda yang lamban dalam bergerak. Kemunculan Budi Utomo kemudian memompa semangat pemuda pelajar dan mahasiswa lainnya untuk berorganisasi dan memperjuangkan nasionalisme Indonesia yang ditandai dengan munculnya banyak organisasi serupa. Demikianlah sampai hari ini tanggal berdirinya organisasi Budi Utomo diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.

Peristiwa Ikada, 19 September 1945. Saat itu ribuan massa rakyat datang memenuhi lapangan Ikada dengan tujuan mendengarkan pidato dari pimpinan Negara Republik Indonesia yang belum genap sebulan diproklamasikan. Kehadiran massa rakyat dijaga ketat oleh tentara Jepang bersenjata yang walaupun sudah mengaku kalah dari sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 namun masih bercokol di Indonesia untuk menjaga status quo. Kondisi saat itu memanas karena sebagian massa yang hadir adalah juga kaum pemuda yang pernah tergabung dalam gerakan militer Heiho dan PETA, dan semi militer Seinendan dan Keibodan. Mereka berkeinginan untuk secepatnya para pemimpin RI melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang dan segera membentuk kesatuan tentara nasional. Mengetahui kondisi tersebut dan untuk menghindari pertumpahan darah yang kemungkinan lebih banyak korban di pihak rakyat, Presiden Soekarno menghadiri rapat tersebut. Presiden Soekarno menyampaikan pesan singkat agar rakyat menaruh kepercayaan kepada pemimpin mereka, dan meminta rakyat untuk bubar dengan tenang kembali ke rumah masing-masing. Rakyat yang menghormati pemimpinnya mematuhi permintaan tersebut dan bertahap meninggalkan lapangan Ikada. Kerusuhan dan pertumpahan darah yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Peristiwa Serangan Umum, 1 Maret 1949. Pukul 6 pagi, sirene di menara pasar Beringharjo berbunyi nyaring. Biasanya setelah bunyi sirene pertanda berakhirnya jam malam, masyarakat segera memulai aktivitas rutinnya keluar rumah. Namun hari itu berbeda karena pagi dimulai dengan suara tembakan dan ledakan dari Tentara Nasional Indonesia yang melancarkan serangan kepada instalasi vital pasukan Belanda yang sedang menduduki kota Jogya sebagai hasil dari Agresi Militer yang kedua. Dalam waktu singkat hampir seluruh sudut kota diduduki TNI, sebagian penduduk mulai mengibarkan bendera merah putih, dan rakyat menyediakan makan untuk pasukan TNI. Serangan Umum yang dipimpin oleh Komandan Wehrkreise III (kota Jogya) Letkol Soeharto mencapai sukses karena dukungan 2000 tentaranya dan juga karena dukungan seluruh pasukan komando lain di sekitar Jogya, serta rakyat. Kepemimpinan komandan yang selalu berada di tengah-tengah pasukan dalam kondisi apapun membuat moril pasukan tetap tinggi dan pasukan memiliki kepercayaan bahwa tiap kesulitan akan bisa diatasi bersama.

Ketiga peristiwa di atas merupakan cukilan kejadian sebelum, sesaat dan setelah peristiwa Proklamas Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Kemerdekaan merupakan perjalanan panjang yang harus ditempuh oleh bangsa Indonesia, bukan hanya sebelum dan saat meraihnya, namun juga setelah memproklamasikan kemerdekaannya. Kemerdekaan bangsa bukan diraih dengan instant, bukan diraih tanpa kerja keras, bukan diraih tanpa perjuangan, namun diraih dengan kesabaran, kecerdasan, kerja keras, pengorbanan darah, jiwa dan raga. Pengorbanan oleh seluruh bangsa, pengorbanan pemimpin, pengorbanan rakyat, pengorbanan orang terpelajar, pengorbanan tentara, pengorbanan pemuda.

Di alam setelah 65 tahun merdeka, mustinya tidak sulit untuk menemukan pengorbanan-pengorbanan anak bangsa yang bekerja untuk negeri tercinta Indonesia. Para pemimpin negara tentu saja tugasnya mempimpin dan membawa negeri dan bangsa ini menuju cita-cita kemerdekaan: persatuan Indonesia dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Para anggota legislatif sebagai kepanjangan tangan dari rakyat diberi wewenang untuk menyuarakan aspirasi rakyat, singkatnya berjuang untuk kepentingan rakyat makanya tidak bisa dipungkiri lagi kalau kita bisa menemukan jiwa pengorbanan pada jabatan ini. Pegawai negeri yang dimaksudkan sebagai pelayan masyarakat tentunya juga memiliki aroma pengorbanan. Dan banyak profesi dan pekerjaan lain yang tujuannya untuk memajukan negara dan bangsa yang didalamnya kita bisa menemukan makna pengorbanan anak bangsa untuk negerinya.

Namun … ternyata … jauh asap dari api. Tak seperti yang diharapkan. Nilai pengorbanan, setelah 65 tahun di alam kemerdekaan, semakin menyempit pada kepentingan pribadi dan golongan. Jabatan-jabatan yang selayaknya memiliki nilai-nilai luhur bekerja untuk bangsa dan negara sekarang telah dipersempit bekerja untuk kepentingan pribadi dan golongan. Semakin sedikit yang mau bekerja setulusnya untuk kemajuan bangsa dan negeri ini, dan semakin terpinggir mereka-mereka itu. Tapi jangan menyerah, kita masih bisa melihat ke sejarah. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, itu kata Bung Karno, dan itu layak kita kerjakan sekarang. Ya, kembali ke sejarah. Lihat peristiwa Budi Utomo, siapa yang memulai perjuangan untuk berbuat sesuatu untuk rakyat kecil ? PEMUDA. KAUM CERDIK PANDAI.

Mari kita mulai lagi siklus perjuangan untuk meraih kemerdekaan Republik Indonesia kembali untuk mengembalikan cita-cita luhur kemerdekaan bangsa ini. Sekali lagi melihat kembali ke sejarah, ini bukan perjalanan instant tetapi ini perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran, kerjasama, kepemimpinan dan pengorbanan yang tulus. Mari pemuda dan cerdik pandai, kita bangun lagi Budi Utomo … mudah-mudahan pada waktunya kita bisa kembali memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dan kemudian merebut kembali cita-cita luhur bangsa lewat serangan umum dan jangan terulang lagi keadaan kemerdekaan seperti hari ini. SELAMAT BERJUANG.

(tulisan yang sama ada juga di: Kompasiana )

PEMIMPIN YANG MEMBANGKITKAN

menyambut hari Kebangkitan Nasional dan Pemilu Kepala Daerah Kepri

Peristiwa Ikada, 19 September 1945. Saat itu ribuan massa rakyat datang memenuhi lapangan Ikada dengan tujuan mendengarkan pidato dari pimpinan Negara Republik Indonesia yang belum genap sebulan diproklamasikan. Kehadiran massa rakyat dijaga ketat oleh tentara Jepang bersenjata yang walaupun sudah mengaku kalah dari sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 namun masih bercokol di Indonesia untuk menjaga status quo. Kondisi saat itu memanas karena sebagian massa yang hadir adalah juga kaum pemuda yang pernah tergabung dalam gerakan militer Heiho dan PETA, dan semi militer Seinendan dan Keibodan. Mereka berkeinginan untuk secepatnya para pemimpin RI melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang dan segera membentuk kesatuan tentara nasional. Mengetahui kondisi tersebut dan untuk menghindari pertumpahan darah yang kemungkinan lebih banyak korban di pihak rakyat, Presiden Soekarno menghadiri rapat tersebut. Presiden Soekarno menyampaikan pesan singkat agar rakyat menaruh kepercayaan kepada pemimpin mereka, dan meminta rakyat untuk bubar dengan tenang kembali ke rumah masing-masing. Rakyat yang menghormati pemimpinnya mematuhi permintaan tersebut dan bertahap meninggalkan lapangan Ikada. Kerusuhan dan pertumpahan darah yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Peristiwa Serangan Umum, 1 Maret 1949. Pukul 6 pagi, sirene di menara pasar Beringharjo berbunyi nyaring. Biasanya setelah bunyi sirene pertanda berakhirnya jam malam, masyarakat segera memulai aktivitas rutinnya keluar rumah. Namun hari itu berbeda karena pagi dimulai dengan suara tembakan dan ledakan dari Tentara Nasional Indonesia yang melancarkan serangan kepada instalasi vital pasukan Belanda. Dalam waktu singkat hampir seluruh sudut kota diduduki TNI, sebagian penduduk mulai mengibarkan bendera merah putih, dan rakyat menyediakan makan untuk pasukan TNI. Serangan Umum yang dipimpin oleh Komandan Wehrkreise III (kota Jogya) Letkol Soeharto mencapai sukses karena dukungan 2000 tentaranya dan juga karena dukungan seluruh pasukan komando lain di sekitar Jogya, serta rakyat. Kepemimpinan komandan yang selalu berada di tengah-tengah pasukan dalam kondisi apapun membuat moril pasukan tetap tinggi dan pasukan memiliki kepercayaan bahwa tiap kesulitan akan bisa diatasi bersama.

