Archives

Orang Tua, Yuk Terlibat Dalam Kegiatan di Sekolah Anak Kita !

Sabtu lalu, 28 Juli 2018, penulis menghadiri acara seminar parenting.  Acara dengan tema “Manajemen Diri Menghadapi Era Digital“ diselenggarakan oleh SMP anak kedua penulis belajar.  Dalam undangan, acara seminar diminta untuk dihadiri bersama oleh orang tua dan siswa.  Pada sesi pertama seminar dipaparkan tentang potensi manfaat teknologi digital dan keperluan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam ber-teknologi digital untuk menyelaraskan dengan konsekuensi hukum UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sesi kedua memaparkan kiat untuk mengelola waktu bagi orang tua dan siswa.  “Time is money” yang diartikan waktu yang terbatas 24 jam sehari harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.  Diperkenalkan 4 kuadran prioritas yang bisa dijadikan rujukan dalam mengelola waktu.  Dengan memetakan daftar kegiatan yang “harus” dan “ingin” dilakukan maka orang tua dan siswa diharapkan dapat menggunakan waktunya untuk hal yang bermanfaat bagi keluarga dan pengembangan dirinya.

kuadran prioritaws

Pada sesi ketiga dilakukan diskusi antara siswa dan orang tua.  Diskusi untuk mensepakati apa yang telah dan akan dilakukan siswa dalam penggunaan gawai dan pengelolaan waktunya.  Terjadi komunikasi apa yang diinginkan siswa dan apa yang diinginkan orang tua terkait dua topik tersebut.  Kedua keinginan tersebut dimusyawarahkan, dimufakatkan, dan dijadikan target improvement yang akan dilaksanakan oleh siswa dan akan dimonitor oleh orang tua dalam 2 bulan ke depan.  Kami: orang tua, siswa, dan guru, mengakhiri seminar dengan rasa sebagai satu tim yang sedang berjuang mewujudkan satu tujuan yang sama.

Selain seminar parenting di atas, sekolah juga telah mengundang orang tua untuk hadir dan berpartisipasi dalam beberapa kegiatan.  Beberapa ajakan sekolah kepada orang tua siswa yang pernah penulis terima antara lain pertemuan orang tua di awal tahun, pertemuan sosialisasi pendidikan karakter di sekolah, mengikut sertakan orang tua untuk terlibat dalam lomba olahraga, mengikut sertakan orang tua untuk menghadiri pentas kelas, pengambilan hasil ujian tengah semester, dan pengambilan raport semester.  Persentase kehadiran orang tua dalam memenuhi undangan sekolah tersebut cukup besar, walaupun pada awalnya masih ada kecurigaan bahwa undangan tersebut adalah untuk meminta sumbangan dari orang tua sama seperti pengalaman “SMPN 07 Kota Semarang Perkuat Pelibatan Orang Tua”  (dalam https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=2479 ).  Namun melihat manfaat yang didapat orang tua dari pertemuan awal membuat antusiasme pada pertemuan selanjutnya semakin meningkat.

Undangan untuk menghadiri pertemuan awal tahun belajar mengajar yang berisi perkenalan dengan wali kelas dan guru pengajar bidang studi, serta penjabaran rencana kegiatan belajar mengajar selama satu tahun ke depan merupakan titik awal kerjasama sekolah dan orang tua.  Bagi penulis sebagai orang tua siswa, mengenal  profil guru dan bertatap muka dengan guru yang akan berinteraksi dengan anak selama satu tahun ke depan merupakan hal yang sangat penting.  Hari itu merupakan milestone dimulainya komunikasi kekeluargaan dan sinergi orang tua dengan guru dalam mendidik anak/siswa. Dari situ pertukaran informasi dua arah terkait anak/siswa di rumah/sekolah bisa berlanjut baik lewat kunjungan orang tua ke sekolah maupun komunikasi telpon dan teks.  Orang tua memberitahu guru tentang ketidak hadiran anaknya, atau sebaliknya wali kelas menanyakan kepada orang tua bila siswa tidak hadir tanpa ada informasi dari orang tua.  Guru mengundang orang tua ke sekolah bila siswa terlibat dalam masalah, atau sebaliknya orang tua berkunjung ke sekolah untuk berkonsultasi dengan guru bila merasakan ada perubahan perilaku pada anaknya.

Komunikasi juga perlu dilakukan untuk menginformasikan program sekolah dan agenda kelas kepada orang tua.  Dengan mengetahui rencana waktu dan kegiatan belajar mengajar di sekolah, sebagai orang tua, penulis bisa merencanakan kegiatan keluarga yang tidak berbenturan dengan kegiatan di sekolah tetapi malah saling mendukung.  Misalnya dengan mengetahui jadual libur anak, penulis bisa mulai mencari kegiatan kreatif yang dapat mengisi waktu libur anak.  Anak sudah dapat didaftarkan untuk mengikuti kegiatan retret religius ataupun kursus singkat multimedia. Kedekatan antara sekolah dan orang tua serta keterbukaan informasi antara keduanya merupakan awal yang menentukan terciptanya keselarasan antara pendidikan siswa di sekolah dengan pendidikan anak di rumah.

Keselarasan antara pendidikan di sekolah dan pendidikan di rumah tidak terbatas pada kegiatan belajar mengajar yang bersifat akademis saja tetapi juga dalam hal pendidikan karakter.  Pendidikan karakter merupakan upaya mengajarkan kepada siswa budaya yang dapat membantu siswa mengembangkan berbagai standar moral, kewarganegaraan, perilaku yang sehat sehingga menjadi pribadi yang secara sosial diterima oleh masyarakatnya.  Karakter terbentuk mulai sejak lahir yaitu pertama melalui proses pengamatan setiap perilaku orang dewasa di dekatnya, kedua dengan menirukan perilaku tersebut menjadi perilaku anak, ketiga melakukan perilaku secara rutin sehingga menjadi kebiasaan, keempat perilaku yang menonjol tersebut menjadi sifat, dan kelima menjadi penampakan diri seseorang atau karakter.

