Tag Archive | batam

Melongok Beberapa Potensi Ekonomi sektor Kelautan Batam

Batam sudah dikenal sebagai kota industri dan kota wisata. Pelabelan sebagai kota industri ditandai dengan banyaknya perusahaan industri yang berlokasi di Batam baik perusahaan dalam negeri maupun perusahaan luar negeri, dan demikian pula dari sisi ketenagakerjaan sektor industri paling dominan dalam menyerap tenaga kerja yaitu mencapai 30,3 persen, kemudian disusul sektor perdagangan (20.4 persen), sektor jasa kemasyarakatan (14,9 persen) dan sektor pertanian (13,2 persen). Wisata di Batam juga sangat berkembang terutama karena kedekatan dengan Singapura dan Malaysia, Batam ikut terciprat kunjungan wisatawan yang mengunjungi kedua negara tersebut. Selain itu bagi penduduk Singapura dan Malaysia Batam menjadi alternatif berwisata yang murah terutama karena disebabkan nilai tukar rupiah yang relatif lemah terhadap kedua mata uang negara tersebut. Hal ini terlihat dari komposisi 4 besar wisatawan mancanegara yang mengunjungi Batam yaitu dari Singapura (61,47 persen), Malaysia (14.67 persen), Korea Selatan 2,72 persen) dan India (2,30 persen).

Bagaimana dengan sektor lain? Ternyata di luar kedua sektor di atas beberapa sektor, walaupun sekarang belum muncul ke permukaan, memiliki potensi ekonomi yang sangat baik untuk dikembangkan. Salah satu yang akan dilihat di sini adalah sektor kelautan.

Batam sebagai pulau berarti dikelilingi oleh lautan, dan memiliki hamparan pinggir pantai yang panjang. Potensi pantai ini sudah dimanfaatkan oleh sektor pariwisata melalui pendirian resort, hotel dan restoran yang mengeksploitasi keindahan pantai sebagai daya tariknya, bisa disebut di sini: Nongsa Point Marina Resort, Turi Beach Resort, Golden Prawn Restaurant, dan lain-lain. Yang masih kurang dikembangkan adalah peluang dari wisata alam laut yang biasanya dilakukan dengan petualangan lewat menyelam (diving dan snorkling). Belajar dari apa yang dilakukan di satu pulau sekitar Lombok, NTB yaitu pulau Gili Trawangan Kawasan tersebut dikelola oleh masyarakat setempat, mereka menyediakan berbagai prasarana wisata di pulau tersebut: rumah makan, penginapan, penyewaan alat-alat renang dan selam, penyewaan sepeda, dan penyewaan perahu. Penduduk mengajak pengunjung dengan perahu yang dasarnya diberi kaca berkeliling pulau agar bisa melihat keindahan dasar laut. Hal demikian dapat juga diterapkan di Batam.

Salah satu potensi laut lain yang dapat dikembangkan di Batam adalah rumput laut. Rumput laut baik dibudi-dayakan di pinggir pantai terutama pada perairan yang terlindung dari terjangan langsung ombak laut lepas. Rumput laut tumbuh di dasar laut yang masih bisa tertembus cahaya matahari. Kondisi ini amat sesuai dengan perairan pantai di Batam yang secara geografis cukup terlindung dan memiliki ombak yang kecil, serta memiliki hamparan dasar laut yang relatif dangkal. Di beberapa tempat di Batam sudah tampak dilakukan budidaya rumput laut ini seperti di Barelang, yang banyak dikenal orang di pulau Setokok. Orang Batam senang membeli rumput laut basah langsung dari tempatnya untuk kemudian diolah menjadi manisan rumput laut yang enak dimakan dalam menu es campur.

Lalu dimana nilai lebih dari rumput laut ini? Pemanfaatan dalam skala industri yang sudah kita kenal dari rumput laut adalah untuk agar-agar. Produk agar-agar sudah dikenal luas sebagai makanan dan juga banyak digunakan untuk tambahan dan campuran makanan lainnya. Keunggulan agar-agar adalah sifat jeli-nya yang membuat makanan menjadi lebih kenyal. Selain itu produk agar-agar ini juga digunakan oleh industri obat-obatan dan kosmetika untuk membuat produk seperti kapsul, lipstik, pelapis gel, dan lain-lain. Rumput laut juga dikonsumsi baik langsung maupun diolah terlebih dahulu. Konsumsi langsung rumput laut ini dipercayai oleh orang Korea dapat memberi umur panjang. Sehingga di negara Korea dan Jepang sudah berkembang industri makanan yang disebut Nori. Jenis Nori yang siap makan ini bisa ditemukan di beberapa supermarket di Batam seperti Top 100 dan Jodoh Centre yang warnanya hitam dan bentuknya seperti lembaran kertas, atau kalau yang setengah jadi berbentuk seperti mie kering dan berwarna hitam yang biasa digunakan sebagai tambahan dalam membuat sop dan mie. Nah sekarang bisa dibayangkan banyaknya pihak yang memerlukan rumput laut sebagai bahan dasar produknya.

Nah, bagaimana dengan ikannya? Mustinya kan pantai dan laut berhubungan dengan potensi ikan yang ada di dalamnya. Hm benar juga ya. Penulis selama di Batam belum pernah mendengar adanya Tempat Pelelangan Ikan (TPI), mungkin memang kurang gaul kali ya, karena yang lebih diingat adalah tempat dimana ikan olahan dijual (yang enak dan sedap tentunya) seperti sop ikan di Nagoya, ikan asam manis di Windsor, ikan bakar di Citra Batam, dan banyak rumah makan berlabel ikan lainnya. Ada produk ikan tentunya ada pasokan ikan segarnya. Kelihatannya Batam belum mengoptimalkan fungsi TPI ini yaitu sebagai tempat pertemuan antara pembeli dan penjual ikan. Di dalam TPI diharapkan semua potensi ikan yang didapat dari perairan laut Batam diperjual-belikan di TPI ini, sehingga melalui TPI pembeli bisa mendapatkan semua keperluan ikan dan produk laut lainnya dalam satu tempat (one stop service). Melalui terpusatnya jual beli ikan di TPI maka tingkat harga jual-beli bisa dikontrol sehingga memberi keseimbangan antara keuntungan bagi pembeli (dalam hal ini nelayan) dan penjual (pedagang dan pemakai langsung). Dengan adanya TPI tentunya diharapkan semangat para nelayan untuk berproduksi menjadi lebih baik, demikian juga karena penjual bisa dengan mudah mendapatkan bahan baku ikan maka usaha-usaha yang berkaitan dengannya bisa menjadi lebih berkembang. Dalam kondisi seperti ini diharapkan tingkat ekonomi para pelaku ekonomi ikan ini dapat meningkat dan memberi dampak positif bagi perkembangan ekonomi Batam dan nasional.