Organisasi Budi Utomo, 20 Mei 1908. Budi Utomo merupakan organisasi fomal pemuda pertama di tanah air yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kepedulian terhadap penderitaan dan pendidikan rakyat memacu tiga murid Sekolah Kedokteran Jawa (Stovia) yaitu Sutomo, Gunarwan dan Suraja untuk berbuat sesuatu terhadap rakyat. Mereka berinisiatif untuk secara mandiri menolong rakyat mereka tanpa menunggu dan menuntut pada pamong praja penerus kebijakan pemerintah Belanda yang lamban dalam bergerak. Kemunculan Budi Utomo kemudian memompa semangat pemuda pelajar dan mahasiswa lainnya untuk berorganisasi dan memperjuangkan nasionalisme Indonesia yang ditandai dengan munculnya banyak organisasi serupa. Demikianlah sampai hari ini tanggal berdirinya organisasi Budi Utomo diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.

PEMILUKADA KEPRI

Tiga kepemimpinan nasional dalam sejarah di atas berharga untuk dihubungkan dengan peristiwa yang beberapa hari lagi akan berlaku di provinsi Kepulauan Riau yaitu pemilihan umum kepala daerah. Setiap warga Kepri yang memiliki hak memilih pasti sedang menimbang-nimbang siapa kandidat yang layak dia pilih pada tanggal 26 Mei 2010 nanti. Dari tiga pasang calon siapakah yang terbaik untuk dipilih, dengan harapan bahwa dengan tambahan satu suara dari dirinya bisa memimpin provinsi Kepri selama 5 tahun mendatang.
Dari tiga acuan sejarah di atas dapatlah dicoba untuk melihat dari 4 aspek yaitu: pemimpin yang dihormati dan berwibawa, pemimpin dengan “people in mind”, pemimpin yang menganut “servant leadership”, dan pemimpin yang membangkitkan.

Pemimpin yang dihormati dan berwibawa baik secara personal, sikap, dan perbuatan sehingga menanamkan kepercayaan pada setiap diri rakyatnya. Kepercayaan membuat suara pemimpin dapat menenangkan dan mendamaikan rakyat yang dipimpinnya. Untuk menjadi pemimpin yang dihormati tentunya harus memiliki kapasitas tinggi dalam moral, pengetahuan, kepedulian pada sesama, tidak memperkaya diri sendiri dan keluarga, lurus dalam perbuatan, dan banyak kriteria baik lain yang dituntut secara moral dan etika.

Pemimpin dengan “people in mind” adalah pemimpin yang selalu ada di tengah-tengah rakyatnya baik secara fisik maupun pikiran di setiap kondisi baik susah maupun malang sehingga setiap keputusan yang dibuat merupakan pengejawantahan dari usaha untuk memajukan kehidupan rakyat dan usaha yang memungkinkan rakyat berkontribusi dalam pembangunan baik dalam ikut serta maupun menikmati hasil pembangunan.

Pemimpin yang bisa merasakan kesenangan dan kesusahan rakyatnya, yaitu pemimpin yang menganut paham Servant Leadership (pemimpin yang melayani) yang memenuhi kriteria seperti yang dinyatakan oleh Chanakya dalam bukunya Arthashastra “the leader shall consider as good, not what pleases himself but what pleases his followers … the leader is a paid servant and enjoys the resources of the state together with the people.” Pemimpin yang menyadari bahwa dia ada di posisi pemimpin karena dia dipilih oleh rakyat, dan digaji oleh rakyat sebagai pelaksana pembangunan dan pemerintahan.

Pemimpin yang selalu membangkitkan semangat rakyat sehingga segala gerak-gerik dan usaha yang dilakukannya dapat memberi inspirasi kepada rakyat terutama kaum mudanya untuk secara aktif dan mandiri ikut serta memikirkan lingkungannya dan bergerak aktif dan mandiri sebagai partner pemerintah membangun lingkungannya menjadi lebih baik.

Akhirnya, selamat menimbang-nimbang dan selamat memilih. Semoga terpilih Pemimpin Yang Membangkitkan.

Pustaka:
Dr. A. Sobana H. Peristiwa Ikada: Sikap Pemuda dan Makna Peristiwa. Museum Perjuangan, Jakarta, 2005.
Julius Poor. Doorstoot Naar Djokja. Penerbit Kompas, 2009.
Wikipedia. http://www.wikipedia.org .

MENGAMATI 2 FENOMENA DALAM MASYARAKAT AKIBAT MURAHNYA TARIF PULSA TELEPON SELULER

turun naik


Tit. Tit. Tit .Handphone Bu Anas berbunyi, bunyi khas bila ada SMS masuk. Kami yang sedang mengobrol, tersela sebentar. Bu Anas mengambil handphone dari tas-nya dan membuka. “Bue, tolongke kirimkan pulsa 20 rb aja. Segera ya. Bon dulu. Makasih.” Itulah kiriman SMS dari pelanggan Bu Anas. Bu Anas menerima pembelian pulsa untuk semua provider dari teman-temannya, dari berbagai kalangan mulai dari teman-teman guru, wali murid, sampai teman-teman selingkungan rumahnya.

Di usianya yang 65 tahun, Bu Anas memang masih aktif. Selain mengajar di sebuah sekolah tingkat SD dan SMP untuk pelajaran budaya, beliau juga terlibat aktif di kegiatan gereja. Jadi tidak heran bila kenalannya amat banyak. Melihat dari kebutuahan lingkungan pergaulannya inilah maka Bu Anas terpikir untuk menjual pulsa seluler. Awalnya beliau tidak tertarik dengan tawaran adiknya yang mengajaknya untuk berbisnis jual pulsa. Adiknya tinggal di Jakarta dan sedang berbisnis jual pulsa elektronik. Adiknya menawarkan Bu Anas untuk sambil mengisi waktu mendapatkan penghasilan tambahan dari bisnis ini. Awalnya Bu Anas tidak tertarik, namun kemudian mengamati bahwa teman-teman gurunya sering kali kehabisan pulsa dan kesulitan untuk bisa mengisi kembali selain karena waktu kerja, juga karena lokasi penjualan voucher yang jauh dari lokasi sekolah. Jadi bila ada yang perlu cepat, harus pinjam nomor teman lain.

Sudah setahun lebih usaha jual pulsa berjalan. Tiap bulan terjadi peningkatan penjualan, selain karena pelanggan meningkat juga pemakaian dari masing-masing pelanggannya jadi meningkat. Awalnya omset Bu Anas berkisar 500 ribu sebulan, kini sudah rata-rata satu juta dua ratus ribu rupiah. Menurut Bu Anas, awal-awal dulu penggunaan telepon rata-rata pelanggannya digunakan untuk keperluan pribadi saja, dan untuk hal-hal yang penting saja. “Kan masih mahal tuh pulsa waktu itu”, tambah Bu Anas. Tetapi belakangan ini beberapa pelanggan terutama pelanggan dari lingkungan sekolahnya memanfaatkan telepon mereka untuk bisnis tambahannya. Ada yang memasarkan produk MLM lewat handphone-nya, ada yang memasarkan produk asuransi, “pokoknya mereka sudah pakai handphone mereka untuk bisnis, dan hasilnya bisa terlihat kan mereka beli pulsa juga makin banyak dari saya.”. Pulsa yang murah membuat memulai bisnis juga menjadi murah, sehingga setiap orang yang mau bisa memulai bisnis sesuai pilihannya termasuk para guru tersebut.