Untuk mendukung pembentukan karakter yang baik pada siswa maka lingkungan tumbuh kembang siswa yaitu sekolah dan keluarga harus memiliki pemahaman dan gerakan yang sama.  Sekolah sudah memiliki program pendidikan karakter yang terstruktur misalnya dengan mengintegrasikan ke dalam mata pelajaran, kegiatan terprogram misalnya mengunjungi teman sakit dan kantin kejujuran, kegiatan pembiasaan misalnya berdoa dan upacara bendera, dan kegiatan keteladanan dari guru dan karyawan misalnya hadir tepat waktu dan meminta maaf.  Nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah ini juga harus ditanamkan di rumah.  Oleh karena itu sekolah melibatkan orang tua untuk mengetahui pendidikan karakter seperti apa yang sedang dilakukan untuk dihidupkan juga di dalam keluarga.  Sekolah mengundang orang tua untuk mensosialisasi program pendidikan karakternya dan juga membagikan buku panduan pendidikan karakter untuk orang tua agar orang tua bisa mempelajari lebih lanjut hal-hal yang diperlukan dari mereka.  Keperluan untuk menjaga kesinambungan antara nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah dan di dalam keluarga.  Sehingga kebiasaan berdoa di sekolah terus berlanjut dilaksanakan di rumah, demikian juga keteladanan untuk meminta maaf yang ditunjukkan oleh guru, juga dilakukan orang tua dan adik/kakak dalam keluarga.  Dengan demikian anak/siswa melihat nilai yang sama ada di sekolah maupun di rumah.  Kebiasaan baik yang berulang-ulang kapanpun dan dimanapun mereka berada ini akan terpatri dalam diri anak/siswa sehingga menjadi karakternya sampai dewasa nanti.

Dari paparan di atas terlihat jelas bagaimana pentingnya sinergitas peran orang tua bersama sekolah dalam membentuk anak/siswa untuk menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas, terampil, berkarakter, dan bertanggung jawab.  Syaratnya hanya satu dan tidak sulit yaitu para orang tua harus mau berpartisipasi.  Selain karena untuk masa depan anak, juga ternyata sinergitas sekolah dan orang tua dalam pendidikan itu merupakan amanat negara yang sudah menjadi program nasional.  Lewat  Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 30 tahun 2017 tentang “Pelibatan Keluarga Pada Penyelenggaraan Pendidikan” disebutkan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.  Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.  Tujuan pendidikan nasional menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang “Pendidikan Nasional” adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Jadi para orang tua dan keluarga jangan ragu lagi untuk ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan di sekolah anaknya.  Pelibatan orang tua di sekolah bagaikan kaki kiri yang melengkapi kaki kanan (sekolah) sehingga seseorang (anak/siswa) dapat berjalan dengan cepat dan selamat menuju lokasi yang dituju.

3 - prinsip kemitraan keluarga

#sahabatkeluarga

Advertisements

BCA : Bertransaksi Cepat Aman

Apa kriteria mu dalam memilih bank ? Bila pertanyaan ini diajukan, maka jawaban saya sudah jelas yaitu yang bisa bertransaksi aman dan cepat. Berdasar pengalaman saya transaksi cepat dan aman ini bisa saya dapat di bank BCA ( www.bca.co.id ).

CEPAT

Kriteria cepat tidaknya transaksi yang umum dipakai adalah bahwa waktu proses antara input sampai menghasilkan output memenuhi harapan pengguna. Contohnya, waktu yang diperlukan mulai saya bertransaksi di sebuah counter ATM di Batam sampai kakak saya di Jakarta meng-sms bahwa transfer sudah masuk ke rekeningnya bisa hanya dalam hitungan di bawah 5 menit. Itu masuk dalam kriteria cepat bagi saya, dan kriteria cepat ini dapat terpenuhi saat bertransaksi lewat bank BCA, tetapi ternyata bahkan BCA memberi lebih dalam kemudahan transaksi dan solusi perbankan.

Buat saya kriteria umum itu sudah standar, sehingga saya memperluas kriteria tersebut dengan memperpanjang lingkupnya yaitu mulai dari saya ingin bertransaksi sampai partner transaksi saya menyatakan transaksi sudah berhasil dilakukan. Beberapa kejadian yang saya alami mendukung kriteria perluasan saya ini. Saat menerima tagihan asuransi ataupun tagihan kartu kredit, saya diminta untuk melakukan pembayaran lewat bank, yaitu bisa lewat teller atau ATM. Yang praktis tentunya ATM. Waktu transaksi mulai dihitung saat saya memutuskan untuk melakukan pembayaran, pergi ke ATM, melakukan transaksi, dan pernyataan transaksi berhasil dilakukan. Keberadaan ATM BCA di banyak lokasi memberi kemudahan dalam pemilihan counter ATM yang bisa digunakan. Counter ATM terdekat dengan rumah saya berada sekitar 3 kilometer yaitu berlokasi di sebuah kompleks SPBU, ini menjadi pilihan bila saya tidak berencana pergi kemana-mana setelahnya. Bila ada rencana pergi dengan keluarga maka transaksi yang ingin dilakukan tidak memerlukan perlakuan khusus karena ATM BCA selalu ada di tiap mall yang saya kunjungi untuk berbelanja seperti di Mega Mall Batam Center, di BCS Mall, di Nagoya Hill Mall, dan di Top 100 Penuin. Dengan keberadaan ATM BCA di banyak lokasi membuat kriteria waktu transaksi yang diperluas versi saya bisa terpenuhi dengan baik oleh BCA karena pada saat saya memutuskan melakukan pembayaran segera saat itu pula saya bisa mengunjungi counter ATM BCA terdekat.

Satu lagi kelebihan BCA dalam transaksi mudah dan cepat yang sering saya gunakan adalah produk perbankan “week-end banking”. Kesibukan di hari kerja Senin sampai Jumat membatasi saya untuk dapat pergi ke bank terutama untuk keperluan setor tunai karena ada pemasukan dalam bentuk uang tunai selama seminggu berjalan. Layanan “week-end banking” mengurangi peliknya perencanaan saya untuk penyetoran dan sekaligus membuat saya bisa memfokuskan hari kerja untuk bekerja. Sabtu Minggu sebagai hari bank dan rekreasi. Lokasi “week-end banking” yang strategis membuat kegiatan ke bank bisa dilakukan sebagai rangkaian rutinitas, tidak perlu pengkhususan. Kegiatan ke bank bisa dilakukan sambil lalu dengan pergi berbelanja mingguan ke pasar basah maupun ke mall, ataupun digabungkan sambil lalu setelah ibadat di gereja.

