Tag Archive | pendidikan

Pengembangan Sumber Daya Manusia untuk Industri Batam

Sebagai kota industri, Batam sangat memerlukan pasokan sumber daya manusia yang cukup dari segi jumlah dan baik dari segi kualitas. Sektor industri sudah pasti memerlukan jumlah tenaga kerja yang banyak untuk berbagai tingkatan mulai dari operator, supervisor, manajer, dan tenaga ahli oleh karena itu Batam perlu memiliki jumlah tenaga kerja yang memadai untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Pada awal berdirinya Batam, pasokan tenaga kerja didapatkan utamanya dari luar Batam terutama dari Jawa dan Sumatera. Tetapi kemudian dalam perkembangannya sekarang ini sebagian besar tenaga kerja mulai berasal dari Batam sendiri.

Pada awal kelahiran Batam dapat dipahami bahwa jumlah penduduknya pun masih kecil dan lembaga pendidikan yang ada juga baru satu dua, dan ini terutama lebih untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dasar bagi penduduk Batam. Kemudian perlahan tapi pasti jumlah penduduk mulai meningkat tajam dan demikian juga dengan tingkatan demografi yang ada. Kebutuhan akan pendidikan juga ikut meningkat mengikuti perkembangan usia penduduk, beranjak dari sekolah dasar, sekolah menengah hingga kebutuhan untuk mendapatkan pendidikan tinggi.

Jumlah sekolah di Batam sekarang ini untuk tingkat dasar dan menengah (baik umum maupun kejuruan) sudah mencapai tujuh ratusan sekolah dengan berbagai profil: ada sekolah negeri, sekolah swasta, sekolah berciri keagamaan, sekolah internasional, sekolah nasional plus, hingga sekolah yang bersifat persiapan untuk sekolah di luar negeri. Semua tipe sekolah lengkap ada di Batam, orang tua memiliki pilihan yang beragam sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Demikian juga keberagaman terlihat dari segi kualitas, dan bila dilihat dari statistik status akreditasi maka baru 11 sekolah yang memiliki akreditasi tertinggi A (Tribun, 22 Mei 2009). Prestasi siswa-siswi Batam juga sudah cukup bagus dalam tingkat propinsi, tinggal meningkatkannya untuk bisa berbicara dalam tingkat nasional baik dalam olimpiade sains maupun dalam pekan olah raga pelajar.

Di tingkat pendidikan tinggi, dari jumlah sekolah tinggi dan universitas maka Batam cukup membanggakan. Ada lebih dari sepuluh buah perguruan tinggi di tingkat kota seluas Batam, yang masih kurang adalah bahwa belum ada yang berstatus sebagai perguruan tinggi negeri. Kebanyakan perguruan tinggi membuka program studi yang berkaitan dengan kebutuhan industri seperti teknik industri, teknik elektro, teknik informatika yang sedang booming, dan tentunya juga ekonomi baik manajemen dan akutansi, dan hukum yang merupakan program studi umum dibuka dan bernilai jual. Untuk strata juga beberapa perguruan tinggi sudah menyelenggarakan juga program strata 2 dan strata 1 secara bersamaan. Jumlah mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggi yang ada di Batam juga cukup banyak, dan sudah meluluskan cukup banyak sarjana.

Nah ini yang khas dari perguruan tinggi di Batam yaitu kebanyakan perguruan tinggi lebih fokus pada kuliah di malam hari. Hanya beberapa perguruan tinggi yang fokus mengadakan kuliah di pagi hari. Kondisi ini berhubungan dengan target mahasiswa di Batam yaitu yang ingin berkuliah tapi tetap sambil bekerja. Hal ini memberi implikasi positif dan negatif. Positif karena mahasiswa yang bekerja tentunya sudah lebih mengenal dunia kerja dan lebih luas wawasan aplikatifnya sehingga tentunya bisa berinteraksi dengan lebih baik terhadap mata kuliah yang diajarkan selama kuliah. Negatifnya karena kuliah disambi kerja (bukan kerja disambi kuliah) maka orientasi mahasiswa lebih kepada pencapaian gelar atau ijasah sehingga penyerapan ilmu dan teknologi oleh mahasiswa menjadi tidak maksimum.