Yang lebih menarik lagi menurut Bu Anas adalah tingkat penjualan pulsa nya di lingkungan rumahnya yang besar didominasi oleh pekerja rumah tangga. “Wah, mereka itu jor-joran sekali menelpon, sambil mengajak jalan anak asuhnya keliling kompleks, itu handphone tidak mati-mati. Mungkin itulah dampak murahnya pulsa telpon ya, jadi biaya datang ke rumah temannya atau mungkin ke keluarga mereka di kampung sama dengan kalo mereka ngobrol lewat handphone. He..he.. saya sih senang aja kan penjualan pulsa saya juga jadi meningkat”, ujar Bu Anas sambil tertawa.

Kedua hal di atas merupakan contoh fenomena sosial yang timbul sebagai dampak dari semakin murahnya tarif pulsa telepon seluler. Turunnya tarif dan turunnya harga telepon seluler membuat keduanya makin terjangkau oleh masyarakat berstrata ekonomi bawah dan tentunya akan memberi dampak bagi kehidupan mereka. Kedua hal ini akan dilihat lebih detail dengan alat analisa yang sedikit ilmiah di bawah ini.

Penjelasan Fenomena Banyak Yang Mulai Berbisnis Karena Murahnya Pulsa

Kasus guru yang mulai berbisnis didorong oleh pulsa murah di atas bila dilihat secara agak ilmiah adalah fenomena yang cukup masuk akal. Fenomena ini akan dilihat dengan Model Lima Kekuatan (Five Forces Model) dari Michael Porter. Dalam model ini ada dua kekuatan yang dipengaruhi oleh murahnya tarif pulsa yaitu kekuatan masuknya pendatang baru dalam industri dan kekuatan ancaman produk pengganti. Semakin kecil penghalang dalam industri (seperti modal yang kecil untuk memulai bisnis, hanya diperlukan kemampuan atau skill yang tidak terlalu tinggi untuk bisa memulai bisnis) maka akan semakin banyak calon pendatang baru yang masuk ke dalam industri tersebut, dan munculnya produk yang memiliki fungsi sama tapi dengan harga yang lebih murah atau lebih mudah digunakan maka akan segera menggantikan produk yang ada sebelumnya Demikianlah peran yang dibawa oleh fenomena semakin murahnya harga pulsa telepon seluler membuat penghalang bagi beberapa bisnis menjadi semakin berkurang dan menjadi alat/sarana alternatif untuk berbisnis.

Contohnya dalam bidang pemasaran yang dulunya dianggap sebagai pekerjaan yang membutuhkan waktu khusus (untuk bertemu calon pembeli secara face-to-face di suatu tempat dan waktu sesuai perjanjian) kini sudah terpatahkan oleh teknologi seluler yang membuat tenaga marketing bisa menghubungi calon pembeli kapan saja dan karena biaya pulsa yang murah membuat tenaga marketing bisa berbicara panjang lebar lewat telepon. Demikian juga calon pembeli bisa secara maksimal memanfaatkan momen tersebut tanpa terganggu karena harus berhadapan langsung dengan tenaga marketingnya.

Demikian juga bahwa untuk memasarkan suatu produk tenaga marketing perlu menyiapkan alat pemasaran (brosur, pamflet) dan biaya yang cukup (kendaraan, transportasi, fax, kunjungan), itupun sekarang terpatahkan karena bisa digantikan dengan sarana yang lebih efisien dan efektif yaitu melalui komunikasi handphone. Efisien karena segala informasi yang bisa disampaikan lewat hubungan tatap muka juga bisa disampaikan lewat komunikasi handphone, tetapi dengan biaya dan waktu yang lebih sedikit.

Dari uraian di atas tersirat bahwa semakin murahnya tarif pulsa telepon seluler mengurangi kesenjangan dan batasan bagi masyarakat bawah untuk masuk ke lingkaran bisnis yang ada di masyarakat. Peluang ini tentunya memberi alternatif potensi bagi mereka untuk meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Penjelasan Fenomena Tenaga Rumah Tangga yang Konsumtif Pulsa

Tenaga kerja rumah tangga merupakan pekerja sektor informal yang cukup banyak jumlahnya. Bila diamati di beberapa kota besar maka pola migasi penduduk desa ke kota salah satunya yang mayoritas adalah untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini. Mereka datang ke kota secara musiman dan sendiri, dengan meninggalkan keluarga kecil dan keluarga besarnya di desa. Mungkin pula anggota keluarga kecil atau besarnya juga tersebar di kota-kota lain untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan mereka. Jadi selama satu – dua tahun ke depan mereka akan hidup terpisah, dan kesempatan bertemu hanya singkat ada pada saat tertentu saja seperti saat mereka pulang kampung di hari raya lebaran.

Adanya telepon seluler dengan tarif murah mengurangi kesenjangan komunikasi antara pekerja rumah tangga dengan keluarga mereka di kampung. Mereka mendapat sarana tambahan untuk berkomunikasi secara lebih sering dan intensif. Kondisi ini secara positif membuat mereka walaupun terpisahkan oleh jarak tetap bisa berkomunikasi, berinformasi dan saling memperhatikan satu dan lainnya. Secara psikologis, keadaan ini memberi ketenangan baik bagi pekerja rumah tangga yang meninggalkan keluarga (pasangan dan anak di kampung) maupun bagi keluarga di kampung karena mereka mengetahui bahwa orang yang mereka cintai dalam keadaan sehat waalfiat adanya. Dengan makin seringnya komunikasi maka mereka dapat mempertahankan hubungan emosional antar mereka.

Jadi fenomena ini tidak bisa semata hanya dilihat sebagai memberi dampak konsumtif tapi juga harus dilihat sebagai dampak sosial yang secara positif lebih mempererat hubungan antara keluarga pekerja rumah tangga yang terpisahkan oleh ruang dan waktu. Dampak konsumtif terimbangi oleh dampak sosial yang berupa keutuhan keluarga yang secara lokasi berjauhan.

Demikianlah dalam kasus ini pun tersirat bahwa semakin murahnya tarif pulsa telepon seluler mengurangi kesenjangan komunikasi bagi keluarga ekonomi bawah yang tinggal berjauhan. Komunikasi yang lancar dengan keluarga membuat pekerja rumah tangga dapat lebih berkonsentrasi pada pekerjaannya, dan kondisi ini tentunya membuat mereka jadi lebih berprestasi dalam bekerja. Dengan tetap bisa mempertahankan pekerjaannya itu maka mereka tetap dapat menjadi sumber penghasilan yang menghidupi keluarga mereka di kampung dan meraih cita-cita mereka di masa depan.

Jadi ternyata murahnya tarif pulsa telekomunikasi seluler yang diberlakukan oleh provider telekomunikasi seluler seperti XL memiliki dampak sosial yang cukup berarti bagi masyarakat kelas bawah. Tarif yang murah memberi kesempatan yang sama bagi masyarakat kelas bawah untuk turut menikmati kesempatan berbisnis dan bekerja yang ada dalam masyarakat. Kondisi ini berarti memberi kesempatan yang lebih dari sebelumnya bagi masyarakat kelas bawah untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

Mewujudkan Subsidi Tepat, PLN Sehat, dan Pelanggan Puas

Wacana PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk menaikkan tarif listrik selalu saja mendapat reaksi negatif dari para pelanggan listrik. Pelanggan industri menolak usul kenaikan tarif listrik yang diajukan PLN dengan alasan bahwa PLN masih bisa meningkatkan efisiensi pengelolaan listrik sebesar 25% untuk menutup tagihan pelanggan yang akan dinaikkan ini. (1)(2) Wakil rakyat menolak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dengan argumen bahwa tarif yang dipatok PLN pada saat itu sudah merupakan tarif listrik kedua termahal di Asia Tenggara dan rencana kenaikan 83 hingga 90% untuk golongan perumahan dan 100% untuk industri disinyalir dapat membuat rakyat makin sengsara, dunia industri runtuh, pengangguran bertambah, dan usaha masyarakat akan lesu.(3) Wakil rakyat akan menyetujui kenaikan tarif listrik asalkan tidak membebani rakyat. (4)