Kemudahan dan kecepatan transaksi yang diberikan bank BCA ternyata bukan hanya dalam hal transaksi uang masuk dan uang keluar yang prosesnya lebih terotomatisasi, tetapi juga saya alami dalam pelayanan kredit pemilikan rumah yang banyak melibatkan individu staf BCA. Akhir tahun 2011 saya mengajukan kredit untuk pembiayaan pemilikan rumah sebagai perwujudan rencana masa depan keluarga saya. Mulai proses pengumpulan informasi, pemasukan data, pemrosesan, valuasi aset, penyampaian hasil proses, dan penandatanganan kontrak dilakukan relatif cepat hanya dalam hitungan 1 bulan 2 minggu, itupun melewati libur Natal dan Tahun Baru. Proaktif staf BCA dalam mengkomunikasikan persyaratan dan follow-up terhadap kekurangan data amat sangat membantu dalam kecepatan proses persetujuan kredit ini. Ternyata tidak sulit untuk mendapatkan fasilitas kredit yang berbunga rendah di BCA. Dengan mendapat bunga yang rendah maka tentunya saya bisa memiliki kelebihan walaupun relatif kecil sebagai bagian yang bisa saya tabung sebagai rintisan dalam mewujudkan kebebasan finansial bagi keluarga saya.

AMAN

Sejak awal menjadi nasabah BCA di tahun 1994 sampai sekarang, saya belum pernah mengalami hal-hal yang mengganggu aspek keamanan bertransaksi. Semua transaksi yang pernah dilakukan berjalan dengan baik dan berhasil dilakukan, walaupun ada beberapa kegagalan transaksi terjadi namun bisa diselesaikan dengan baik, aman, dan happy ending.

Satu pengalaman gagal namun berakhir dengan bagus terjadi saat melakukan setor uang lewat ATM setor tunai pada satu hari Minggu. Mesin ATM berhasil menghitung uang, tetapi saat proses transaksi tiba-tiba komputer hang dan re-start. Istri saya segera menghubungi call center dan diminta beberapa informasi tentang jumlah uang yang ditransaksi, satuan uang yang digunakan, jam transaksi dan lain-lain, dan untuk sementara kartu ATM diblokir untuk menghindari penyalahgunaan. Kemudian dijanjikan akan datang teknisi, dan benar saja tidak berapa lama seorang teknisi datang dan memverifikasi isi ATM tersebut. Keesokan harinya istri saya menemui CS BCA dan untuk mengisi beberapa formulir, dan beberapa hari kemudian ditelpon bahwa uang yang termakan mesin ATM sudah tertransfer di rekening istri saya.

Satu peristiwa gagal lain yang bisa diselesaikan dengan menyenangkan dan aman adalah saat kartu ATM istri saya tertelan di Pondok Indah Mall. Saat itu kami sekeluarga sedang liburan di Jakarta. Sesaat tertelan, istri saya menelpon ke call center untuk informasi dan memblokir kartu ATM tersebut. Keesokan harinya kami jalan-jalan ke Mall Taman Anggrek, dan kebetulan lewat di bank BCA cabang. Kami coba mampir untuk menanyakan apakah bisa memproses kartu ATM yang tertelan tersebut, ternyata menurut staf CS BCA yang ramah bahwa walaupun asal pembuatannya di Batam, istri saya dapat memperbaharui kartu ATM baru di Jakarta. Kami sangat surprise dan unjuk jempol kepada BCA. Dengan kartu baru ini kami dapat melanjutkan liburan dengan lebih lapang hati.

Itulah pengalaman saya dan keluarga bertransaksi melalui Bank BCA. Transaksi bisa dilakukan dengan mudah, cepat dan aman karena fasilitas yang sempurna dan sumber daya manusia yang profesional. Walaupun ada beberapa kegagalan namun bisa diselesaikan juga dengan mudah, aman dan cepat sehingga membuat nasabah tenang dan senang. Bila saya memerlukan informasi mengenai transaksi, saya bisa mudah mendapatkannya dengan mengakses internet di www.bca.co.id , semua informasi ada di sana disajikan dengan bahasa yang sederhana. Ternyata pengalaman tidak pernah bohong, memang benar untuk bertransaksi cepat dan aman itu hanya ada di bank BCA karena BCA “truly Bertransaksi Cepat Aman”.

bca sip lah

Buat Yang Punya Printer Canon Pixma

Problem 1: The Ink Absorber is Full

Type : 1880 atau 1980

Solusi:

Waktu problem dan printer masih ON, tekan terus tombol power on/off sambil matikan dari power listriknya. hitung 5 detik terus hidupkan lagi power listriknya. Sampai saat ini kamu masih terus tekan tombol power on/off. Nah sekarang baru lepaskan. Dan nyalakan printer normal kembali.

Hai Pemuda, Ayo Kita Proklamasi Lagi!

Organisasi Budi Utomo, 20 Mei 1908. Budi Utomo merupakan organisasi fomal pemuda pertama di tanah air yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kepedulian terhadap penderitaan dan pendidikan rakyat memacu tiga murid Sekolah Kedokteran Jawa (Stovia) yaitu Sutomo, Gunarwan dan Suraja untuk berbuat sesuatu terhadap rakyat. Mereka berinisiatif untuk secara mandiri menolong rakyat mereka tanpa menunggu dan menuntut pada pamong praja penerus kebijakan pemerintah Belanda yang lamban dalam bergerak. Kemunculan Budi Utomo kemudian memompa semangat pemuda pelajar dan mahasiswa lainnya untuk berorganisasi dan memperjuangkan nasionalisme Indonesia yang ditandai dengan munculnya banyak organisasi serupa. Demikianlah sampai hari ini tanggal berdirinya organisasi Budi Utomo diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.