Satu lagi nilai lebih dari TPI yaitu bahwa keberadaan TPI juga bisa dimanfaatkan lebih lanjut sebagai salah satu tujuan wisata seperti di kawasan Ancol dan Marunda, Jakarta dimana disekitar TPI juga disediakan rumah makan untuk membantu pembeli mengolah ikan yang dibelinya untuk bisa disantap langsung di tempat sambil menikmati keindahan pantai dan aktivitas yang dilakukan di TPI tersebut.

Demikianlah sekilas tiga potensi ekonomi dari kelautan Batam yang bisa dimanfaatkan lebih lanjut. Dan tentunya masih banyak lagi potensi yang ada seperti kerang untuk makanan maupun kerajinan tangan. Ternyata memang kelautan Batam masih banyak bisa memberi manfaat, tinggal menunggu tangan-tangan inovatif dan kreatif.

Sumber statistik:
Berita Resmi Statistik Kepri. http://kepri.bps.go.id

Advertisements

e-Batam: Sebuah Pemikiran (reload dari arsip th 2002)

Letak geografis Batam yang bertetangga dengan Singapura dan Malaysia seharusnya dapat mendorong pemikiran untuk menjadikan kota Batam sebagai e-Batam. Singapura telah membuktikan bagaimana mereka memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Kunjungi saja http://www.gov.sg, di dalamnya bisa kita rasakan bagaimana warganegara Singapura di’manja’kan dan dipermudah oleh pemerintahnya untuk mengurusi segala kepentingannya. Warga Singapura yang ingin membuat pasport, cukup akses ke situs tersebut dan masuk ke halaman Safety and Security, yang menjabarkan prosedur dan persyaratan yang diperlukan, dan kemudian bisa langsung mengajukan aplikasi on-line melalui system APPLES (Application for Passport On-line Electronic System). Di halaman yang sama juga mereka bisa melakukan transaksi perpanjangan SIM, atau bila ingin mengecek keaslian KTP seseorang juga bisa dilakukan secara on-line. Di halaman Family, keluarga dapat secara on-line mengurus surat perkawinan, dan akta kelahiran. Di halaman Education, diberikan informasi lengkap mengenai pendidikan dan daftar sekolah yang tersedia. Halaman-halaman lain yang ada termasuk halaman Kesehatan, Transportasi, Perumahan, dan penelusuran pekerjaan. Nilai-nilai positif dari pengalaman Singapura memanfaatkan TI ini menggelitik penulis untuk menerapkan hal serupa kepada kota Batam dan menuangkan pemikiran e-Batam dalam tulisan ini.

e-Batam atau electronic-Batam merupakan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara efektif untuk mendukung kegiatan pemerintahan dan kemasyarakatan dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Batam dan untuk memajukan eksistensi kota Batam dalam perekonomian dunia. Jelas disini basis sektornya adalah sektor pemerintahan, pelayanan masyarakat, dan ekonomi-industri.

TANTANGAN

Beberapa pertanyaan kritis pasti akan muncul dari berbagai pihak menanggapi pemikiran e-Batam ini, namun jangan membuat kita pesimis tetapi kita buat pertanyaan ini sebagai tantangan dari e-Batam.

Apakah tidak berlebihan bila Batam mencontoh Singapura yang notabene adalah negara maju sementara Batam (Indonesia) masih menjadi negara berkembang? Malah disinilah keuntungan Batam bila memanfaatkan TI. Banyak ahli menyatakan bahwa TI merupakan alat untuk melakukan loncatan katak ‘frog-leap’, yang bagi Batam merupakan ‘lompatan raksasa’ dari tahapan berkembang (Industrial Society) langsung ke tahapan informasi (Post-Industrial Society) tanpa perlu melalui tahapan negara maju (Developed Society).

Lalu darimana dana untuk membiayai program ini? Melihat kondisi Batam saat ini yang mampu mengeluarkan 28 milyar rupiah untuk pembangunan gedung DPRD-nya (Sijori Pos, 1 Juni 2002), penulis merasa dana bukan masalah. Yang diperlukan adalah mengkaji kembali skala prioritas dari beberapa proyek yang sudah disetujui untuk didanai, memilah secara obyektif: yang produktif dan menambah nilai harus diprioritaskan, sementara proyek yang non-produktif bisa ditunda dulu.

Apakah kita mempunyai sumber daya manusia yang cukup untuk membangun e-Batam? Penulis perkirakan tidak ada masalah untuk mendapatkan SDM yang diperlukan. Sekarang ini cukup banyak SDM TI Indonesia yang bekerja di Singapura, dan ini menunjukkan bahwa tingkat keilmuan dan ketrampilan SDM TI kita setaraf dengan SDM TI Singapura. Menurut penulis, langkah yang paling bijak dan aman adalah dengan melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi yang benar-benar memiliki kemampuan TI dan yang professional. Tidak perlu terlalu ‘chauvinis’ harus perguruan tinggi lokal, namun gunakan seleksi yang obyektif dan transparan. Sementara untuk SDM pengguna e-Batam juga perlu dilakukan program pelatihan, terutama untuk para aparat pemerintah yang langsung berinteraksi dengan e-Batam sehingga bisa mengoperasikan e-Batam secara optimal dan efisien.

Bagaimana dengan infrastrukturnya? Untuk infrastruktur, pemerintah kota bisa bekerjasama dengan Telkom dan Indosat untuk menyesuaikan infrastruktur informasi (kapasitas dan distribusi) sehingga bisa menunjang operasional e-Batam.

KESEMPATAN

Di samping tantangan, e-Batam juga membuka kesempatan kepada masyarakat, pemerintah, dan kota Batam sendiri untuk berkembang dan memperbaiki diri. Beberapa kesempatan dijabarkan di bawah ini.

Kesatu, e-Batam menjamin terwujudnya ‘good-governance’. Akar masalah korupsi, penyuapan, dan in-efisiensi pemerintahan adalah ketertutupan dalam institusi. Ketertutupan ini menyembunyikan semua permasalahan hanya pada lingkup tertentu. Lihat saja di beberapa institusi yang namanya Standard Operating Procedure atau prosedur operasi sengaja dibuat tidak jelas kepada masyarakat sehingga masyarakat menjadi bingung: tidak tahu kepada siapa dia harus pergi untuk berurusan, dokumen apa saja yang harus dilengkapi, berapa biaya yang ditetapkan, aktivitas apa saja yang harus dia tempuh, berapa lama proses pengolahannya, dan lain sebagainya. Hal ini menyuburkan ‘jamur’ yang namanya ‘uang pelicin’. Demikian juga dengan tersumbatnya saluran pelaporan pada berbagai institusi. Laporan masyarakat yang diajukan hanya disimpan pada tingkat dan lingkup tertentu saja, tidak naik ke atas, sehingga tidak ada tindak-lanjutnya sama sekali. Contoh kasus yang mengenaskan karena kontradiktifnya adalah laporan masyarakat mengenai kebocoran pipa air yang sering diabaikan, padahal manajemen institusi air mengeluh rugi dan berniat menaikkan tarif. TI yang memiliki sifat ‘transparansi informasi yang terakses oleh semua’ bisa menguak sifat tertutup dari institusi menjadi keterbukaan yang memungkinkan pengontrolan oleh semua. Pada kasus di atas, TI bisa memperjelas SOP karena TI hanya bisa diimplementasikan bila SOP sudah terdefinisi secara jelas, detail dan benar. SOP ini bisa diinternalisasikan dalam sistem aplikasi berbasis TI. Seperti contoh kasus Singapura di atas semua prosedur tercatat di situs web yang bersangkutan dan yang setiap transaksi prosesnya bisa dicatat untuk kemudian bisa digunakan sebagai bahan audit-trail. Demikian juga dengan saluran pelaporan, bagaimana teknologi internet dan email memungkinkan pelaporan yang diajukan masyarakat bisa diterima, dibaca, dan diperhatikan oleh banyak pihak: aparat institusi, atasan aparat, pimpinan institusi, dan masyarakat lainnya.