Permasalahan

Permasalahan utama yang dihadapi oleh PLN sehingga sering mengajukan wacana untuk menaikkan tarif listrik adalah kurangnya dana yang tersedia untuk melakukan peremajaan fasilitas yang ada dan untuk melakukan ekspansi baik untuk tujuan penambahan kapasitas produksi listrik maupun tujuan penambahan jaringan distribusi listrik. Sebagai industri utilitas, peremajaan fasilitas wajib dilakukan PLN karena mesin ataupun sarana pembangkit tenaga listrik pasti memiliki umur produktif, dan bila sudah melewati umur produktif itu maka tingkat efisiensi menjadi jauh berkurang. Dengan tetap mengoperasikan pembangkit yang sudah usang, walaupun mungkin biaya yang dikeluarkan tetap namun secara ekonomi sebenarnya biaya lebih besar karena output yang dihasilkan mesin pembangkit berkurang jauh dari kapasitas normalnya. Sementara ekspansi merupakan salah satu amanat yang harus dijalankan oleh PLN selaku Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan seperti yang tercantum dalam UU No. 15 Tahun 1985 yaitu PLN wajib menyediakan tenaga listrik dan memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat. Hutang PLN dalam hal penyediaan listrik kepada masyarakat belum terbayar karena masih terdapat 5.140 desa yang belum tersentuh oleh listrik, dan tidak semua dari 92.65 persen desa/kelurahan se-Indonesia yang sudah menikmati fasilitas listrik merupakan listrik yang berasal dari PLN.

Tabel 1. Jumlah Kelurahan/Desa dengan Fasilitas Listrik Tahun 2005 (5)

Pulau Kelurahan/Desa dengan listrik Kelurahan/Desa tanpa listrik
% %
Jawa 24.965 99.72 71 0.28
Sumatera 20.044 94.26 1.220 5.74
Bali Nusra 3.837 90.09 422 9.91
Kalimantan 5.749 92.97 435 7.03
Sulawesi 7.801 94.91 418 5.09
Maluku Papua 2.419 48.45 2.574 51.55
Indonesia 64.815 92.65 5.140 7.35

Mengapa bisa terjadi kekurangan dana? Bukankah pelanggan PLN membayar setiap unit listrik yang dipakainya? Kekurangan dana untuk peremajaan dan ekspansi terjadi karena pendapatan yang didapat PLN dari konsumen tidak lebih besar dari biaya pokok penyediaan (BPP) listrik yang harus dikeluarkan oleh PLN. Mengacu pada UU No. 15 Tahun 1985 pasal 16 dinyatakan bahwa pemerintah mengatur harga jual tenaga listrik. Keputusan ini ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden seperti Kepres No. 104 Tahun 2003 yang mengatur harga jual tenaga listrik tahun 2004. Dengan mempertimbangkan untuk meringankan beban kehidupan rakyat dan sekaligus di pihak lain tetap memperhatikan kelangsungan pengusahaan penyediaan tenaga listrik dan peningkatan mutu pelayanan oleh PLN maka pemerintah menetapkan tarif dasar listrik yang relatif rendah dan sebagai kompensasinya pemerintah menganggarkan subsidi listrik yang dibayarkan kepada PLN.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 111 Tahun 2007, subsidi listrik diberikan terhadap selisih kurang antara harga jual tenaga listrik rata-rata (Rp/kWh) dari masing-masing Golongan Tarif dikurangi Biaya Pokok Penyediaan (BPP) (Rp/kWh) pada tegangan di masing-masing Golongan Tarif ditambah marjin (% tertentu dari BPP) dikalikan volume penjualan (kWh) untuk setiap Golongan Tarif. BPP listrik merupakan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk membangkitkan, mentransmisikan, dan mendistribusikan listrik yang meliputi biaya bahan bakar, biaya membeli tenaga listrik, biaya menyewa pembangkit tenaga listrik, biaya pemeliharaan, biaya kepegawaian, biaya administrasi, penyusutan aset operasional, dan beban bunga. Dengan demikian pendapatan yang diterima oleh PLN adalah benar-benar hanya untuk menutup biaya operasional pengadaan dan pendistribusian listrik dari pembangkit listrik yang sudah ada.

Tabel 2 menunjukkan bahwa secara rata-rata di seluruh Indonesia nilai BPP selalu lebih besar daripada harga jual listrik, dan menunjukkan bahwa seluruh daerah mendapat subsidi listrik. Nilai BPP ini menjadi tinggi di beberapa wilayah seperti Maluku. Di Maluku pembangkit listrik didominasi oleh pembangkit listrik tenaga diesel sehingga kemungkinan komponen biaya menjadi sangat besar untuk membeli bahan bakar solar yang pada tahun 2008 harga solar bersubsidi berkisar antara Rp. 5500 sampai Rp. 4500 pada bulan Desember 2008. Sementara di Jawa pembangkit listrik di dominasi oleh pembangkit listrik tenaga air dan pembangkit listrik tenaga uap yang biaya operasionalnya relatif rendah sehingga BPP-nya pun menjadi relatif rendah. Dalam konteks ini PLN perlu mencatat kemungkinan penjadualan menggantikan pembangkit listrik berbiaya tinggi dengan pembangkit listrik yang berbiaya rendah yang juga memanfaatkan energi terbarukan. Bila biaya pembangkitan sudah rendah tentunya total BPP akan menjadi rendah dan akhirnya tarif pun bisa menjadi lebih rendah.

Bila ditelusuri lebih dalam data pada tabel 2, wilayah dengan konsumsi listrik besar secara otomatis juga mendapat porsi subsidi yang besar, dan 5 besar wilayah tersebut merupakan propinsi yang maju dan kebanyakan penduduknya relatif mapan secara ekonomi. Gambaran sederhana ini menunjukkan bahwa subsidi listrik yang membuat tarif listrik menjadi cukup murah malah mendorong penduduk mampu untuk lebih konsumtif dalam menikmati listrik.

Tabel 2. BPP, Harga Jual dan Subsidi per Wilayah Tahun 2008 (6)

Wilayah BPP Harga Jual Penjualan (GWh) % Penjualan % Total Subsidi
Bali 1,183.54 765.63 2,563 2.01 1.35
Jawa Timur 1,115.93 652.48 20,292 15.92 11.84
Jawa Tengah 1,162.02 614.59 14,253 11.19 9.59
Jawa Barat 1,055.93 612.58 33,873 26.58 18.80
DKI Jaya & Tangerang 1,090.26 719.59 29,448 23.11 13.79
NAD 2,791.67 603.03 1,159 0.91 3.23
Sumatera Utara 2,223.77 630.29 5,789 4.54 11.74
Sumatera Barat 998.54 594.58 1,933 1.52 0.99
Riau 1,666.68 668.09 2,041 1.60 2.59
Sumsel, Jambi, Bengkulu 990.42 667.65 3,319 2.60 1.41
Bangka Belitung 3,213.29 651.18 368 0.29 1.20
Lampung 956.45 663.13 1,906 1.50 0.74
Kalimantan Barat 3,272.41 627.89 1,078 0.85 3.63
Kalimantan Selatan & Tengah 1,866.62 648.93 1,625 1.28 2.52
Kalimantan Timur 2,597.37 685.59 1,557 1.22 3.79
Sulut, Tengah & Gorontalo 2,093.82 646.45 1,282 1.01 2.36
Sulawesi Selatan & Tenggara 1,462.47 631.41 2,966 2.33 3.15
Maluku 3,955.11 668.57 407 0.32 1.70
Papua 3,565.46 709.10 602 0.47 2.19
Nusa Tenggara Barat 3,211.23 642.06 627 0.49 2.05
Nusa Tenggara Timur 3,796.46 687.91 339 0.27 1.34

Mengacu pada Tarif Dasar Listrik pada tabel 3 dan digabung dengan BPP pada tabel 2 maka terlihat bahwa sekarang ini subsidi harus diberikan kepada semua golongan tarif yang ada termasuk juga disini golongan bisnis dan industri. Argumen yang sering dimunculkan tentang subsidi untuk bisnis dan industri adalah bahwa dengan tarif listrik yang lebih tinggi maka otomatis akan mempengaruhi biaya produksi dari produk bisnis dan industri sehingga harga jual akan menjadi lebih tinggi, dan otomatis ini akan mempengaruhi daya saing produk di pasaran. Argumen ini menjadi tidak masuk akal bila dikembalikan kepada darimana asal rupiah yang digunakan untuk subsidi listrik yang notabene berasal dari dalam negeri terutama dari sektor pajak. Masih wajar bila produk tersebut dipasarkan di dalam negeri dengan harga rendah untuk memenuhi kebutuhan kebanyakan rakyat Indonesia karena manfaat dari subsidi dikembalikan kepada yang menyokong subsidi dan yang sesuai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin. Namun menjadi kurang wajar bila produk tersebut merupakan produk tersebut untuk keperluan ekspor karena otomatis yang menikmati harga rendah (dengan kata lain menikmati subsidi listrik) adalah penduduk negara lain.