Bagaimana dampak banyaknya sekolah dan perguruan tinggi lokal terhadap perkembangan industri di Batam? Saat ini lebih banyak lulusan sekolah menengah baik umum dan kejuruan yang sudah diakui oleh kalangan industri layak mengisi posisi operator dan teknisi. Kerjasama industri antara pihak perusahaan dengan sekolah di beberapa perusahaan sudah dilakukan yaitu dengan memberikan tempat bagi siswa sekolah untuk melakukan praktek kerja lapang di perusahaan dan kemudian perusahaan bisa melakukan proses rekrutmen terhadap siswa yang berprestasi baik untuk dijadikan karyawan setelah siswa menyelesaikan praktek kerja dan lulus. Kerjasama ini menguntungkan kedua belah pihak. Dari pihak sekolah dan siswa tentunya bisa memberi kepastian pada kualitas sekolah dan masa depan siswa, sementara dari pihak perusahaan dapat memper”mudah” dan memper”murah” proses pemilihan tenaga kerja baru yang dibutuhkannya.

Perguruan tinggi perlu lebih merapat ke industri. Saat ini terlihat perguruan tinggi masih asik dengan upaya mendapatkan mahasiswa sebanyak mungkin, belum memberi tekanan yang serius pada Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diembannya yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ini yang perlu ditingkatkan oleh perguruan tinggi di Batam. Dengan pencapaian pada tiga kegiatan utama tersebut maka kualitas perguruan tinggi pasti bisa diakui oleh masyarakat luas termasuk masyarakat industri bahwa perguruan tinggi tersebut memiliki sistem pengajaran yang baik dan mampu menghasilkan lulusan yang baik pula. Dengan demikian tentunya pihak industri tidak segan-segan lagi untuk merekrut lulusan dari perguruan tinggi lokal di Batam ini.

Sebagai penutup perlu mengingatkan bahwa Batam sudah mapan untuk menjadi kawasan industri. Suatu industri memerlukan investasi dan tenaga kerja. Saat ini melalui program FTZ merupakan penawaran bagi masuknya investasi ke Batam. Maka secara internal di Batam sendiri sudah harus mempersiapkan dirinya pada salah satunya menyediakan tenaga kerja yang memadai dalam jumlah dan yang berkualitas secara keilmuan dan ketrampilan yang nantinya dibutuhkan oleh industri baru tersebut. Mari kita sambut investasi !

Advertisements

Pendidikan Yang Membangkitkan

Tanggal 20 Mei diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Pada tanggal tersebut tahun 1908, tiga murid Sekolah Kedokteran Jawa (Stovia) yaitu Sutomo, Gunarwan dan Suraja atas saran seorang dokter Jawa Mas Wahidin Sudiro Husodo yang memiliki program pengumpulan dana untuk bantuan beasiswa sekolah bagi putra-putri Jawa mendirikan satu organisasi untuk mempromosikan budaya Jawa yang diberi nama Budi Utomo. Tujuan organisasi yang ingin memajukan nusa dan bangsa melalui pendidikan, pertanian, perdagangan, teknologi, dan kebudayaan ini kemudian membawa Budi Utomo sebagai pelopor bagi pergerakan nasional yang terorganisasi di Indonesia, yang kemudian memompa semangat pemuda pelajar dan mahasiswa lainnya untuk berorganisasi dan memperjuangkan nasionalisme Indonesia. Demikianlah sampai hari ini tanggal berdirinya organisasi Budi Utomo diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.