Kedua, pelayanan terhadap masyarakat bisa dioptimalkan dari aspek kenyamanan, kecepatan, kemudahan, dan keamanan. Contohnya bisa kita lihat dari kasus Singapura di atas.

Ketiga, daya saing Batam dalam industri, perdagangan, dan perekonomian bisa ditingkatkan. Kawasan sijori (Singapura, Johor, Riau-Batam) merupakan kawasan industri yang berkembang pesat. Dibandingkan ketiganya maka Batam masih dalam tingkat bawah. Institusi perdagangan dan industri Batam bisa ikut memanfaatkan fasilitas e-Batam baik untuk pertukaran data perdagangan secara elektronik (contoh di pelabuhan) ataupun berinteraksi secara on-line dengan mitra bisnis di seluruh dunia. Kedekatan melalui TI menutupi keterpisahan secara geografis dan ini bisa menjadi salah satu keunggulan kompetitif dari industri yang ada di Batam.

Keempat, proses demokrasi dalam arti sebenarnya bisa dilaksanakan. TI memungkinkan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan dan kemasyarakatan menjadi lebih intensif. Terbukanya saluran pengaduan dan komunikasi memungkinkan masyarakat untuk ikut serta secara aktif melakukan pengawasan terhadap jalannya roda pemerintahan dan mempermudah akses untuk mengemukakan pendapatnya hingga bisa didengar oleh aparat pemerintahan.

STRATEGI MENUJU e-BATAM

e-Batam tidak bisa diwujudkan dalam jangka waktu 1 tahun dan menurut perkiraan penulis diperlukan waktu minimal 5 tahun. Untuk itu diperlukan satu strategi implementasi yang solid dan detil, yang singkatnya berisi sebagai berikut:

Pertama, Tahap Perencanaan untuk membuat dokumen cetak biru yang menjabarkan secara detil dan matang akan seperti apa e-Batam pada akhirnya, aktivitas apa saja yang akan dilakukan dalam membangun e-Batam, siapa saja yang terlibat, dimana dikerjakannya, kapan aktivitas mulai dan selesai, dan ukuran-ukuran pencapaian targetnya. Yang tercantum dalam dokumen ini haruslah sesuatu yang siap untuk dijalankan.

Kedua, membangun sistem back-office di satu atau dua institusi sebagai pilot project. Sistem back-office ini merupakan komponen utama (core) yang memungkinkan dimulainya interkoneksi e-Batam. Sistem back-office yang dimaksud disini adalah piranti lunak (aplikasi) TI, piranti keras TI, jaringan komunikasi, sistem prosedur standar, dan sistem pelatihan dalam institusi itu sendiri. Misalnya di kantor kependudukan dibangun sistem pencatatan kependudukan yang terkomputerisasi untuk menyimpan dan mengolah data kependudukan (lahir, sekolah, menikah, meninggal, mutasi) kota Batam. Sistem back-office ini akan memproses permintaan secara on-line melalui internet (softcopy) dan permintaan yang diajukan masyarakat yang secara langsung datang ke institusi yang bersangkutan (hardcopy).

Ketiga, membangun sistem telekomunikasi dan infrastruktur informasi dalam lingkup kota Batam untuk mendukung program e-Batam, misalnya meningkatkan jumlah saluran telepon, meningkatkan bandwidh, dan lain-lain.

Langkah keempat adalah mensosialisasikan TI seperti internet ke masyarakat dan mengusahakan peningkatan tingkat kepemilikan komputer atau handphone oleh masyarakat. Misalnya dengan mengadakan program kredit murah terhadap komputer dan handphone, mempermudah ijin pendirian warung internet, dan mengadakan pelatihan penggunaan internet di sekolah-sekolah.

Kelima, setelah pilot project berjalan dengan baik maka dilakukan pembangunan sistem back-office di seluruh institusi yang terlibat dalam e-Batam seperti yang telah dirumuskan dalam dokumen cetak biru di langkah perencanaan.

Keenam adalah membangun sistem interkoneksi antar institusi yang merupakan milestone penting dalam e-Batam. Kegiatannya meliputi pemetaan data antar institusi, pemetaan pelayanan institusi terhadap keperluan masyarakat, pemetaan informasi yang terakses dan yang dibutuhkan, dan integrasi antar sistem yang ada. Setelah itu dibangun situs web e-Batam yang menjadi titik temu antara aplikasi back-office, sistem interkoneksi, dan pengguna (masyarakat dan aparat pemerintah); yang disebut juga sistem front-office.

Pada akhirnya struktur teknis seperti yang digambarkan dalam gambar Perspektif Teknis e-Batam akan terbentuk.

PENUTUP

Belajar dari pengalaman Singapura, teknologi informasi bisa menjadi satu alternatif bagi kita untuk memajukan kota, masyarakat, pemerintahan, dan industri Batam. Hal ini menjadi tantangan bagi aparat pemerintahan kota Batam, pelaku industri di Batam, dan masyarakat Batam untuk mempertimbangkan pemikiran e-Batam ini sebagai salah satu program pembangunan kota Batam dalam masa 5 tahun ke depan.

(tulisan ini di-reload dari arsip tahun 2002 http://www.geocities.com/hermanjul)

Why Invest in Batam ?

Dear investor,
There are five main reasons to invest in Batam. Batam has:

1. Competitive labour wage

Indonesia’s labour wage including in Batam is still lower than labour wage in Malaysia and Vietnam. Labour wage comprise of about 20 percent of industry cost, so saving in labour wage can reduce industry cost. So in Batam industry can produce the same product with lower cost, but they can sell the product in normal price so they can get higher profit.

2. Complete infrastructure to support industry

There are some industrial estates located in Batam. Each industrial estate is supported with electric supply, gas supply, water supply, communication infrastructure, waste management facities, good security, and good transportation infrastructure. Those are managed professionally by the estate management corporation. Even a few of industrial estates provides employee dormitory with its complete supporting facilites such as market, post office, mosque, church, community centre, and shopping centre. By locating your business in industrial estate you can focus to the development of the business itself and of course you can reduce expense (compare if you built your own factory from the scratch).