Tabel 3. Tarif Dasar Listrik 2003 untuk Beberapa Golongan (Keppres No. 89 / 2002)

Golongan Gol. Tarif Biaya beban Blok I Blok II Blok III
Perumahan R1-450 12,000 172 380 530
R1-900 23,000 310 490 530
R1-1300 30,500 395 490 530
R1-2200 30,500 400 490 530
R2 31,500 575
R3 34,260 621
Bisnis B1-450 24,500 257 445
B1-900 28,300 440 490
B1-1300 29,500 490 493
B1-2200 30,500 500 540
B2 31,000 535 550
B3 29,500 475
Industri I1-450 27,000 161 435
I1-900 33,500 350 465
I1-1300 33,800 475 495
I1-2200 33,800 480 495
I1-14000 34,000 480 495
I2 35,000 466
I3 31,300 468
I4 28,700 460
Kantor Pemerintah P1-450 20,500 595
& PJU P1-900 25,000 605
P1-1300 25,000 605
P1-2200 25,000 605
P2 25,000 382
P3 24,000 665

Dari uraian di atas maka dapat ditarik 2 kesimpulan masalah yaitu pertama: tidak tepat sasarannya subsidi yang diberikan pemerintah, dan kedua: bagaimana PLN mendapatkan sumber dana untuk investasi kelangsungan bisnisnya (peremajaan dan ekspansi).

Usulan Pemecahan Masalah

Subsidi digunakan pemerintah untuk memeratakan pendapatan nasional dari penduduk mampu ke penduduk miskin. Miskin dalam konteks ini adalah miskin secara finansial maupun miskin secara kesempatan. Dalam hal ini bisa diambil contoh bensin premium dan pertamax. Secara umum pertamax banyak digunakan oleh mobil yang ber-cc tinggi dan termasuk dalam golongan mewah yang tentunya dimiliki oleh penduduk mampu, sementara premium dominan digunakan oleh kebanyakan penduduk. Oleh karena itu secara mudah subsidi diberikan kepada produk premium, sementara pertamax tidak disubsidi, dengan demikian diharapkan penduduk kebanyakan memiliki kesempatan yang sama dengan penduduk mampu untuk menikmati penggunaan bahan bakar bensin.

Lalu bagaimana dengan listrik? Listrik merupakan kebutuhan primer bagi penduduk Indonesia baik penduduk miskin, menengah maupun kaya. Penggolongan penduduk miskin dan kaya dalam konteks listrik dapat dilakukan berdasarkan jumlah konsumsi listrik. Sebagai contoh untuk golongan perumahan, penduduk golongan bawah secara umum dikategorikan sebagai pemilik rumah dengan tipe 45 ke bawah, sementara penduduk menengah sebagai pemilik rumah tipe 45 ke atas sampai tipe 120, dan penduduk golongan kaya memiliki rumah tipe 120 ke atas. Tipe rumah secara umum berkorelasi dengan konsumsi listrik. Maka berdasarkan tabel 3 dapat ditentukan mana golongan tarif yang layak mendapatkan subsidi dan yang tidak, dimana sekarang ini terlihat bahwa semua golongan tarif (berarti semua penduduk tanpa kecuali) menikmati fasilitas subsidi.

Dalam konteks subsidi listrik ini diusulkan untuk diterapkan 2 macam subsidi yaitu subsidi langsung dan subsidi silang. Konsep subsidi silang (cross subsidy) yang di satu sisi menjual dengan harga di bawah harga jual normal untuk produk yang dikonsumsi oleh kebanyakan orang dalam jumlah yang sama, sementara di sisi lain menyediakan produk mewah yang dikonsumsi oleh sebagian konsumen dijual dengan harga di atas harga jual normal. Pembagian golongan dan blok dalam TDL kelihatannya sudah mengacu pada konsep subsidi silang ini namun belum pada nilai tarifnya karena semua masih mendapatkan subsidi. Perlu ditentukan bahwa pada golongan tertentu atau blok tertentu berlaku nilai tarif di atas BPP. Sementara subsidi langsung baik diberikan kepada golongan tarif yang benar-benar hanya dikonsumsi oleh penduduk miskin. Demikian juga untuk bisnis dan industri yang melingkupi hayat hidup orang banyak dan bersifat sosial perlu mendapatkan subsidi langsung.
Model pendapatan yang menyertakan kedua macam subsidi adalah seperti di bawah ini, dimana terdapat faktor subsidi listrik dari pemerintah sebagai implementasi subsidi langsung, dan faktor jumlah konsumsi mewah sebagai implementasi dari subsidi silang:

Total Pendapatan = ( jumlah konsumsi golongan bersubsidi * tarif bersubsidi) + subsidi listrik dari pemerintah + (jumlah konsumsi golongan tanpa subsidi * tarif normal tanpa subsidi) + (jumlah konsumsi mewah * tarif di atas tarif normal)

Dengan model pendapatan seperti ini maka diharapkan jumlah subsidi menjadi berkurang yaitu selektif hanya untuk penduduk yang benar-benar membutuhkan, dan demikian juga dengan konsumsi listrik menjadi lebih terkontrol karena kelebihan konsumsi listrik akan dihargai jauh lebih tinggi dari konsumsi normal. Kelebihan sumber daya listrik yang sebelumnya juga terkuras bisa dimanfaatkan untuk konsumsi lebih banyak pelanggan terutama di desa/kelurahan yang belum menikmati listrik.

Penentuan konsumsi yang layak untuk penduduk miskin, konsumsi normal, dan konsumsi mewah dapat menggunakan mekanisme yang sama dengan apa yang pernah dilakukan oleh PLN dengan model tarif progresifnya. (8) Harga subsidi pun perlu diterapkan tidak terlalu jauh dari BPP tidak seperti sekarang ini yang subsidinya sampai 85% dari BPP, mungkin bisa ditentukan nilai subsidi maksimal 50% dari BPP. Demikian pula tarif mewah pun perlu ditentukan tidak terlalu jauh lebihnya dari tarif normal, mungkin bisa ditetapkan maksimal 20% dari tarif normal. Dengan demikian diharapkan terjadi keseimbangan antara subsidi terhadap penduduk miskin dan pendapatan yang diperoleh dari penduduk mampu.

Untuk mengatasi masalah sumber dana untuk peremajaan dan ekspansi maka harga jual atau tarif perlu memasukkan faktor investasi. Model penentuan harga jual atau tarif normal yang memasukkan unsur investasi adalah:

Harga jual = BPP + Investasi

Investasi ini bisa disamakan dengan konsep biaya marjinal dalam domain ekonomi yaitu perubahan pada biaya total yang timbul ketika jumlah produk yang diproduksi bertambah satu unit, jadi dalam BPP untuk tiap kWh listrik perlu ditambahkan biaya tambahan yang akan ditabung yang nantinya akan digunakan untuk meremajakan komponen pembangkit listrik yang ada maupun untuk membangun pembangkit listrik yang baru karena adanya pertambahan kebutuhan listrik dalam suatu wilayah. Dengan program peremajaan yang rutin diharapkan faktor efisiensi menjadi terjaga bahkan lebih baik, sehingga BPP tetap terjaga bahkan bisa lebih rendah sehingga tarif juga mengikuti menjadi lebih kompetitif. Dengan program peremajaan yang rutin juga tentunya ketersediaan listrik bisa menjadi lebih baik, sehingga keluhan pelanggan tentang seringnya pemadaman listrik menjadi berkurang.