Peristiwa Ikada, 19 September 1945. Saat itu ribuan massa rakyat datang memenuhi lapangan Ikada dengan tujuan mendengarkan pidato dari pimpinan Negara Republik Indonesia yang belum genap sebulan diproklamasikan. Kehadiran massa rakyat dijaga ketat oleh tentara Jepang bersenjata yang walaupun sudah mengaku kalah dari sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 namun masih bercokol di Indonesia untuk menjaga status quo. Kondisi saat itu memanas karena sebagian massa yang hadir adalah juga kaum pemuda yang pernah tergabung dalam gerakan militer Heiho dan PETA, dan semi militer Seinendan dan Keibodan. Mereka berkeinginan untuk secepatnya para pemimpin RI melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang dan segera membentuk kesatuan tentara nasional. Mengetahui kondisi tersebut dan untuk menghindari pertumpahan darah yang kemungkinan lebih banyak korban di pihak rakyat, Presiden Soekarno menghadiri rapat tersebut. Presiden Soekarno menyampaikan pesan singkat agar rakyat menaruh kepercayaan kepada pemimpin mereka, dan meminta rakyat untuk bubar dengan tenang kembali ke rumah masing-masing. Rakyat yang menghormati pemimpinnya mematuhi permintaan tersebut dan bertahap meninggalkan lapangan Ikada. Kerusuhan dan pertumpahan darah yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Peristiwa Serangan Umum, 1 Maret 1949. Pukul 6 pagi, sirene di menara pasar Beringharjo berbunyi nyaring. Biasanya setelah bunyi sirene pertanda berakhirnya jam malam, masyarakat segera memulai aktivitas rutinnya keluar rumah. Namun hari itu berbeda karena pagi dimulai dengan suara tembakan dan ledakan dari Tentara Nasional Indonesia yang melancarkan serangan kepada instalasi vital pasukan Belanda yang sedang menduduki kota Jogya sebagai hasil dari Agresi Militer yang kedua. Dalam waktu singkat hampir seluruh sudut kota diduduki TNI, sebagian penduduk mulai mengibarkan bendera merah putih, dan rakyat menyediakan makan untuk pasukan TNI. Serangan Umum yang dipimpin oleh Komandan Wehrkreise III (kota Jogya) Letkol Soeharto mencapai sukses karena dukungan 2000 tentaranya dan juga karena dukungan seluruh pasukan komando lain di sekitar Jogya, serta rakyat. Kepemimpinan komandan yang selalu berada di tengah-tengah pasukan dalam kondisi apapun membuat moril pasukan tetap tinggi dan pasukan memiliki kepercayaan bahwa tiap kesulitan akan bisa diatasi bersama.

Ketiga peristiwa di atas merupakan cukilan kejadian sebelum, sesaat dan setelah peristiwa Proklamas Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Kemerdekaan merupakan perjalanan panjang yang harus ditempuh oleh bangsa Indonesia, bukan hanya sebelum dan saat meraihnya, namun juga setelah memproklamasikan kemerdekaannya. Kemerdekaan bangsa bukan diraih dengan instant, bukan diraih tanpa kerja keras, bukan diraih tanpa perjuangan, namun diraih dengan kesabaran, kecerdasan, kerja keras, pengorbanan darah, jiwa dan raga. Pengorbanan oleh seluruh bangsa, pengorbanan pemimpin, pengorbanan rakyat, pengorbanan orang terpelajar, pengorbanan tentara, pengorbanan pemuda.

Di alam setelah 65 tahun merdeka, mustinya tidak sulit untuk menemukan pengorbanan-pengorbanan anak bangsa yang bekerja untuk negeri tercinta Indonesia. Para pemimpin negara tentu saja tugasnya mempimpin dan membawa negeri dan bangsa ini menuju cita-cita kemerdekaan: persatuan Indonesia dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Para anggota legislatif sebagai kepanjangan tangan dari rakyat diberi wewenang untuk menyuarakan aspirasi rakyat, singkatnya berjuang untuk kepentingan rakyat makanya tidak bisa dipungkiri lagi kalau kita bisa menemukan jiwa pengorbanan pada jabatan ini. Pegawai negeri yang dimaksudkan sebagai pelayan masyarakat tentunya juga memiliki aroma pengorbanan. Dan banyak profesi dan pekerjaan lain yang tujuannya untuk memajukan negara dan bangsa yang didalamnya kita bisa menemukan makna pengorbanan anak bangsa untuk negerinya.

Namun … ternyata … jauh asap dari api. Tak seperti yang diharapkan. Nilai pengorbanan, setelah 65 tahun di alam kemerdekaan, semakin menyempit pada kepentingan pribadi dan golongan. Jabatan-jabatan yang selayaknya memiliki nilai-nilai luhur bekerja untuk bangsa dan negara sekarang telah dipersempit bekerja untuk kepentingan pribadi dan golongan. Semakin sedikit yang mau bekerja setulusnya untuk kemajuan bangsa dan negeri ini, dan semakin terpinggir mereka-mereka itu. Tapi jangan menyerah, kita masih bisa melihat ke sejarah. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, itu kata Bung Karno, dan itu layak kita kerjakan sekarang. Ya, kembali ke sejarah. Lihat peristiwa Budi Utomo, siapa yang memulai perjuangan untuk berbuat sesuatu untuk rakyat kecil ? PEMUDA. KAUM CERDIK PANDAI.

Mari kita mulai lagi siklus perjuangan untuk meraih kemerdekaan Republik Indonesia kembali untuk mengembalikan cita-cita luhur kemerdekaan bangsa ini. Sekali lagi melihat kembali ke sejarah, ini bukan perjalanan instant tetapi ini perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran, kerjasama, kepemimpinan dan pengorbanan yang tulus. Mari pemuda dan cerdik pandai, kita bangun lagi Budi Utomo … mudah-mudahan pada waktunya kita bisa kembali memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, dan kemudian merebut kembali cita-cita luhur bangsa lewat serangan umum dan jangan terulang lagi keadaan kemerdekaan seperti hari ini. SELAMAT BERJUANG.

(tulisan yang sama ada juga di: Kompasiana )

PEMIMPIN YANG MEMBANGKITKAN

menyambut hari Kebangkitan Nasional dan Pemilu Kepala Daerah Kepri

Peristiwa Ikada, 19 September 1945. Saat itu ribuan massa rakyat datang memenuhi lapangan Ikada dengan tujuan mendengarkan pidato dari pimpinan Negara Republik Indonesia yang belum genap sebulan diproklamasikan. Kehadiran massa rakyat dijaga ketat oleh tentara Jepang bersenjata yang walaupun sudah mengaku kalah dari sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945 namun masih bercokol di Indonesia untuk menjaga status quo. Kondisi saat itu memanas karena sebagian massa yang hadir adalah juga kaum pemuda yang pernah tergabung dalam gerakan militer Heiho dan PETA, dan semi militer Seinendan dan Keibodan. Mereka berkeinginan untuk secepatnya para pemimpin RI melakukan perebutan kekuasaan dari tangan Jepang dan segera membentuk kesatuan tentara nasional. Mengetahui kondisi tersebut dan untuk menghindari pertumpahan darah yang kemungkinan lebih banyak korban di pihak rakyat, Presiden Soekarno menghadiri rapat tersebut. Presiden Soekarno menyampaikan pesan singkat agar rakyat menaruh kepercayaan kepada pemimpin mereka, dan meminta rakyat untuk bubar dengan tenang kembali ke rumah masing-masing. Rakyat yang menghormati pemimpinnya mematuhi permintaan tersebut dan bertahap meninggalkan lapangan Ikada. Kerusuhan dan pertumpahan darah yang dikhawatirkan tidak terjadi.