3. Condusive investment and industry policy

• Batam local government has implemented the One Stop Services (OSS) system for managing permit documents such as location permit document, industry permit document, etc. With this system, it is easy and fast to request required documents for business purpose.
• Batam is free trade zone, there is tax deduction for industry operating in this FTZ area. Your product will have low production cost and that means the product is competitive in international trade.

4. High skilled labour availability

Batam already has some good technical schools and universities with industrial related program studies. The graduates from these schools can be the source of skilled labour. High skilled labour can also easily recruited from other areas in Indonesia such as Java and Sumatera.

5. Strategic location

With location that near Singapore, Batam is suitable for factory relocation that currently located in that island country. This strategic location also provides flexibility in logistics and supplier sources.

So what are you waiting for ? … Come and see, Batam is waiting for your visit and your investment. WELCOME..

Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk Industri Batam

Sebagai kota industri, Batam sangat memerlukan pasokan sumber daya manusia yang cukup dari segi jumlah dan baik dari segi kualitas. Sektor industri sudah pasti memerlukan jumlah tenaga kerja yang banyak untuk berbagai tingkatan mulai dari operator, supervisor, manajer, dan tenaga ahli oleh karena itu Batam perlu memiliki jumlah tenaga kerja yang memadai untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Pada awal berdirinya Batam, pasokan tenaga kerja didapatkan utamanya dari luar Batam terutama dari Jawa dan Sumatera. Tetapi kemudian dalam perkembangannya sekarang ini sebagian besar tenaga kerja mulai berasal dari Batam sendiri.

Pada awal kelahiran Batam dapat dipahami bahwa jumlah penduduknya pun masih kecil dan lembaga pendidikan yang ada juga baru satu dua, dan ini terutama lebih untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar bagi penduduk Batam. Kemudian perlahan tapi pasti jumlah penduduk mulai meningkat tajam dan demikian juga dengan tingkatan demografi yang ada. Kebutuhan akan pendidikan juga ikut meningkat mengikuti perkembangan usia penduduk, beranjak dari sekolah dasar, sekolah menengah hingga kebutuhan untuk mendapatkan pendidikan tinggi.

Jumlah sekolah di Batam sekarang ini untuk tingkat dasar dan menengah (baik umum maupun kejuruan) sudah mencapai tujuh ratusan sekolah dengan berbagai profil: ada sekolah negeri, sekolah swasta, sekolah berciri keagamaan, sekolah internasional, sekolah nasional plus, hingga sekolah yang bersifat persiapan untuk sekolah di luar negeri. Semua tipe sekolah lengkap ada di Batam, orang tua memiliki pilihan yang beragam sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Demikian juga keberagaman terlihat dari segi kualitas, dan bila dilihat dari statistik status akreditasi maka baru 11 sekolah yang memiliki akreditasi tertinggi A (Tribun, 22 Mei 2009). Prestasi siswa-siswi Batam juga sudah cukup bagus dalam tingkat propinsi, tinggal meningkatkannya untuk bisa berbicara dalam tingkat nasional baik dalam olimpiade sains maupun dalam pekan olah raga pelajar.

Di tingkat pendidikan tinggi, dari jumlah sekolah tinggi dan universitas maka Batam cukup membanggakan. Ada lebih dari sepuluh buah perguruan tinggi di tingkat kota seluas Batam, yang masih kurang adalah bahwa belum ada yang berstatus sebagai perguruan tinggi negeri. Kebanyakan perguruan tinggi membuka program studi yang berkaitan dengan kebutuhan industri seperti teknik industri, teknik elektro, teknik informatika yang sedang booming, dan tentunya juga ekonomi baik manajemen dan akutansi, dan hukum yang merupakan program studi umum dibuka dan bernilai jual. Untuk strata juga beberapa perguruan tinggi sudah menyelenggarakan juga program strata 2 dan strata 1 secara bersamaan. Jumlah mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi yang ada di Batam juga cukup banyak, dan sudah meluluskan cukup banyak sarjana.

Nah ini yang khas dari perguruan tinggi di Batam yaitu kebanyakan perguruan tinggi lebih fokus pada kuliah di malam hari. Hanya beberapa perguruan tinggi yang fokus mengadakan kuliah di pagi hari. Kondisi ini berhubungan dengan target mahasiswa di Batam yaitu yang ingin berkuliah tapi tetap sambil bekerja. Hal ini memberi implikasi positif dan negatif. Positif karena mahasiswa yang bekerja tentunya sudah lebih mengenal dunia kerja dan lebih luas wawasan aplikatifnya sehingga tentunya bisa berinteraksi dengan lebih baik terhadap mata kuliah yang diajarkan selama kuliah. Negatifnya karena kuliah disambi kerja (bukan kerja disambi kuliah) maka orientasi mahasiswa lebih kepada pencapaian gelar atau ijasah sehingga penyerapan ilmu dan teknologi oleh mahasiswa menjadi tidak maksimum.

Bagaimana dampak banyaknya sekolah dan perguruan tinggi lokal terhadap perkembangan industri di Batam? Saat ini lebih banyak lulusan sekolah menengah baik umum dan kejuruan yang sudah diakui oleh kalangan industri layak mengisi posisi operator dan teknisi. Kerjasama industri antara pihak perusahaan dengan sekolah di beberapa perusahaan sudah dilakukan yaitu dengan memberikan tempat bagi siswa sekolah untuk melakukan praktek kerja lapang di perusahaan dan kemudian perusahaan bisa melakukan proses rekrutmen terhadap siswa yang berprestasi baik untuk dijadikan karyawan setelah siswa menyelesaikan praktek kerja dan lulus. Kerjasama ini menguntungkan kedua belah pihak. Dari pihak sekolah dan siswa tentunya bisa memberi kepastian pada kualitas sekolah dan masa depan siswa, sementara dari pihak perusahaan dapat memper”mudah” dan memper”murah” proses pemilihan tenaga kerja baru yang dibutuhkannya.

Perguruan tinggi perlu lebih merapat ke industri. Saat ini terlihat perguruan tinggi masih asik dengan upaya mendapatkan mahasiswa sebanyak mungkin, belum memberi tekanan yang serius pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diembannya yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ini yang perlu ditingkatkan oleh perguruan tinggi di Batam. Dengan pencapaian pada tiga kegiatan utama tersebut maka kualitas perguruan tinggi pasti bisa diakui oleh masyarakat luas termasuk masyarakat industri bahwa perguruan tinggi tersebut memiliki sistem pengajaran yang baik dan mampu menghasilkan lulusan yang baik pula. Dengan demikian tentunya pihak industri tidak segan-segan lagi untuk merekrut lulusan dari perguruan tinggi lokal di Batam ini.

Sebagai penutup perlu mengingatkan bahwa Batam sudah mapan untuk menjadi kawasan industri. Suatu industri memerlukan investasi dan tenaga kerja. Saat ini melalui program FTZ merupakan penawaran bagi masuknya investasi ke Batam. Maka secara internal di Batam sendiri sudah harus mempersiapkan dirinya pada salah satunya menyediakan tenaga kerja yang memadai dalam jumlah dan yang berkualitas secara keilmuan dan ketrampilan yang nantinya dibutuhkan oleh industri baru tersebut. Mari kita sambut investasi !