Dengan model harga jual di atas berarti akan ada kenaikan harga jual listrik dari yang sekarang walaupun model harga jual ini juga dikombinasikan dengan subsidi seperti yang diusulkan di atas yaitu subsidi langsung dan subsidi silang. Dengan tarif baru yang diusulkan di atas maka kenaikan akan terjadi pada semua golongan tarif dengan persentase kenaikan yang bervariasi, kenaikan disebabkan 2 komponen yaitu kenaikan akibat tambahan komponen investasi dan kenaikan akibat penurunan subsidi. Golongan yang mendapat subsidi akan merasakan kenaikan tarif akibat turunnya nilai subsidi terutama pada golongan dan blok kecil yang sekarang subsidinya antara 50 – 85% menjadi maksimal 50%. Golongan yang tidak akan disubsidi akan merasakan kenaikan tarif dari yang sekarang menikmati subsidi antara 39 – 57% menjadi 0% alias membayar penuh tarif normal. Kombinasi dari kedua model di atas adalah:

Total Pendapatan >= Total BPP + Investasi
( jumlah konsumsi golongan bersubsidi * tarif bersubsidi) + subsidi listrik dari pemerintah + (jumlah konsumsi golongan tanpa subsidi * tarif normal tanpa subsidi) + (jumlah konsumsi mewah * tarif di atas tarif normal) >= Total BPP + Investasi

Total pendapatan minus bagian konsumsi mewah diprediksikan sama dengan total BPP dan investasi. Tambahan konsumsi mewah menjadikan prediksi pendapatan lebih besar dari pengeluaran sehingga bisa dianggap sebagai keuntungan. Model pendapatan bisa ditulis sebagai berikut:

Total Pendapatan = Total BPP + Investasi + Keuntungan

Dengan adanya bagian keuntungan ini tentunya PLN akan memiliki keleluasaan untuk melaksanakan program perbaikan pelayanan kepada pelanggan, terutama isu-isu yang sering dikeluhkan banyak pelanggan. Keluhan utama yang sering diajukan pelanggan karena memberi dampak yang sangat besar terhadap kegiatan mereka adalah tentang pemadaman listrik yang sering frekuensinya, pemadaman yang mendadak tanpa pemberitahuan, dan pemadaman yang lama jangka waktunya. Tanggapan dari PLN umumnya beralasan karena sedang dilakukan perawatan rutin terhadap pembangkit sehingga kapasitas listrik menjadi berkurang dan perlu dilakukan pemadaman. Dengan adanya tambahan dana di atas tentunya dapat diusahakan suatu sistem perawatan rutin yang tidak mengganggu ketersediaan listrik bagi pelanggan misalnya dengan menyediakan pembangkit cadangan yang tentunya juga amat sangat diperlukan dalam penanganan “disaster recovery” bila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan terhadap pembangkit yang ada. Dengan bisa diatasinya semua keluhan pelanggan maka tingkat kepuasan pelanggan meningkat dan demikian juga kepercayaan pelanggan kepada PLN akan meningkat. Pelanggan yang puas akan lebih sangat koperatif dalam merespons kebijakan PLN di masa depan. Seperti yang dinyatakan oleh Mark Bonsall, GM Customer Service Salt River Project, perusahaan listrik di Arizona (9): “When you run a utility, something will always go wrong: the weather, fires, an auto accident taking our poles. When problems do arise we know we’ve built up a reserve pool of goodwill that we can call on to keep our customers calm while we fix the problem. If, however, our customers were already dissatisfied with our service, all it would take would be the smallest problem to send them over the edge.

Ringkasnya, segala kenaikan dapat dipahami oleh pelanggan sebagai suatu hal yang perlu asalkan kenaikan tersebut memberi dampak positif langsung kepada pelanggan. Pelanggan akan ikut dengan kenaikan tarif yang dilakukan asalkan pelayanan yang diberikan oleh PLN menjadi lebih baik dan lebih responsif.

Rujukan
(1) Pengusaha Minta Ditunda, PLN Usulkan Kenaikan TDL 30-80%. http://anekainfo.net63.net/?p=149 . 18 Juli 2008.
(2) Naikkan Tarif, API Gugat PLN. http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/08/tgl/31/time/191251/idnews/433087/idkanal/10 . 31 Agustus 2005
(3) Poksi VII FPKS Tolak Kenaikan TDL dan Minta PLN Diaudit. http://www.eramuslim.com/berita/nasional/poksi-vii-fpks-tolak-kenaikan-tdl-dan-minta-pln-diaudit.htm . 24 Januari 2006.
(4) Asal Tak Bebani Rakyat, DPR Setujui Kenaikan Tarif Listrik. http://www.detikfinance.com/read/2009/09/10/125001/1200678/4/asal-tak-bebani-rakyat-dpr-setujui-kenaikan-tarif-listrik . 10 September 2009.
(5) TIKoMeter Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi, BPPT. http://tikometer.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=332&Itemid=52 . 27 Februari 2008.
(6) Subsidi Listrik / PSO Tahun 2008. PLN. http://www.pln.co.id/Portals/0/dokumen/Subsidi%20Listrik%202008%20(PSO).pdf
(7) Marginal Cost. http://en.wikipedia.org/wiki/Marginal_cost .
(8) Tarif Listrik Progresif Pelanggan PLN Mulai Berlaku . http://infokito.wordpress.com/2008/03/02/tarif-listrik-progresif-pelanggan-pln-mulai-berlaku/ . 2 Maret 2008.
(9) Satisfaction: How Every Great Company Listens to the Voice of the Customer. Chris Denove, James Power. Portfolio Trade, 2007. Hal. 36-37. http://books.google.co.id/books?id=PzSnr1xjOpUC&pg=PA19&lpg=PA19&dq=%22impact+of+customer+satisfaction%22&source=bl&ots=4Es2GjgZ9T&sig=3poseZAyA5XKqtAjhB-F2nNlAc8&hl=id&ei=DFu8StbgBNCCkAW1gPGdDQ&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4#v=onepage&q=%22impact%20of%20customer%20satisfaction%22&f=false

Asuransi Bukan Angsuran sih …

Berbicara mengenai asuransi ada hal menggelikan namun ternyata penting yang diperdebatkan oleh teman saya. Teman saya ini orangnya senang menganalisa dari yang kecil hingga yang besar, dari yang enteng sampai yang berat, dari sudut kata sampai sudut fisika, dari sumber yang dipercaya sampai yang hanya gosip. Akibat banyak yang dianalisa maka geraknya menjadi sangat lambat karena prinsipnya: “semua harus diperhitungkan sampai matang baru kita aman melangkah”. Itulah teman saya, dan ini yang dianalisanya mengenai asuransi pada saat kami makan siang di kantor.

Teman saya ini bilang bahwa asuransi tidak berbeda dengan kredit. Diumpamakan kredit pemilikan rumah (KPR). Bila dia mengambil KPR maka dia akan mendapatkan uang besar saat akad kredit, lalu sebulan setelahnya dia mulai mengangsur cicilan pembayaran kredit tersebut sampai dengan jangka waktu yang disepakati. Nah, bila dia mengambil asuransi jiwa maka dia sudah harus membayar premi saat polis diterbitkan sampai jangka waktu yang disepakati, sementara uang dalam jumlah besar akan diterima oleh dia atau ahli warisnya kemudian. Keduanya adalah proses menabung yang dilakukan secara tertib dan disiplin. Perbedaannya adalah kapan dia mendapatkan uang dalam jumlah besar sebagai hasil tabungannya. Yang satu di muka, yang satunya lagi di belakang.