Peristiwa Serangan Umum, 1 Maret 1949. Pukul 6 pagi, sirene di menara pasar Beringharjo berbunyi nyaring. Biasanya setelah bunyi sirene pertanda berakhirnya jam malam, masyarakat segera memulai aktivitas rutinnya keluar rumah. Namun hari itu berbeda karena pagi dimulai dengan suara tembakan dan ledakan dari Tentara Nasional Indonesia yang melancarkan serangan kepada instalasi vital pasukan Belanda. Dalam waktu singkat hampir seluruh sudut kota diduduki TNI, sebagian penduduk mulai mengibarkan bendera merah putih, dan rakyat menyediakan makan untuk pasukan TNI. Serangan Umum yang dipimpin oleh Komandan Wehrkreise III (kota Jogya) Letkol Soeharto mencapai sukses karena dukungan 2000 tentaranya dan juga karena dukungan seluruh pasukan komando lain di sekitar Jogya, serta rakyat. Kepemimpinan komandan yang selalu berada di tengah-tengah pasukan dalam kondisi apapun membuat moril pasukan tetap tinggi dan pasukan memiliki kepercayaan bahwa tiap kesulitan akan bisa diatasi bersama.

Organisasi Budi Utomo, 20 Mei 1908. Budi Utomo merupakan organisasi fomal pemuda pertama di tanah air yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kepedulian terhadap penderitaan dan pendidikan rakyat memacu tiga murid Sekolah Kedokteran Jawa (Stovia) yaitu Sutomo, Gunarwan dan Suraja untuk berbuat sesuatu terhadap rakyat. Mereka berinisiatif untuk secara mandiri menolong rakyat mereka tanpa menunggu dan menuntut pada pamong praja penerus kebijakan pemerintah Belanda yang lamban dalam bergerak. Kemunculan Budi Utomo kemudian memompa semangat pemuda pelajar dan mahasiswa lainnya untuk berorganisasi dan memperjuangkan nasionalisme Indonesia yang ditandai dengan munculnya banyak organisasi serupa. Demikianlah sampai hari ini tanggal berdirinya organisasi Budi Utomo diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional.

PEMILUKADA KEPRI

Tiga kepemimpinan nasional dalam sejarah di atas berharga untuk dihubungkan dengan peristiwa yang beberapa hari lagi akan berlaku di provinsi Kepulauan Riau yaitu pemilihan umum kepala daerah. Setiap warga Kepri yang memiliki hak memilih pasti sedang menimbang-nimbang siapa kandidat yang layak dia pilih pada tanggal 26 Mei 2010 nanti. Dari tiga pasang calon siapakah yang terbaik untuk dipilih, dengan harapan bahwa dengan tambahan satu suara dari dirinya bisa memimpin provinsi Kepri selama 5 tahun mendatang.
Dari tiga acuan sejarah di atas dapatlah dicoba untuk melihat dari 4 aspek yaitu: pemimpin yang dihormati dan berwibawa, pemimpin dengan “people in mind”, pemimpin yang menganut “servant leadership”, dan pemimpin yang membangkitkan.

Pemimpin yang dihormati dan berwibawa baik secara personal, sikap, dan perbuatan sehingga menanamkan kepercayaan pada setiap diri rakyatnya. Kepercayaan membuat suara pemimpin dapat menenangkan dan mendamaikan rakyat yang dipimpinnya. Untuk menjadi pemimpin yang dihormati tentunya harus memiliki kapasitas tinggi dalam moral, pengetahuan, kepedulian pada sesama, tidak memperkaya diri sendiri dan keluarga, lurus dalam perbuatan, dan banyak kriteria baik lain yang dituntut secara moral dan etika.

Pemimpin dengan “people in mind” adalah pemimpin yang selalu ada di tengah-tengah rakyatnya baik secara fisik maupun pikiran di setiap kondisi baik susah maupun malang sehingga setiap keputusan yang dibuat merupakan pengejawantahan dari usaha untuk memajukan kehidupan rakyat dan usaha yang memungkinkan rakyat berkontribusi dalam pembangunan baik dalam ikut serta maupun menikmati hasil pembangunan.

Pemimpin yang bisa merasakan kesenangan dan kesusahan rakyatnya, yaitu pemimpin yang menganut paham Servant Leadership (pemimpin yang melayani) yang memenuhi kriteria seperti yang dinyatakan oleh Chanakya dalam bukunya Arthashastra “the leader shall consider as good, not what pleases himself but what pleases his followers … the leader is a paid servant and enjoys the resources of the state together with the people.” Pemimpin yang menyadari bahwa dia ada di posisi pemimpin karena dia dipilih oleh rakyat, dan digaji oleh rakyat sebagai pelaksana pembangunan dan pemerintahan.

Pemimpin yang selalu membangkitkan semangat rakyat sehingga segala gerak-gerik dan usaha yang dilakukannya dapat memberi inspirasi kepada rakyat terutama kaum mudanya untuk secara aktif dan mandiri ikut serta memikirkan lingkungannya dan bergerak aktif dan mandiri sebagai partner pemerintah membangun lingkungannya menjadi lebih baik.

Akhirnya, selamat menimbang-nimbang dan selamat memilih. Semoga terpilih Pemimpin Yang Membangkitkan.

Pustaka:
Dr. A. Sobana H. Peristiwa Ikada: Sikap Pemuda dan Makna Peristiwa. Museum Perjuangan, Jakarta, 2005.
Julius Poor. Doorstoot Naar Djokja. Penerbit Kompas, 2009.
Wikipedia. http://www.wikipedia.org .