Menjelajahi Industri di Pulau Batam

Kota Batam identik dengan industri. Kondisi ini bersepadanan dengan tujuan awal pengembangan kota Batam sebagai kawasan industri yang dilakukan oleh Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam. Berbagai infrastruktur dibangun untuk mendukung kegiatan industri di kota pulau ini. Dan sekarang di tahun 2009 bisa kita lihat hasil dari pembangunan yang sudah dilakukan tersebut, berbagai jenis industri ringan dan berat berkembang di kawasan ini, baik oleh pelaku domestik maupun investor dari luar negeri. Dan ini bisa dilihat dari banyaknya kawasan industri di seputaran dan sudut kota Batam .

Kawasan Industri Batamindo yang berlokasi di Muka Kuning merupakan kawasan industri yang termaju di Batam. Memasuki kawasan ini kita disambut dengan gerbang megah bertuliskan “Welcome To Batamindo Industrial Park”, cukup indah dan elegan. Jalan yang lebar membuat perjalanan berkendara cukup nyaman, demikian juga pohon-pohon besar dan rindang yang tumbuh di tepi jalan dan trotoar yang bersih membuat perjalanan dengan jalan kaki cukup menyenangkan. Serasa bukan kawasan industri melainkan kawasan rekreasi. Tapi beginilah mustinya suatu kawasan industri, nyaman untuk bekerja dan nyaman untuk aktivitas sehari-hari lainnya. Hal ini tampaknya wajar ada di Kawasan Industri Batamindo ini karena di dalam kawasan ini bukan hanya gedung pabrik yang ada tetapi juga ada dormitori tempat pekerja yang masih lajang tinggal; community centre tempat pekerja melakukan kegiatan sosial seperti olahraga, kesenian, dan bersenang-senang; kawasan komersial untuk pasar, supermarket, pujasera, toko, perbankan, kantor pos, dan prasarana lain yang menunjang kebutuhan sehari-hari pekerja; mesjid dan gereja; dan yang penting bagi suatu industri tentunya pembangkit tenaga listrik dan pengolahan air bersih yang mandiri. Inilah yang bisa disebut kawasan industri yang terintegrasi. Melihat kondisi ini tidak mengherankan bila Kawasan Industri Batamindo dihuni oleh perusahaan-perusahaan besar berkelas dunia, semua fasilitas terlayani dan perusahaan bisa fokus pada core business-nya.

Melangkah keluar dari Kawasan Industri Batamindo, sudah bisa ditemui Kawasan Industri Panbil yang merupakan kawasan industri relatif baru di Batam. Namun yang terkenal dari kawasan industri Panbil ini adalah Panbil Mall dan Panbil Estate. Panbil Mall adalah mall besar dengan konstruksi model stadion yang menjadi mall tujuan utama para pekerja di kawasan muka kuning dan sekitarnya. Sementara Panbil Estate merupakan kompleks perumahan ekslusif di Batam yang terkenal sebagai tempat tinggal para ekspatriat di Batam.

Berjalan lurus menuju Batam Centre, di tengah perjalanan antara kawasan Muka Kuning dan kawasan pemerintahan Batam Centre ada dua kawasan industri lain yaitu Kawasan Industri Cammo dan Kawasan Industri Kara. Kedua kawasan ini termasuk kawasan industri menengah. Berbeda dengan Kawasan Industri Batamindo, di kedua kawasan ini pekerja tinggal di perumahan yang ada di sekitaran kawasan industri ini. Kondisi ini menyebabkan bisnis kontrak-an dan kos-kos-an cukup populer di sekitaran kawasan industri ini. Jarak tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja menjadi incaran para pekerja karena bisa menghemat pengeluaran mereka. Masih di Batam Centre yang terdekat lagi adalah Kawasan Industri Tunas yang memiliki tipe yang hampir sama dengan Kawasan Industri Cammo dan Kara.

Kawasan industri yang lokasinya jauh dari pusat kota adalah kawasan Kabil dan Batu Ampar. yang terkenal dengan industri galangan kapal, industri berat dan industri ringan. Di Kabil ini ada Kawasan Industri Kabil, Kawasan Industri Taiwan, dan beberapa kawasan industri lainnya. Sementara di Batu Ampar ada Kawasan Industri Bintang, Kawasan Industri Union, dan Kawasan Industri Batu Ampar. Yang menarik dari keseharian kawasan industri yang jauh dari tengah kota ini adalah pada pagi hari akan ditemui iring-iringan motor seperti konvoi dengan sebagian pengendaranya mengenakan pakaian seragam. Mereka adalah para pekerja yang berangkat kerja dari rumah yang terletak di sekitaran pusat kota dan pulang dari tempat kerja di kawasan Kabil dan Batu Ampar. Itulah mobilitas warga pekerja Batam.

Banyaknya kawasan industri di Batam bagi orang luar Batam seperti mengisyaratkan bahwa di Batam banyak pekerjaan yang tersedia. Asumsi ini tidak salah tetapi lebih tepatnya adalah memang tersedia banyak pekerjaan namun bagi pekerja yang memenuhi kualifikasi yang sesuai dengan bidang pekerjaan tersebut. Batam sudah menjadi “lampu” bagi “laron” pekerja di luar Batam yang ditandai dengan tingginya jumlah orang yang masuk ke Batam. Namun dengan bagusnya infrastruktur yang ada di Batam dan ketersediaan tenaga kerja yang bagus pula serta dicontohkan dengan sudah banyaknya industri yang menetap di Batam semestinya Batam juga bisa menjadi “lampu” bagi “laron” investor lokal dan luar negeri untuk masuk ke Batam. Apalagi sekarang sudah diberlakukan Sistem Aplikasi Pelayanan Terpadu (One Stop Service) dalam pengurusan dokumen perizinan yang mempermudah para investor dalam pengurusan administrasinya. Dan mustinya investor tidak perlu berpikir dua kali untuk berinvestasi di Batam karena sejak 1 April 2009 lalu Batam sudah menjadi kawasan Free Trade Zone (FTZ) yang berarti industri di Batam bisa berbiaya rendah sehingga produk yang dihasilkan bisa memiliki daya saing tinggi dalam harga di perdagangan dunia.