Kebangkitan nasional di tahun 1908 dimotori oleh mahasiswa kedokteran jaman itu, demikian juga perkembangan selanjutnya sejarah membuktikan bahwa gerakan nasionalis Indonesia jaman sebelum kemerdekaan mendapatkan pemimpin dari kalangan lulusan sekolah di Jawa yang setingkat dengan universitas. Tahun 1912 tiga serangkai Ki Hajar Dewantoro yang pernah mengenyam pendidikan Sekolah Kedokteran Jawa, Douwess Dekker dan Tjipto Mangunkusumo (keduanya dokter lulusan Sekolah Kedokteran Jawa) mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang beraliran nasionalisme Indonesia yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Pada tahun 1922 Ki Hajar Dewantoro mendirikan Perguruan Taman Siswa yang menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada anak didiknya. Sutan Syahrir tamatan AMS Bandung menjadi salah satu pemrakarsa Jong Indonesie atau Pemuda Indonesia yang menjadi himpunan pemuda Nasionalis yang kemudian menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia yang mencetuskan Sumpah Pemuda 1928. Kemudian pada tahun 1929 organisasi Perserikatan Nasional Indonesia didirikan oleh Sukarno yang tamatan Sekolah Teknologi Bandung dan Tjipto Mangunkusumo. Itu hanya beberapa kilasan sejarah yang menunjukkan peran kaum intelektual dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dari uraian di atas ingin ditekankan bagaimana pendidikan bisa berperan besar dalam perkembangan dan kemajuan suatu bangsa dan negara, termasuk Indonesia. Belanda masuk ke Indonesia sejak tahun 1596 dan mulai secara bertahap memperlakukan Indonesia sebagai koloninya di Asia. Setelah lama mengeksploitasi kekayaan alamnya, baru sejak tahun 1900-an pemerintah Belanda mulai berbaik hati mendirikan sekolah untuk kalangan Indonesia. Tahun 1903 ada sekitar 1700 sekolah dengan 190 ribu murid, dan pada tahun 1913 bertambah menjadi 7000 sekolah diantaranya 3500 sekolah desa dengan total 227 ribu murid. Kesempatan yang diberikan ini masih terbatas pada pendidkan dasar sehingga siswa Indonesia yang mampu dan ingin menempuh pendidikan yang lebih tinggi mau tidak mau harus masuk ke sekolah berbahasa Belanda dan pergi ke Belanda untuk melanjutkan belajar di universitas. Pendirian universitas hanya bisa dilakukan bila sebagian besar penduduknya sudah melek huruf. Sebelum tahun 1914 hanya sedikit siswa Indonesia yang berhasil sampai ke universitas di Belanda, namun setelah 1918 jumlahnya meningkat. Pergaulan para siswa dengan siswa Belanda dan pengalaman mereka mendengar, melihat dan mempelajari kebangkitan nasional bangsa-bangsa di Eropa saat itu (pembebasan Polandia, Cekoslowakia, negara-negara Baltik, Irlandia, dan lain-lain) menggugah jiwa nasionalisme pelajar Indonesia ini.

Inilah yang disebut kelompok terdidik yang diperlukan oleh Indonesia saat itu yaitu kelompok orang dalam masyarakat yang mampu mempergunakan intelegensia dan cara berpikir analitiknya baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadinya untuk membawa dirinya dan orang lain ke kondisi yang lebih baik. Dan hasil kerja dan perjuangan para kelompok terdidik ini bisa kita lihat melalui sejarah kemerdekaan Indonesia yang sampai ke titik akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945 saat diproklamasikan kemerdekaan negara Republik Indonesia oleh Sukarno – Hatta.

Pendidikan seperti apa yang bisa mencetak kelompok terdidik ini ? Sekolah sebagai intelectual factory saat ini lebih menekankan pada hasil akhir yaitu nilai. Di masa-masa menjelang ujian nasional bisa dilihat kesibukan menggapai hasil akhir dengan berbagai cara, terutama cara yang instan seperti bimbingan belajar dan try-out. Siswa dipaksa dalam waktu yang singkat untuk latihan soal-soal yang potensial keluar pada ujian nasional. Tidak terlalu diperhatikan apakah siswa mengerti proses problem solving di balik penyelesaian soal tersebut, yang lebih diutamakan adalah bahwa siswa tahu jawaban untuk pertanyaan tersebut, entah dengan hapalan ataupun rumus cepat. Ironisnya lagi persiapan model instan ini bukan hanya dipraktekkan oleh orang tua tetapi terutama oleh sekolah dan guru. Hasil gemilang pendidikan yang model begini adalah siswa yang bisa menjawab pertanyaan atau soal tapi tidak bisa menjabarkan darimana jawaban didapat secara keilmuan. Dan pada dunia pekerjaan sudah bisa terlihat sekarang ini adalah aparat pemerintah yang menjawab persoalan kemasyarakatan dengan solusi yang umum tanpa bisa berinovasi dan mempertimbangkan secara komprehensif dampak yang ditimbulkan oleh solusi tersebut. Akibatnya suatu keputusan bisa diganti dengan keputusan lain hanya dalam hitungan hari dan minggu dari keputusan dibuat, bahkan yang menyedihkan keputusan tersebut hanya sampai pada keputusan tertulis tanpa ada implementasinya karena digugat oleh pihak yang menjadi subyek dari keputusan tersebut. Model pendidikan yang seperti ini tidak bisa dipertahankan karena tidak mendukung terbentuknya kelompok terdidik yang diharapkan.