MENGAMATI 2 FENOMENA DALAM MASYARAKAT AKIBAT MURAHNYA TARIF PULSA TELEPON SELULER

turun naik


Tit. Tit. Tit .Handphone Bu Anas berbunyi, bunyi khas bila ada SMS masuk. Kami yang sedang mengobrol, tersela sebentar. Bu Anas mengambil handphone dari tas-nya dan membuka. “Bue, tolongke kirimkan pulsa 20 rb aja. Segera ya. Bon dulu. Makasih.” Itulah kiriman SMS dari pelanggan Bu Anas. Bu Anas menerima pembelian pulsa untuk semua provider dari teman-temannya, dari berbagai kalangan mulai dari teman-teman guru, wali murid, sampai teman-teman selingkungan rumahnya.

Di usianya yang 65 tahun, Bu Anas memang masih aktif. Selain mengajar di sebuah sekolah tingkat SD dan SMP untuk pelajaran budaya, beliau juga terlibat aktif di kegiatan gereja. Jadi tidak heran bila kenalannya amat banyak. Melihat dari kebutuahan lingkungan pergaulannya inilah maka Bu Anas terpikir untuk menjual pulsa seluler. Awalnya beliau tidak tertarik dengan tawaran adiknya yang mengajaknya untuk berbisnis jual pulsa. Adiknya tinggal di Jakarta dan sedang berbisnis jual pulsa elektronik. Adiknya menawarkan Bu Anas untuk sambil mengisi waktu mendapatkan penghasilan tambahan dari bisnis ini. Awalnya Bu Anas tidak tertarik, namun kemudian mengamati bahwa teman-teman gurunya sering kali kehabisan pulsa dan kesulitan untuk bisa mengisi kembali selain karena waktu kerja, juga karena lokasi penjualan voucher yang jauh dari lokasi sekolah. Jadi bila ada yang perlu cepat, harus pinjam nomor teman lain.

Sudah setahun lebih usaha jual pulsa berjalan. Tiap bulan terjadi peningkatan penjualan, selain karena pelanggan meningkat juga pemakaian dari masing-masing pelanggannya jadi meningkat. Awalnya omset Bu Anas berkisar 500 ribu sebulan, kini sudah rata-rata satu juta dua ratus ribu rupiah. Menurut Bu Anas, awal-awal dulu penggunaan telepon rata-rata pelanggannya digunakan untuk keperluan pribadi saja, dan untuk hal-hal yang penting saja. “Kan masih mahal tuh pulsa waktu itu”, tambah Bu Anas. Tetapi belakangan ini beberapa pelanggan terutama pelanggan dari lingkungan sekolahnya memanfaatkan telepon mereka untuk bisnis tambahannya. Ada yang memasarkan produk MLM lewat handphone-nya, ada yang memasarkan produk asuransi, “pokoknya mereka sudah pakai handphone mereka untuk bisnis, dan hasilnya bisa terlihat kan mereka beli pulsa juga makin banyak dari saya.”. Pulsa yang murah membuat memulai bisnis juga menjadi murah, sehingga setiap orang yang mau bisa memulai bisnis sesuai pilihannya termasuk para guru tersebut.

Yang lebih menarik lagi menurut Bu Anas adalah tingkat penjualan pulsa nya di lingkungan rumahnya yang besar didominasi oleh pekerja rumah tangga. “Wah, mereka itu jor-joran sekali menelpon, sambil mengajak jalan anak asuhnya keliling kompleks, itu handphone tidak mati-mati. Mungkin itulah dampak murahnya pulsa telpon ya, jadi biaya datang ke rumah temannya atau mungkin ke keluarga mereka di kampung sama dengan kalo mereka ngobrol lewat handphone. He..he.. saya sih senang aja kan penjualan pulsa saya juga jadi meningkat”, ujar Bu Anas sambil tertawa.

Kedua hal di atas merupakan contoh fenomena sosial yang timbul sebagai dampak dari semakin murahnya tarif pulsa telepon seluler. Turunnya tarif dan turunnya harga telepon seluler membuat keduanya makin terjangkau oleh masyarakat berstrata ekonomi bawah dan tentunya akan memberi dampak bagi kehidupan mereka. Kedua hal ini akan dilihat lebih detail dengan alat analisa yang sedikit ilmiah di bawah ini.

Penjelasan Fenomena Banyak Yang Mulai Berbisnis Karena Murahnya Pulsa

Kasus guru yang mulai berbisnis didorong oleh pulsa murah di atas bila dilihat secara agak ilmiah adalah fenomena yang cukup masuk akal. Fenomena ini akan dilihat dengan Model Lima Kekuatan (Five Forces Model) dari Michael Porter. Dalam model ini ada dua kekuatan yang dipengaruhi oleh murahnya tarif pulsa yaitu kekuatan masuknya pendatang baru dalam industri dan kekuatan ancaman produk pengganti. Semakin kecil penghalang dalam industri (seperti modal yang kecil untuk memulai bisnis, hanya diperlukan kemampuan atau skill yang tidak terlalu tinggi untuk bisa memulai bisnis) maka akan semakin banyak calon pendatang baru yang masuk ke dalam industri tersebut, dan munculnya produk yang memiliki fungsi sama tapi dengan harga yang lebih murah atau lebih mudah digunakan maka akan segera menggantikan produk yang ada sebelumnya Demikianlah peran yang dibawa oleh fenomena semakin murahnya harga pulsa telepon seluler membuat penghalang bagi beberapa bisnis menjadi semakin berkurang dan menjadi alat/sarana alternatif untuk berbisnis.

Contohnya dalam bidang pemasaran yang dulunya dianggap sebagai pekerjaan yang membutuhkan waktu khusus (untuk bertemu calon pembeli secara face-to-face di suatu tempat dan waktu sesuai perjanjian) kini sudah terpatahkan oleh teknologi seluler yang membuat tenaga marketing bisa menghubungi calon pembeli kapan saja dan karena biaya pulsa yang murah membuat tenaga marketing bisa berbicara panjang lebar lewat telepon. Demikian juga calon pembeli bisa secara maksimal memanfaatkan momen tersebut tanpa terganggu karena harus berhadapan langsung dengan tenaga marketingnya.

Demikian juga bahwa untuk memasarkan suatu produk tenaga marketing perlu menyiapkan alat pemasaran (brosur, pamflet) dan biaya yang cukup (kendaraan, transportasi, fax, kunjungan), itupun sekarang terpatahkan karena bisa digantikan dengan sarana yang lebih efisien dan efektif yaitu melalui komunikasi handphone. Efisien karena segala informasi yang bisa disampaikan lewat hubungan tatap muka juga bisa disampaikan lewat komunikasi handphone, tetapi dengan biaya dan waktu yang lebih sedikit.