Peran Listrik Dalam Mengembangkan Batam Sebagai Kota Metropolis dan Kota Industri

Tidak bisa dipungkiri bahwa listrik sudah menjadi komponen utama dalam kehidupan suatu kota termasuk kota Batam. Tidak ada kegiatan dalam kota yang tidak menggunakan listrik. Tidak ada kemajuan kota yang tidak didukung oleh pasokan listrik. Lihatlah beberapa kawasan Batam di waktu malam. Terang menyembul dari beberapa titik lokasi, bisa disebut: hotel Vista, Rumah Sakit Awal Bros, hotel Planet Holiday, Pelabuhan Ferry Batam Center, Mega Mall Batam Center, Mesjid Raya Batam Center, Batam City Square, Pelabuhan Ferry Harbour Bay, Kawasan Industri Batamindo, Pelabuhan Batu Ampar, dan kawasan pusat dagang Nagoya. Semakin maju suatu kota dan semakin metropolitan suatu kota maka semakin besar kebutuhan akan konsumsi listrik. Perhatikan kota Jakarta dan Singapura, siang dan malam tidak banyak berbeda, kehidupan masyarakat dan ekonomi terus bergulir bahkan kota nyaris tak pernah tidur, dan ini dimungkinkan karena adanya pasokan listrik yang besar yang bisa membuat malam seterang siang hari. Jadi memang jelas bahwa untuk membawa Batam menjadi kota yang lebih maju, lebih metropolis dan lebih industrialis dari sekarang diperlukan usaha untuk menjaga pasokan listrik saat ini tetap bisa mengimbangi kebutuhan masyarakat dan bisnis, dan di masa depan diperlukan usaha untuk meningkatkan pasokan listrik lebih besar dari sekarang.

Dalam tulisan ini dibahas dua hal, pertama bagaimana peran listrik dalam memajukan kehidupan masyarakat Batam, mendukung pertumbuhan ekonomi Batam, meningkatkan keamanan Batam, membuat pariwisata Batam lebih menarik wisatawan asing, dan mendukung pelaksanaan Kawasan Ekonomi Khusus. Kedua, membahas bagaimana PLN Batam bisa meningkatkan pasokan listrik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi listrik yang semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan kota Batam menuju kota metropolitan dan kota industri. Kedua hal yang dibahas memiliki keterkaitan yaitu peran listrik yang penting berarti menuntut pasokan harus ada, dan pasokan yang terus bisa ditingkatkan berarti peran penting listrik bisa terus diperluas ke lokasi baru dan bidang yang baru.


Listrik Bagi Kota Batam

Ketersediaan listrik yang memadai, berkesinambungan, dan ekonomis memacu kemajuan masyarakat. Kemajuan teknologi sekarang sudah merambah meluas ke segala penjuru dunia termasuk Batam dan sekitarnya. Teknologi internet yang dimotori oleh perusahaan telekomunikasi nasional mengadakan program “Internet Goes to School” kini sudah mulai merambah sekolah-sekolah yang ada. Teknologi telpon seluler sekarang sudah dipakai oleh orang dari berbagai kalangan mulai dari kelompok ekonomi bawah sampai kelompok ekonomi atas. Namun pertanyaan mendasarnya adalah bahwa teknologi baru dan maju yang diwakili oleh dua teknologi yang disebut di atas dimungkinkan bisa dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas bila infrastruktur listrik sudah ada di daerah tersebut. Bisa dibayangkan bila suatu daerah belum memiliki infrastruktur listrik, bagaimana internet bisa digunakan bila komputer yang akan digunakan untuk mengakses internet tidak bisa dihidupkan, atau mungkin telpon seluler bisa dimiliki oleh orang yang tinggal di daerah tanpa listrik tapi bila batere telpon selulernya melemah dan habis maka bagaimana yang bersangkutan bisa mengisi ulang baterenya tersebut. Jadi di sini kita bisa melihat bagaimana listrik menjadi komponen dasar yang harus ada sebelum kita bisa memanfaatkan teknologi maju lainnya. Keberadaan listrik di suatu daerah memberikan dampak perubahan yang besar kepada pola hidup masyarakat daerah tersebut. Ambillah contoh pekerjaan rumah tangga yang dulunya mengambil air dengan sumur dan pompa tangan sekarang sudah bisa menggunakan pompa listrik, yang dulunya menyetrika dengan menggunakan seterika arang sekarang sudah digantikan dengan seterika listrik, yang dulunya tidak bisa menyimpan makanan tetap segar berhari-hari sekarang berkat listrik dan kulkas ibu rumah tangga cukup berbelanja sayuran dan lauk pauk seminggu sekali, dan yang dulunya harus bolak balik memasak air panas bila perlu sekarang sudah bisa menyediakan air panas 24 jam tinggal ambil. Demikian pula dalam hal pendidikan, dengan adanya listrik dalam bentuk penerangan, anak-anak bisa memiliki waktu belajar yang lebih panjang, yang dulunya hanya siang dan sore hari sekarang sudah bisa dilakukan malam hari bahkan sampai pagi kembali sekalipun. Dampak positif dan kemajuan yang besar diperoleh masyarakat karena keberadaan listrik ini harusnya dapat meningkatkan produktivitas, efektivitas, dan efisiensi masyarakat kota Batam.

Ketersediaan listrik yang memadai, berkesinambungan, dan ekonomis memacu pertumbuhan ekonomi kota. Perdagangan dan industri menggunakan listrik dalam operasionalnya. Suatu pabrik untuk dapat memenuhi pesanan pelanggan terhadap produk yang berkualitas dan tepat waktu sesuai dengan kebutuhan pelanggan tentunya perlu merencanakan proses produksinya secara tepat dan efektif. Perencanaan produksi ini tentunya perlu didukung oleh ketersediaan mesin, tenaga kerja, dan bahan baku yang diperlukan. Agar mesin dan tenaga kerja dapat bekerja mengolah bahan baku menjadi produk jadi tentunya memerlukan infrastruktur yang memungkinkan mesin beroperasi dan lingkungan pabrik yang kondusif bagi pekerja untuk bekerja optimal seperti sistem penerangan ruangan yang cukup, suhu ruangan yang stabil. Infrastruktur ini berujung pada pasokan listrik yang memadai, berkesinambungan dan ekonomis. Kebalikannya bisa kita bayangkan bila saat pabrik beroperasi terjadi pemadaman listrik, apa saja yang akan dihadapi pabrik? Bahan baku yang sedang diolah saat pemadaman listrik terjadi berarti menjadi produk rusak, artinya kerugian bagi perusahaan. Anggap saja pemadaman terjadi selama satu jam, berarti pabrik berhenti melakukan proses produksi selama satu jam (bahkan lebih bila kita perhitungkan bahwa diperlukan proses persiapan produksi seperti memanaskan mesin, mempersiapkan ulang parameter mesin, menjalankan AC agar mencapai suhu tertentu yang dipersyaratkan agar proses produksi bisa berjalan dengan baik, dan lain-lain), artinya kerugian lagi bagi perusahaan karena kehilangan potensi untuk menghasilkan produk dalam jangka waktu pemadaman listrik terjadi. Di pabrik tentunya banyak alat-alat elektronik yang sebagian mungkin sensitif terhadap perubahan tegangan listrik, jadi bisa dibayangkan bila ada kemungkinan kerusakan pada alat-alat elektronik tersebut akibat pemadaman listrik yang tiba-tiba, dan ini juga menjadi kerugian bagi perusahaan juga. Jadi bisa diterka apa yang ada dipikiran pengusaha bila dia dihadapkan pada situasi yang sama berulang-ulang, tentunya dia akan memikirkan untuk memindahkan lokasi pabrik ke tempat yang lebih baik, tempat yang memiliki pasokan listrik yang lebih memadai, berkesinambungan dan ekonomis agar pabriknya bisa beroperasi pada kondisi yang normal. Banyaknya pabrik yang hengkang dari suatu kota tentunya secara langsung akan menurunkan kemampuan ekonomi kota tersebut, dan sebaliknya semakin banyak pabrik yang beroperasi di suatu kota tentunya secara langsung akan menaikkan kemampuan ekonomi kota melalui peningkatan daya serap tenaga kerja lokal, pemasukan pendapatan daerah dari pajak produk, peningkatan daya konsumsi masyarakat yang secara langsung berarti menggairahkan geliat perekonomian kota, dan akan memunculkan industri pendukung lainnya sebagai dampak tetesan air dari keberhasilan industri yang ada.