Bila kita kembali pada apa yang dipesankan oleh UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal I : “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”, ada beberapa poin yang penting untuk diperhatikan agar pendidikan bisa menghasilkan kelompok terdidik seperti tokoh dan bapak bangsa di atas.

Pendidikan harus secara aktif mengembangkan potensi diri anak didik. Pendidikan merupakan proses dua arah. Guru berperan menyampaikan materi belajar kepada anak didik dan memfasilitasi anak didik dalam belajar secara terstruktur. Murid merupakan obyek sekaligus subyek dari proses pendidikan. Sebagai obyek murid menjadi target dalam penguasaan pengetahuan dan ketrampilan yang disampaikan dalam proses pendidikan. Namun bukan sebagai obyek yang diam, bukan seperti robot yang diisi dengan program sehingga bisa menjadi pintar. Anak didik juga merupakan individu yang sedang berkembang menuju kedewasaan, individu yang senang bereksplorasi, dan yang paling penting adalah individu yang unik satu sama lainnya. Masing-masing individu memiliki minat sendiri yang belum tentu sama dengan individu lainnya, memiliki tingkat penerimaan (intelegensi) yang berbeda antar individu, memiliki latar belakang sosial yang berbeda, dan banyak hal lainnya yang berbeda dari individu ke individu. Oleh karena itu pendidikan harus memberi ruang gerak bagi individu untuk belajar sesuai dengan minat, cara dan kecepatan dari masing-masing individu. Anak didik selain mendapatkan materi pelajaran dari guru juga dipandu untuk bebas mendapatkan maupun mengembangkan materi yang dipelajari lewat sumber-sumber lain seperti dari pengamatan terhadap lingkungan hidup anak didik (keluarga, tetangga, masyarakat), dari bacaan yang dibacanya (koran, majalah, artikel di internet, dan lain-lain), dari diskusi dengan sejawat, dan lainnya. Dengan kebebasan ini anak didik akan tertuntun mengembangkan potensi dirinya sehingga menjadi individu yang aktif, kritis, demokratis, bisa bekerjasama, dan percaya diri.

Pendidikan harus memberi bekal yang cukup kepada anak didik untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan dimana mereka tinggal. Jadi pendidikan bukan sekedar membuat anak didik memiliki pengetahuan tetapi juga harus melengkapi anak didik dengan ketrampilan dan kematangan diri yang bisa membantunya dalam menjalani kehidupan. Dalam hal ini pendidikan harus selalu menghubungkan diri dengan lingkungan yang dihadapi anak didik saat itu. Dengan selalu berelasi dengan lingkungan berarti anak didik tertuntun untuk peduli pada isu yang sedang terjadi di dalam masyarakat, bangsa dan negara. Kepedulian ini kemudian digabungkan dengan potensi diri, pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki anak didik akan membawa mereka untuk menganalisa, mengolah dan memikirkan solusi dan inovasi yang bisa dilakukan oleh dirinya maupun oleh masyarakatnya untuk memperoleh masa depan yang lebih baik untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat lingkungannya, dan tentunya bagi bangsa dan negaranya.

Demikianlah untuk mencetak manusia Indonesia yang berkualitas seperti tokoh dan bapak bangsa jaman sebelum kemerdekaan dulu perlu dilakukan perbaikan pada tata cara pendidikan dan pembelajaran pada anak didik di sekolah-sekolah di negeri ini. Bukan hanya mengejar kelulusan 100 persen saja tapi juga membentuk pribadi anak didik yang handal, tahan banting dan peduli dengan kepentingan bangsa dan negara. Dengan demikian bangsa Indonesia bisa mengalami bentuk Kebangkitan Nasional yang terus menerus hari ini dan di masa datang berkat inovasi dan pemikiran jernih dari anak bangsanya.

Pustaka
Bernard H.M. Vlekke. Nusantara: Sejarah Indonesia. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta. 2008.

(versi lengkap dari artikel yang pernah ditayangkan di rubrik OPINI Harian Batam Pos, 19 Mei 2009)