Dari uraian di atas tersirat bahwa semakin murahnya tarif pulsa telepon seluler mengurangi kesenjangan dan batasan bagi masyarakat bawah untuk masuk ke lingkaran bisnis yang ada di masyarakat. Peluang ini tentunya memberi alternatif potensi bagi mereka untuk meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Penjelasan Fenomena Tenaga Rumah Tangga yang Konsumtif Pulsa

Tenaga kerja rumah tangga merupakan pekerja sektor informal yang cukup banyak jumlahnya. Bila diamati di beberapa kota besar maka pola migasi penduduk desa ke kota salah satunya yang mayoritas adalah untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini. Mereka datang ke kota secara musiman dan sendiri, dengan meninggalkan keluarga kecil dan keluarga besarnya di desa. Mungkin pula anggota keluarga kecil atau besarnya juga tersebar di kota-kota lain untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan mereka. Jadi selama satu – dua tahun ke depan mereka akan hidup terpisah, dan kesempatan bertemu hanya singkat ada pada saat tertentu saja seperti saat mereka pulang kampung di hari raya lebaran.

Adanya telepon seluler dengan tarif murah mengurangi kesenjangan komunikasi antara pekerja rumah tangga dengan keluarga mereka di kampung. Mereka mendapat sarana tambahan untuk berkomunikasi secara lebih sering dan intensif. Kondisi ini secara positif membuat mereka walaupun terpisahkan oleh jarak tetap bisa berkomunikasi, berinformasi dan saling memperhatikan satu dan lainnya. Secara psikologis, keadaan ini memberi ketenangan baik bagi pekerja rumah tangga yang meninggalkan keluarga (pasangan dan anak di kampung) maupun bagi keluarga di kampung karena mereka mengetahui bahwa orang yang mereka cintai dalam keadaan sehat waalfiat adanya. Dengan makin seringnya komunikasi maka mereka dapat mempertahankan hubungan emosional antar mereka.

Jadi fenomena ini tidak bisa semata hanya dilihat sebagai memberi dampak konsumtif tapi juga harus dilihat sebagai dampak sosial yang secara positif lebih mempererat hubungan antara keluarga pekerja rumah tangga yang terpisahkan oleh ruang dan waktu. Dampak konsumtif terimbangi oleh dampak sosial yang berupa keutuhan keluarga yang secara lokasi berjauhan.

Demikianlah dalam kasus ini pun tersirat bahwa semakin murahnya tarif pulsa telepon seluler mengurangi kesenjangan komunikasi bagi keluarga ekonomi bawah yang tinggal berjauhan. Komunikasi yang lancar dengan keluarga membuat pekerja rumah tangga dapat lebih berkonsentrasi pada pekerjaannya, dan kondisi ini tentunya membuat mereka jadi lebih berprestasi dalam bekerja. Dengan tetap bisa mempertahankan pekerjaannya itu maka mereka tetap dapat menjadi sumber penghasilan yang menghidupi keluarga mereka di kampung dan meraih cita-cita mereka di masa depan.

Jadi ternyata murahnya tarif pulsa telekomunikasi seluler yang diberlakukan oleh provider telekomunikasi seluler seperti XL memiliki dampak sosial yang cukup berarti bagi masyarakat kelas bawah. Tarif yang murah memberi kesempatan yang sama bagi masyarakat kelas bawah untuk turut menikmati kesempatan berbisnis dan bekerja yang ada dalam masyarakat. Kondisi ini berarti memberi kesempatan yang lebih dari sebelumnya bagi masyarakat kelas bawah untuk memperbaiki kualitas hidupnya.

SOFWARE ENGINEER SEBAGAI SEBUAH PROFESI

Oleh Julius Hermawan (dipindahkan dari http://www.geocitites.com/hermanjul)

Apa yang dimaksud dengan Profesi?

Profesi adalah suatu bentuk pekerjaan yang mengharuskan pelakunya memiliki pengetahuan tertentu yang diperoleh melalui pendidikan formal dan dan ketrampilan tertentu yang didapat melalui pengalaman kerja pada orang yang terlebih dahulu menguasai ketrampilan tersebut, dan terus memperbaharui ketrampilannya sesuai dengan perkembangan teknologi.

Tidak semua pekerjaan adalah profesi, contohnya pekerjaan staf administrasi tidak masuk dalam golongan profesi karena untuk bekerja sebagai staf administrasi seseorang bisa dari berbagai latar belakang pendidikan, pengetahuan dan pengalaman, sedangkan akuntan merupakan profesi karena seseorang yang bekerja sebagai akuntan haruslah berpendidikan akuntansi dan memiliki pengalaman kerja beberapa tahun di kantor akuntan.

Pada profesi yang melibatkan hajat hidup orang banyak, gelar keprofesionalan tersebut harus didapatkan melalui pengujian oleh organisasi profesional yang diakui secara nasional atau internasional, dan hanya kandidat yang lulus yang berhak menyandang gelar profesi ini dan melakukan pekerjaan untuk profesi ini. Contoh yang paling jelas adalah profesi dokter (kesehatan manusia) di Indonesia, hanya sarjana kedokteran yang menjadi anggota dari IDI boleh melakukan praktek kedokterannya.

Organisasi keprofesian ini mengatur keanggotaan, membuat kebijakan etika profesi yang harus diikuti oleh semua anggota, memberi sanksi bagi anggota yang melanggar etika profesi, dan membantu anggota untuk dapat terus memperbaharui pengetahuannya sesuai dengan perkembangan teknologi.

Apakah Software Engineer sebuah profesi?

Bila dimasukkan dalam definisi profesi di atas, Software Engineer bisa digolongkan sebagai sebuah profesi. Deskripsi kerja dari seorang Software Engineer adalah melakukan aktivitas engineering (analisa, rekayasa, spesifikasi, implementasi, dan validasi) untuk menghasilkan produk berupa perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah pada berbagai bidang.

Untuk bisa melaksanakan tugas sebagai Software Engineer seseorang harus memiliki latar belakang pendidikan tertentu yang memberikan bekal untuk melakukan kerja dengan baik dan benar. Selain itu setelah lulus dari pendidikan, seorang Software Engineer juga dituntut untuk memiliki pengalaman cukup dalam pekerjaan ini melalui keikutsertaannya sebagai pekerja magang dalam proyek. Software Engineer juga harus terus memperbaharui pengetahuan dan ketrampilannya sesuai dengan perkembangan teknologi komputer yang cepat.