Ketersediaan listrik yang memadai, berkesinambungan, dan ekonomis membawa kota menjadi lebih aman. Sudah menjadi pemeo umum bahwa “tempat yang gelap rawan kecelakaan”, “tempat yang gelap rawan kejahatan”, dan istilah remang-remang (kurang terang) yang dihubungkan dengan lokasi maksiat. Secara statistik pernyataan tersebut memang didukung: angka kecelakaan di malam hari pada lajur jalan yang gelap lebih sering terjadi dibandingkan pada lajur jalan yang terang, peristiwa penodongan lebih sering terjadi pada orang yang sedang berada di lokasi yang kurang terang dibandingkan dengan lokasi terang. Seperti bang Napi bilang kejahatan bisa terjadi kalau situasi mendukung, demikianlah faktor gelap menjadi salah satu faktor penguat dilakukannya tindak kejahatan, demikian pula halnya dengan kecelakaan lalu lintas. Beberapa kasus kecelakaan lalu lintas yang terjadi adalah karena pengendara kendaraan bermotor dalam kondisi kegelapan tidak bisa melihat bila di jalan yang akan dilaluinya ada lobang sehingga dia tidak mengantisipasi kondisi tersebut misalnya dengan menghindari lobang tersebut atau mengerem motornya agar berjalan pelan. Kebalikannya bila kondisi jalan terang karena adanya lampu jalan yang memadai sepanjang jalan yang dilaluinya, tentu dia sudah bisa mengetahui kondisi jalan beberapa saat sebelumnya sehingga dia masih punya waktu untuk mengantisipasi kondisi jalan yang akan dilaluinya. Sementara di tindak kriminalitas, beberapa kejadian penodongan dan pembuangan korban penodongan di malam hari terjadi di daerah jembatan Barelang yang notabene lokasi sepi dan kurang terang. Jadi salah satu langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi (kemudian dilanjutkan dengan memberantas) kecelakaan dan kejahatan adalah dengan mendistribusikan terang (baca listrik) ke seluruh wilayah kota Batam.

Bidang pariwisata Batam pun sangat tergantung pada keberadaan listrik. Lokasi yang alami yang menjadi daya pikat pariwisata Batam memang perlu dijaga, namun tetap harus digabungkan dengan fasilitas modern yang mendukung. Untuk mempermudah akses kedatangan turis ke tempat pariwisata tentu diperlukan adanya fasilitas transporasi dan jalan raya yang mulus plus terang di malam hari. Selama berada di lokasi pariwisata dalam menikmati keindahan alam tentu wisatawan tidak ingin direpotkan dengan pekerjaan rumah tangga harian seperti memasak dan mencuci sehingga penginapan para wisatawan pun perlu diperlengkapi dengan peralatan rumah tangga yang lengkap yang mempermudah dan menyamankan mereka selama berada di lokasi pariwisata. Kulkas, mesin cuci, kompor listrik, dispenser, dan pemanas air tentunya memerlukan listrik dalam pengoperasiannya. Bila lokasi pariwisata bisa menyediakan fasilitas yang berbasis listrik tadi tentunya akan bisa menjaring lebih banyak wisatawan untuk mengunjungi dibandingkan bila lokasi pariwisata tanpa fasilitas listrik hanya akan dikunjungi oleh segelintir wisatawan yang memang menyukai petualangan model acara TV “Survivor”. Dan bagi ekonomi Batam sendiri, semakin banyak wisatawan asing berkunjung maka berarti semakin besar pendapatan yang bisa didapat, dan semakin bisa menggerakkan roda perekonomian kota dengan bertambahnya jumlah pelaku ekonomi dari luar negeri.

Meringkas apa yang dibahas pada beberapa paragraf di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kota tanpa listrik yang memadai cepat lambat akan menjadi kota mati karena lambat laun akan ditinggalkan pihak industri, pihak pedagang, dan akhirnya penduduk kota yang bersangkutan. Ketiadaan listrik bisa membuat suatu kota menjadi mati, dan sebaliknya ketersediaan listrik yang memadai bisa membuat suatu kota menjadi kota yang maju dan berkembang. Dihubungkan dengan diberlakukannya Batam sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) maka peran listrik amat sangat penting. Dengan status Batam sebagai KEK maka Batam menjadi kota khusus dimana halangan perdagangan yang biasanya diberlakukan pada kota normal seperti tarif impor dan tarif ekspor ditiadakan, dan kota khusus dimana prosedur birokrasi sangat disederhanakan, dan kota khusus dimana perusahaan yang beroperasi di dalamnya diberikan insentif khusus seperti pengurangan sampai penghapusan pajak. Tujuan diberlakukannya KEK adalah kota Batam lebih menarik untuk menjadi tujuan investasi para investor luar negeri untuk membangun industri sehingga kemudian secara langsung dampaknya dapat mengurangi tingkat pengangguran, pengurangi kemiskinan, dan merangsang pertumbuhan ekonomi kota Batam. Namun apa yang dijanjikan oleh KEK akan diminati oleh investor luar negeri hanya apabila kota Batam sudah memiliki fasilitas dan infrastruktur yang sempurna. Fasilitas umum yang lengkap meliputi jalan raya dan transportasi, pasokan air baku dan air minum, pasokan listrik, fasilitas pos dan telekomunikasi (telpon, internet), fasilitas pembuangan dan pengolahan sampah dan limbah, terminal udara – laut – dan darat, dan lain-lain.

Pasokan Listrik di Masa Datang

Setelah membahas arti penting listrik bagi kota Batam, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apakah kebutuhan listrik kota Batam yang terus berkembang menuju kota metropolis dan industri akan terus bisa dipenuhi oleh PLN Batam? Pertama kita akan membahas tren menyediaan listrik dan tren konsumsi listrik sampai saat ini untuk mengetahui secara jelas bagaimana kondisi pasokan listrik di kota Batam ini.