Tapi, nah ini masih ada tapinya lagi … dia menambahkan. Di asuransi uang dalam nilai besar tadi bisa diterima juga walaupun angsuran yang dimaksud belum terlunasi. Jumlah uang besar itu sama dengan jumlah uang besar yang diterima di belakang tadi. Hal ini bisa terjadi bila si pembayar atau dalam istilah asuransi disebut tertanggung mengalami suatu hal yang dalam perjanjian di awal resikonya dialihkan kepada pihak asuransi sebagai penanggung. Jadi ini yang tidak ada dalam kasus KPR. Di dalam asuransi ada unsur pertanggungan resiko, dimana pihak tertanggung memindahkan resiko yang mungkin terjadi pada diri tertanggung kepada pihak lain yang dalam hal ini adalah perusahaan asuransi. Premi yang pembayarannya dalam bentuk angsuran seperti angsuran kredit hanya merupakan pengganti atau kompensasi dari pihak tertanggung kepada penanggung akibat pengalihan resiko tersebut.

Jadi menurut teman saya ini, asuransi bagus bagi orang yang memiliki resiko dalam konteks negatif yang besar. Asuransi juga bagus bagi orang yang tidak dapat atau belum mampu mempersiapkan diri menghadapi masa depannya. Dan satu lagi menurut teman saya bahwa asuransi bagus juga diikuti oleh orang yang terlalu mencemaskan masa depannya.

Lalu saya tanyakan bagaimana seseorang bisa tahu dia siap atau tidak dalam menghadapi masa depannya. Kan ada orang yang hanya bermodal PD – percaya diri sudah bisa bilang bahwa dia tidak kuatir akan masa depan dan selalu siap menghadapi masa depan yang seperti apa pun. Dengan guyonan dia berkata, orang yang sudah siap akan masa depan itu kalau tingkat hidupnya seperti kita ini tapi punya tabungan sebanyak 1,57 trilyun (trilyun itu nolnya ada dua belas: 1,570,000,000,000) seperti yang dimiliki cawapres Prabowo Subianto, sehingga untuk 3 keturunan pun tidak akan habis bila hidup normal seperti sekarang ini.

Waktu saya tanyakan termasuk golongan manakah dia? Dengan tersenyum dia berkata kalau dia sebagai dirinya sendiri dia termasuk golongan yang PeDe, tapi dalam konteks keluarga dia termasuk golongan yang belum (yakin) mampu mempersiapkan masa depan terutama yang berhubungan dengan anak. Oleh sebab itu katanya dia berencana mengikuti program asuransi pendidikan dari AJB Bumiputera untuk anaknya. Dengan asuransi pendidikan ini dia ingin memindahkan resiko bila satu saat dia tidak mampu dalam mempersiapkan uang masuk sekolah anaknya terutama di tingkat SMP, SMA dan Universitas yang dari tahun ke tahun terus meningkat, apalagi dia mendapat informasi dari milis bila biaya masuk fakultas kedokteran universitas negeri ternama tahun ini saja minimal sudah 10 juta rupiah. “Kasihan kan anakku kalau nantinya tidak bisa masuk sekolah yang dia dambakan hanya karena orang tuanya tidak mampu membayar uang masuknya”, katanya menambahi. Melalui asuransi pendidikan ini si anak sudah mendapat jatah tertentu dari asuransi pada saat si anak waktunya masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Lalu saya kejar lagi dengan pertanyaan kira-kira kalau begitu ada tidak keuntungan dari asuransi. Sekali lagi dengan senyum lebar bibir berkumisnya dia berkata “Ya, tentu ada.”. Pertama, menurut dia lagi mengulang yang sudah diutarakan sebelumnya bahwa asuransi memberi keuntungan bagi pesertanya bila pada saat masih dalam masa pembayaran premi tertanggung mengalami resiko yang diasuransikan. Misalnya untuk kasus asuransi pendidikan di atas, kalau tertanggung mengalami kecelakaan dan cacat maka penanggung atau perusahaan asuransi akan meneruskan pembayaran premi yang seharusnya dibayar oleh tertanggung sampai masa pembayaran selesai, sementara si tertanggung juga sudah mendapatkan pertanggungan karena kondisi cacatnya tersebut. Jadi dalam hal ini keuntungan bagi tertanggung adalah walaupun dia cacat dan tidak dapat bekerja normal kembali, biaya pendidikan anak tidak terganggu karena sudah ditanggung oleh asuransi.
Kedua, melalui asuransi tertanggung bisa mendapatkan pertanggungan lebih dari 5 kali dari jumlah premi yang dibayarkannya. Tapi, tambahnya, ini bila faktor waktu tidak diperhitungkan jadi nilai premi dan pertanggungan dihitung pada saat ini.

Ketiga, melalui asuransi secara langsung tertanggung dipaksa untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk keperluan masa depan. Ini yang menurut saya paling terasa karena bila dibandingkan dengan menabung, dari tabungan saya masih sering ‘tergoda’ untuk menggunakan hasil tabungan untuk mendanai kegiatan yang lain selain yang dimaksudkan dari kegiatan menabung tersebut. Selain itu menabung tidak memberi keuntungan pertama di atas seperti yang teman saya katakan.

Dihubungkan dengan tabungan maka saya menyela omongan teman saya ini, “jadi kelihatannya premi yang tadi kamu padankan dengan angsuran, menurut saya jadi lebih dekat ke tabungan deh”. Teman saya mengangguk-angguk mengiyakan. “Ya tepatnya begitu kali ya. Premi itu lebih dekat ke tabungan yang kita sisihkan untuk kita gunakan kemudian”. Betul, asuransi adalah tabungan yang selain memberi bunga juga memberi kepastian untuk bisa digunakan sesuai dengan yang dimaksudkan. Dan juga memberi pertanggungan bila di tengah perjalanan mengalami resiko yang bisa mengganggu kelangsungan menabung tersebut.

Tidak terasa makan siang termasuk kerupuk sebagai cemilan sudah habis disantap, dan waktu istirahat tinggal 5 menit lagi. Dengan pengetahuan baru tentang asuransi saya dan teman saya meninggalkan kantin kembali ke ruang kerja.

Pendidikan Yang Membangkitkan

Tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Pada tanggal tersebut tahun 1908, tiga murid Sekolah Kedokteran Jawa (Stovia) yaitu Sutomo, Gunarwan dan Suraja atas saran seorang dokter Jawa Mas Wahidin Sudiro Husodo yang memiliki program pengumpulan dana untuk bantuan beasiswa sekolah bagi putra-putri Jawa mendirikan satu organisasi untuk mempromosikan budaya Jawa yang diberi nama Budi Utomo. Tujuan organisasi yang ingin memajukan nusa dan bangsa melalui pendidikan, pertanian, perdagangan, teknologi, dan kebudayaan ini kemudian membawa Budi Utomo sebagai pelopor bagi pergerakan nasional yang terorganisasi di Indonesia, yang kemudian memompa semangat pemuda pelajar dan mahasiswa lainnya untuk berorganisasi dan memperjuangkan nasionalisme Indonesia. Demikianlah sampai hari ini tanggal berdirinya organisasi Budi Utomo diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.