Profesi Software Engineer sejauh ini belum memiliki organisasi profesi. Organisasi profesi Software Engineer yang mungkin diperlukan adalah tidak diperlukan untuk menyeleksi keanggotaannya, namun yang penting adalah bisa memberikan kualifikasi yang jelas tentang apa Software Engineering itu, siapa Software Engineer itu, dan membantu anggotanya untuk memperbaharui pengetahuan dan ketrampilannya. Namun belakangan ini pengesahan profesi Software Engineer oleh organisasi profesi mulai dirasakan perlu karena banyak bidang kerja profesi ini yang bersinggungan dengan hajat hidup orang banyak.

Apa karakteristik yang dimiliki Software Engineer sebagai profesi?

• Kompetensi, yaitu suatu sifat yang selalu menuntut profesional Software Engineer untuk memperdalam dan memperbaharui pengetahuan dan ketrampilannya sesuai dengan tuntutan profesinya. Seorang Software Engineer tidak boleh berhenti belajar karena dunia software engineering terus berkembang dan berubah dengan cepat. Profesi Software Engineer tidak melekat seumur hidup, hanya sepanjang seseorang terus mengikuti tuntutan profesinya. Dan ini sesuai dengan etika profesi yang berlaku umum bahwa hanya profesional yang berkompeten yang berhak melakukan pekerjaan di bidangnya.
• Tanggung jawab pribadi: yaitu kesadaran untuk membebankan hasil pekerjaannya sebagai tanggung jawab pribadi. Seorang Software Engineer untuk itu harus mengenal kemampuan dirinya, sehingga bisa mempertanggungjawabkan semua pekerjaan yang dilakukannya secara moral: selalu merekomendasikan apa adanya, melakukan pekerjaan yang menjadi bidang kompetensinya, dan mendahulukan kepentingan umum.

Mengutip Tanri Abeng, untuk menjadi profesional harus memenuhi 3 syarat yaitu:
1. menguasai ilmu secara mendalam dalam bidangnya,
2. mampu mengkonversikan ilmu menjadi ketrampilan, dan
3. selalu berpikir positif dengan menjunjung tinggi etika dan integritas profesi.

Pendidikan formal apa yang diperlukan seorang Software Engineer?

Kemampuan yang perlu dimiliki seorang Software Engineer supaya dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara baik dan benar adalah:

• metodologi pengembangan perangkat lunak: analisa masalah, perancangan sistem yang ada dan yang akan dibangun, meng-kode-kan disain menjadi perangkat lunak.
• Mengelola kelompok kerja
• Mengelola sumber daya: merencanakan, mengadakan, mengawasi, dan mengoptimalkan pemanfaatannya
• Komunikasi

Untuk itu berarti seorang Software Engineer harus memiliki pendidikan formal tingkat sarjana yang merupakan gabungan dari bidang:

 Computer science: terutama dalam perangkat keras
 Engineering: terutama dalam pendekatan/metode analisa pemecahan masalah
 Industrial engineering: terutama dalam optimasi proses dan sumber daya
 Management: terutama dalam mengelola manusia dan kelompok kerja, manajemen proyek
 Social science: terutama dalam pendekatan manusia dan komunikasi

Dari uraian di atas jelas bahwa profesi Software Engineer tidak semata mengandalkan pengetahuan dalam ilmu komputer.

Rekomendasi untuk pengembangan profesi Software Engineer di Indonesia.

Di Indonesia profesi Software Engineer belum terdefinisikan, masih dicampur adukkan dengan profesi lainnya. Di dalam pengembangan perangkat lunak dikenal 2 aktor yang terlibat yaitu System Analyst dan Programmer. System Analyst melakukan analisa terhadap masalah dan kebutuhan organisasi dalam mengelola orang, metode, dan teknologi untuk mengatasi masalah tersebut. Programmer merencanakan keperluan penggunaan perangkat keras dan lunak yang sesuai dengan solusi yang direkomendasikan oleh System Analyst, dan memastikan kebenarannya sesuai dengan spesifikasi.

Tabel perbandingan System Analyst dan Programmer
Kriteria : System Analyst vs Programmer
Dominasi tugas : Analisa dan perancangan sistem vs Perencanaan dan pengkodean program
Partner Kerja : User, programmer vs System analyst

Bidang kerja Software Engineer meliputi bidang kerja System Analyst dan Programmer yaitu mencakup semua fase dalam software development life cycle: analisa sistem, analisa kebutuhan perangkat lunak, perancangan sistem, pembuatan dan perawatan perangkat lunak, ditambah dengan tugas dari manager proyek yaitu perencanaan dan pengelolaan proyek. Dari definisi ini jelas perbedaan antara ketiga pekerjaan di atas.

Infrastruktur yang perlu dipersiapkan untuk pengembangan profesi Software Engineer di Indonesia adalah:

• Lembaga pendidikan tinggi yang mengelola program studi Software Engineering: berarti perlu dibentuk badan khusus untuk merancang kurikulum program studi ini sesuai dengan definisi pekerjaan dan kebutuhan industri pemakai profesi ini. Oleh karena itu perlu dilibatkan para praktisi yang ada untuk memberi masukan yang pas.
• Industri yang mendukung pemakaian profesional Software Engineer: berarti pihak industri sudah harus bis membedakan antara berbagai profesi yang ada di area pengembangan perangkat lunak, sehingga bisa diketahui profesi mana yang sebetulnya dibutuhkan oleh pihak industri sendiri. Dengan demikian juga berarti bahwa profesi Software Engineer memang ‘exist’ sebagai profesi, bukan sebagai ciptaan pihak akademisi saja.
• Organisasi Profesi Software Engineer yang dikelola oleh para profesional: yang berperan untuk membantu para Software Engineer membuat definisi profesi, kebijakan etika profesi, dan sebagai komunitas yang mengkomunikasikan berbagai topik antar anggota.
• Tersedianya materi bacaan atau alat komunikasi yang membantu profesional Software Engineer memperbaharui pengetahuan dan ketrampilannya.

Keempat infrastruktur ini pembentukannya harus berjalan secara paralel, karena pengalaman di satu bagian akan bisa menjadi masukan perbaikan untuk bagian lainnya.