Pertambahan jumlah pelanggan listrik PLN Batam dari tahun ke tahun secara merata pada laju pertumbuhan yang sama terjadi pada kelompok rumah tangga, bisnis, dan industri. Hal ini bisa dimaklumi karena dalam beberapa tahun terakhir terjadi ledakan pembangunan perumahan dan ruko di berbagai pelosok Batam. Sementara dari penggunaan listrik, kelompok bisnis dan industri memiliki laju pertambahan penggunaan mega watt jam listrik lebih besar di bandingkan kelompok rumah tangga. Hal ini bisa dimaklumi karena secara individu pemanfaatan listrik memang lebih besar di kelompok bisnis dan industri. Dengan kemampuan pasokan Daya Mampu Netto yang sebesar 228,7 mega watt dari daya terpasang keseluruhan sebesar 318,4 mega watt, PLN Batam belum bisa memenuhi kebutuhan seluruh Batam. Beberapa daerah perumahan masih belum terjangkau oleh pasokan listrik PLN, demikian pula beberapa lokasi industri masih dibantu oleh pasokan listrik sendiri.

Dari uraian di atas diketahui bahwa pasokan listrik masih belum bisa bergerak dalam laju yang sama dengan kebutuhan konsumsi listrik, berarti PLN Batam perlu memikirkan lebih lanjut ekspansi pasokan listrik yang bisa dilakukan untuk mengejar pertumbuhan tingkat konsumsi listrik. Dalam paparan berikut penulis bersumbang saran tentang alternatif penyediaan listrik yang mungkin bisa dilakukan. Bila dilihat dari infrastruktur pembangkit listrik yang sekarang ada di Batam, terlihat bahwa pembangkit listrik tenaga diesel yang notabene merupakan pembangkit listrik yang di bangun sebelum tahun 2000 mendominasi. Pada masa awal pertumbuhan Batam, PLTD merupakan pilihan yang paling masuk akal untuk dibangun dibandingkan pembangkit listrik tenaga lainnya karena beberapa alasan: pembangunan fisik relatif cepat, suplai bahan bakar solar yang mudah didapat dan disuplai, dan kondisi Batam yang tidak memiliki sumber tenaga lain (air, uap). Namun dalam perkembangannya PLTD menjadi kurang pas terutama dalam masalah biaya dan ekspansi. Fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) yang cenderung naik terus secara langsung mempengaruhi juga harga jual solar sebagai bahan baku utama PLTD, dan otomatis meningkatkan biaya operasional PLTD. PLTD memiliki keterbatasan dalam penyediaan daya terpasang yang biasanya paling kecil dibandingkan pembangkit listrik lainnya sehingga untuk memenuhi pertumbuhan penggunaan listrik yang relatif selalu meningkat dari tahun ke tahun dalam areal kerja yang sama berarti PLN perlu melakukan penambahan unit PLTD yang baru, kondisi ini juga kurang menguntungkan dalam segi biaya dan operasionalnya.

Kebijakan beralih dari PLTD sudah mulai dilakukan oleh PLN Batam, terlihat sejak tahun 2004 mulai digunakannya pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) melalui PLTG Panaran. Dari segi bahan baku, harga gas relatif lebih murah dibandingkan dengan harga solar, jadi lebih murah dalam operasionalnya. Daya terpasang PLTG relatif lebih besar dibandingkan PLTD sehingga relatif lebih mampu memenuhi kebutuhan listrik untuk areal yang lebih luas. Selain itu PLTG lebih ramah lingkungan karena menghasilkan pembakaran lebih sempurna dan lebih bersih, dan lebih efisien proses operasinya. Untuk suplai bahan baku gas ke Batam sendiri dipermudah dengan dilaluinya Batam oleh jaringan pipa distribusi gas dari Jambi ke Singapura sehingga bisa menjamin kelangsungan suplai gas tersebut. Jadi memang gas bisa menjadi alternatif kedua setelah diesel sebagai sumber pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik Batam terutama untuk masa sekarang dan beberapa tahun ke depan.

Untuk ke depannya sebagai alternatif sumber tenaga lain, saat ini sedang ada pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Tanjung Kasam. PLTU ini mengambil sumber dari …

Satu sumber penghasil energi listrik yang saat ini belum dimanfaatkan dan patut untuk digunakan adalah pembangkit listrik tenaga angin. Kondisi geografis Batam sebagai pulau dengan panjang garis pantai 1.261 km menyimpan potensi untuk dialiri angin dari laut dengan kecepatan rata-rata 5 meter per detik atau 18 km/jam mampu menggerakkan baling-baling yang kemudian ditransmisikan ke sistem roda gigi untuk memutar generator listrik sehingga bisa menghasilkan listrik sekitar seratus kilo watt. Di sepanjang pantai bisa dibangun kincir angin sehingga bisa untuk mengaliri listrik daerah pemukiman maupun pariwisata yang ada di sepanjang pantai tersebut. Energi angin memang sedang mulai dikembangkan oleh beberapa negara maju seperti Amerika, Inggris, Jerman, dan Cina sebagai energi alternatif pembangkit listrik. Mengutip harian Suara Merdeka (29 April 2005) bahwa para ilmuwan negera Cina sudah berupaya menciptakan sumber energi dari kincir angin di bawah laut dengan memasang turbin-turbin angin pada lokasi sekitar 50 km lepas pantai dan di kedalaman 30 meter di bawah permukaan air. Instalasi di bawah laut ditujukan agar lokasi turbin tidak berebut lahan di daratan yang kemudian bisa digunakan untuk keperluan pertanian atau pemukiman. Cina menargetkan pada tahun 2020 listrik dari sumber energi angin ini bisa mensuplai 20 gigawatt atau setara dengan satu persen konsumsi listrik Cina. Dari bahan baku memang jauh lebih murah karena angin merupakan sumber daya alam yang gratis dan merupakan sumber daya yang tidak akan habis, namun kembali lagi tergantung dari kondisi geografis daerah masing-masing, dan untuk Batam energi angin merupakan energi yang potensial untuk dikembangkan sebagai pembangkit tenaga listrik.

Penutup

Sudah dibuktikan sejak Batam berdiri sampai hari ini bahwa kemajuan kota Batam seperti sekarang ini hanya bisa dicapai karena dukungan pasokan listrik yang oleh PLN Batam selalu ditingkatkan volumenya agar bisa mengimbangi tingkat konsumsi listrik masyarakat dan industri. Seiring pertumbuhan kota maka tingkat konsumsi listrik akan terus meningkat, dan ini menjadi tantangan bagi PLN Batam untuk terus mencari alternatif pasokan listrik yang memadai sesuai dengan tingkat kebutuhan, berkesinambungan hingga ke masa depan, dan ekonomis sehingga bisa dijual dengan harga murah. Dimulai dengan pembangkit listrik tenaga diesel, maka PLN Batam perlu mencari alternatif sumber energi lain dan yang potensial untuk dikembangkan di Batam adalah tenaga gas, tenaga uap dan tenaga angin. Dengan pasokan listrik yang aman maka tidak diragukan lagi Batam bisa mewujudkan diri sebagai kota metropolis dan kota industri.

(Julius Hermawan, disertakan pada Lomba Karya Tulis HUT PLN Batam – 2007)