Kebangkitan nasional di tahun 1908 dimotori oleh mahasiswa kedokteran jaman itu, demikian juga perkembangan selanjutnya sejarah membuktikan bahwa gerakan nasionalis Indonesia jaman sebelum kemerdekaan mendapatkan pemimpin dari kalangan lulusan sekolah di Jawa yang setingkat dengan universitas. Tahun 1912 tiga serangkai Ki Hajar Dewantoro yang pernah mengenyam pendidikan Sekolah Kedokteran Jawa, Douwess Dekker dan Tjipto Mangunkusumo (keduanya dokter lulusan Sekolah Kedokteran Jawa) mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Pada tahun 1922 Ki Hajar Dewantoro mendirikan Perguruan Taman Siswa yang menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada anak didiknya. Sutan Syahrir tamatan AMS Bandung menjadi salah satu pemrakarsa Jong Indonesie atau Pemuda Indonesia yang menjadi himpunan pemuda Nasionalis yang kemudian menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia yang mencetuskan Sumpah Pemuda 1928. Kemudian pada tahun 1929 organisasi Perserikatan Nasional Indonesia didirikan oleh Sukarno yang tamatan Sekolah Teknologi Bandung dan Tjipto Mangunkusumo. Itu hanya beberapa kilasan sejarah yang menunjukkan peran kaum intelektual dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dari uraian di atas ingin ditekankan bagaimana pendidikan bisa berperan besar dalam perkembangan dan kemajuan suatu bangsa dan negara, termasuk Indonesia. Belanda masuk ke Indonesia sejak tahun 1596 dan mulai secara bertahap memperlakukan Indonesia sebagai koloninya di Asia. Setelah lama mengeksploitasi kekayaan alamnya, baru sejak tahun 1900-an pemerintah Belanda mulai berbaik hati mendirikan sekolah untuk kalangan Indonesia. Tahun 1903 ada sekitar 1700 sekolah dengan 190 ribu murid, dan pada tahun 1913 bertambah menjadi 7000 sekolah diantaranya 3500 sekolah desa dengan total 227 ribu murid. Kesempatan yang diberikan ini masih terbatas pada pendidkan dasar sehingga siswa Indonesia yang mampu dan ingin menempuh pendidikan yang lebih tinggi mau tidak mau harus masuk ke sekolah berbahasa Belanda dan pergi ke Belanda untuk melanjutkan belajar di universitas. Pendirian universitas hanya bisa dilakukan bila sebagian besar penduduknya sudah melek huruf. Sebelum tahun 1914 hanya sedikit siswa Indonesia yang berhasil sampai ke universitas di Belanda, namun setelah 1918 jumlahnya meningkat. Pergaulan para siswa dengan siswa Belanda dan pengalaman mereka mendengar, melihat dan mempelajari kebangkitan nasional bangsa-bangsa di Eropa saat itu (pembebasan Polandia, Cekoslowakia, negara-negara Baltik, Irlandia, dan lain-lain) menggugah jiwa nasionalisme pelajar Indonesia ini.

Inilah yang disebut kelompok terdidik yang diperlukan oleh Indonesia saat itu yaitu kelompok orang dalam masyarakat yang mampu mempergunakan intelegensia dan cara berpikir analitiknya baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadinya untuk membawa dirinya dan orang lain ke kondisi yang lebih baik. Dan hasil kerja dan perjuangan para kelompok terdidik ini bisa kita lihat melalui sejarah kemerdekaan Indonesia yang sampai ke titik akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 saat diproklamasikan kemerdekaan negara Republik Indonesia oleh Sukarno – Hatta.

Pendidikan seperti apa yang bisa mencetak kelompok terdidik ini ? Sekolah sebagai intelectual factory saat ini lebih menekankan pada hasil akhir yaitu nilai. Di masa-masa menjelang ujian nasional bisa dilihat kesibukan menggapai hasil akhir dengan berbagai cara, terutama cara yang instan seperti bimbingan belajar dan try-out. Siswa dipaksa dalam waktu yang singkat untuk latihan soal-soal yang potensial keluar pada ujian nasional. Tidak terlalu diperhatikan apakah siswa mengerti proses problem solving di balik penyelesaian soal tersebut, yang lebih diutamakan adalah bahwa siswa tahu jawaban untuk pertanyaan tersebut, entah dengan hapalan ataupun rumus cepat. Ironisnya lagi persiapan model instan ini bukan hanya dipraktekkan oleh orang tua tetapi terutama oleh sekolah dan guru. Hasil gemilang pendidikan yang model begini adalah siswa yang bisa menjawab pertanyaan atau soal tapi tidak bisa menjabarkan darimana jawaban didapat secara keilmuan. Dan pada dunia pekerjaan sudah bisa terlihat sekarang ini adalah aparat pemerintah yang menjawab persoalan kemasyarakatan dengan solusi yang umum tanpa bisa berinovasi dan mempertimbangkan secara komprehensif dampak yang ditimbulkan oleh solusi tersebut. Akibatnya suatu keputusan bisa diganti dengan keputusan lain hanya dalam hitungan hari dan minggu dari keputusan dibuat, bahkan yang menyedihkan keputusan tersebut hanya sampai pada keputusan tertulis tanpa ada implementasinya karena digugat oleh pihak yang menjadi subyek dari keputusan tersebut. Model pendidikan yang seperti ini tidak bisa dipertahankan karena tidak mendukung terbentuknya kelompok terdidik yang diharapkan.

Bila kita kembali pada apa yang dipesankan oleh UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal I : “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, ada beberapa poin yang penting untuk diperhatikan agar pendidikan bisa menghasilkan kelompok terdidik seperti tokoh dan bapak bangsa di atas.

Pendidikan harus secara aktif mengembangkan potensi diri anak didik. Pendidikan merupakan proses dua arah. Guru berperan menyampaikan materi belajar kepada anak didik dan memfasilitasi anak didik dalam belajar secara terstruktur. Murid merupakan obyek sekaligus subyek dari proses pendidikan. Sebagai obyek murid menjadi target dalam penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang disampaikan dalam proses pendidikan. Namun bukan sebagai obyek yang diam, bukan seperti robot yang diisi dengan program sehingga bisa menjadi pintar. Anak didik juga merupakan individu yang sedang berkembang menuju kedewasaan, individu yang senang bereksplorasi, dan yang paling penting adalah individu yang unik satu sama lainnya. Masing-masing individu memiliki minat sendiri yang belum tentu sama dengan individu lainnya, memiliki tingkat penerimaan (intelegensi) yang berbeda antar individu, memiliki latar belakang sosial yang berbeda, dan banyak hal lainnya yang berbeda dari individu ke individu. Oleh karena itu pendidikan harus memberi ruang gerak bagi individu untuk belajar sesuai dengan minat, cara dan kecepatan dari masing-masing individu. Anak didik selain mendapatkan materi pelajaran dari guru juga dipandu untuk bebas mendapatkan maupun mengembangkan materi yang dipelajari lewat sumber-sumber lain seperti dari pengamatan terhadap lingkungan hidup anak didik (keluarga, tetangga, masyarakat), dari bacaan yang dibacanya (koran, majalah, artikel di internet, dan lain-lain), dari diskusi dengan sejawat, dan lainnya. Dengan kebebasan ini anak didik akan tertuntun mengembangkan potensi dirinya sehingga menjadi individu yang aktif, kritis, demokratis, bisa bekerjasama, dan percaya diri.

Pendidikan harus memberi bekal yang cukup kepada anak didik untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan dimana mereka tinggal. Jadi pendidikan bukan sekedar membuat anak didik memiliki pengetahuan tetapi juga harus melengkapi anak didik dengan ketrampilan dan kematangan diri yang bisa membantunya dalam menjalani kehidupan. Dalam hal ini pendidikan harus selalu menghubungkan diri dengan lingkungan yang dihadapi anak didik saat itu. Dengan selalu berelasi dengan lingkungan berarti anak didik tertuntun untuk peduli pada isu yang sedang terjadi di dalam masyarakat, bangsa dan negara. Kepedulian ini kemudian digabungkan dengan potensi diri, pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki anak didik akan membawa mereka untuk menganalisa, mengolah dan memikirkan solusi dan inovasi yang bisa dilakukan oleh dirinya maupun oleh masyarakatnya untuk memperoleh masa depan yang lebih baik untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat lingkungannya, dan tentunya bagi bangsa dan negaranya.

Demikianlah untuk mencetak manusia Indonesia yang berkualitas seperti tokoh dan bapak bangsa jaman sebelum kemerdekaan dulu perlu dilakukan perbaikan pada tata cara pendidikan dan pembelajaran pada anak didik di sekolah-sekolah di negeri ini. Bukan hanya mengejar kelulusan 100 persen saja tapi juga membentuk pribadi anak didik yang handal, tahan banting dan peduli dengan kepentingan bangsa dan negara. Dengan demikian bangsa Indonesia bisa mengalami bentuk Kebangkitan Nasional yang terus menerus hari ini dan di masa datang berkat inovasi dan pemikiran jernih dari anak bangsanya.

Pustaka
Bernard H.M. Vlekke. Nusantara: Sejarah Indonesia. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta. 2008.

(versi lengkap dari artikel yang pernah ditayangkan di rubrik OPINI Harian Batam Pos, 19 Mei 2009)